Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Melabrak


__ADS_3

Pada akhirnya Lydia berhasil meyakinkan Hadi. Kini perempuan kurus dan sedang hamil itu tengah duduk di dalam mobil, berbalut baju pasien dan ditutupi dengan jas besar. Jas milik Reino yang tertinggal di mobil.


Ini bukan mobil pribadi Reino, tapi salah satu mobil kantor yang tadi dia gunakan saat dari bandara. Sementara tadi, pria itu menggunakan mobil sang mama.


Lydia menghindu aroma yang ada pada jas itu. Walau merasa sakit hati, pada akhirnya Lydia masih amat sangat merasa nyaman dengan baru suaminya. Entah ini bawaan janin atau bukan, yang jelas Lydia merasa aman dilingkupi oleh aroma maskulin Reino.


“Anda yakin?” Hadi yang duduk di kursi penumpang depan kembali bertanya. Walau sedang tidak bisa menyetir, dia tentunya tak membiarkan Lydia pergi sendirian.


“Amat sangat yakin,” jawab Lydia dengan tatapan menerawang.


“Saya sudah memberitahu anda kalau ini bukan sesuatu yang perlu anda khawatirkan.” Hadi mendesah.


“Kalau begitu kenapa kau tidak mau bercerita?”


“Karna itu bukan kapasitas saya.” Hadi menjawab dengan tegas. “Mbak Lydia harus bertanya langsung pada Pak Reino.”


“Dia pasti akan berbohong.”


Jawaban Lydia itu membuat Hadi mendesah. Dia tak bisa lagi memberi nasihat kalau orang yang dinasihati tak mau mendengar. Tentu saja itu akan percuma.


“Baiklah, tapi sekali lagi saya ingatkan. Ini bukan hal yang perlu dipikirkan,” ucap Hadi sekali lagi, sebelum meminta mobil dijalankan.


Lydia hanya mengangguk. Dia kemudian memilih untuk menekuri ponselnya. Lebih tepatnya, mengirim pesan pada Erika.


[Lydia Andersen: Apa yang kau lakukan jika Kaisar selingkuh?]


Lydia berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengirim pesan itu. Rasanya tidak etis juga menyebut nama suami Erika dengan konotasi negatif, tapi dia ingin tahu pendapat temannya.


Erika tidak membalas pesang itu, tapi dia langsung menelepon. Untung saja perempuan itu masih bangun.


“Ada denganmu?” tanya Erika terdengar cemas.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.”


“Apa Reino selingkuh?”

__ADS_1


“Tidak.” Lydia menaikkan sekat mobil, agar Hadi tidak mendengarnya berbicar. “Lebih tepatnya aku belum tahu.”


“Kalau begitu coba katakan apa yang terjadi?” tanya Erika tentu saja ingin tahu.


“Tadi siang ada perempuan yang datang menjengukku. Dia berpikir Reino yang sakit.”


“Lalu?”


“Perempuan itu bilang kalau dia dia adalah ibu dari anak Reino. Mereka belum menikah, tapi sudah punya anak,” jawab Lydia jujur.


Sudah itu saja. Lydia tak lagi berbicara, walau sepertinya Erika masih menunggu kelanjutan ceritanya.


“Apa kau sudah menanyakan hal ini pada Reino?” tanya Erika mencoba untuk logis.


“Belum. Dia di luar kota dan baru pulang saat aku sudah tertidur, tapi kudengar dia pergi menemui perempuan itu.”


“Bagaimana kau tahu dia pergi menemui perempuan itu kalau kau tertidur?”


“Aku terbangun setelah dia pergi dan tidak sengaja mendengar percakapan telepon asistennya.”


“Dengar. Bisa saja yang ditemui suamimu bukan perempuan itu. Lagi pula, perempuan ... Siapa tadi namanya?”


“Aku belum menyebut namanya, tapi namanya Mary,” jawab Lydia terdengar tenang, namun sesungguhnya tidak.


“Bisa saja si Mary ini berbohong,” lanjut Erika menasehati. “Kau tidak punya bukti, Lyd. Mending bicarakan dulu dengan Reino deh.”


“Tapi nanti bisa saja Reino berbohong kan?” Lydia balik bertanya.


“Iya sih,” gumam Erika lirih. “Lalu kau mau bagaimana? Kita harus cari bukti dulu loh. Gak bisa langsung menyerang.”


Yang dikatakan Erika tidak salah juga. Mereka memang perlu mencari bukti karena itu sekarang Lydia ada di mobil. Dia pergi untuk menangkap basah suaminya .


“Aku sedang perjalanan ke tempat perempuan itu.”


“Eh? Kau mau langsung melabraknya?” Erika memekik.

__ADS_1


“Tidak. Aku akan menyeret Reino pulang kalau menemukannya di sana. Setelah itu baru aku akan bicara dengannya,” jawab Lydia yakin sekali.


“Bukannya kau sedang di rumah sakit? Bagaimana bisa keluar?” Erika terdengar panik.


“Tenang saja. Aku gak sendirian kok. Ada Pak Hadi yang menemani.”


“Tapi tetap saja, Lyd.”


“I’m fine. Anakku akan melindungiku,” jawab Lydia sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Baru juga Lydia ingin mengatur napas, dia sudah mendengar suara ketukan. Sepertinya mereka sudah sampai karena dari dalam, Lydia bisa melihat kalau mereka sudah dalam ruangan tertutup. Kemungkinan besar tempat parkir.


“Kita sudah sampai.” Hadi membukakan pintu.


“Di mana ini?”


“Hotel,” jawab Hadi sedikit ragu. Ini tentunya bukan jawaban yang ingin dengar. “Tapi sekali lagi, ini bukan sesuatu yang perlu anda pikirkan secara berlebihan.


Lydia mendesah. Bagaimana bisa dia tidak kepikiran kalau tempat bertemunya adalah di hotel? Apalagi setelah mendengar Hadi menyebut nomor kamar.


Jujur saja ini membuat Lydia mulas. Dia ingin melarikan diri, tapi juga ingin segera mengetahui dan mungkin mengakhiri hubungan ini. Entah hubungan Reino dan Mary atau hubungannya dengan Reino.


“Anda yakin?” tanya Hadi sekali lagi.


“Saya yakin Pak Hadi,” jawab Lydia dengan tatapan lurus ke depan. Melihat nomor kamar yang terpampang jelas di depannya.


“Kalau begitu saya akan mengetuk pintunya,” gumam Hadi dan segera diiyakan Lydia dengan anggukan kepala.


“Room service.” Hadi berteriak cukup kencang, memastikan suaranya terdengar ke dalam. Kebetulan ini cuma hotel kelas menengah yang belum terlalu kedap suara.


Butuh dua kali Hadi mengetuk pintu dan berteriak, sampai akhirnya pintu itu sedikit terbuka.


“Kau.”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2