
“Maaf, Pak. Ruangan ini tidak bisa asal dimasuki,” seorang pegawai club itu menghalangi para polisi yang berkerumun di depan pintu.
Yeah. Club malam yang tidak pernah dirazia polisi dan satpol pp, tiba-tiba saja didatangi. Parahnya mereka memaksa untuk memeriksa setiap ruangan yang ada, termasuk ruangan VVIP private yang disewa Reino.
“Buka saja. Kalau tidak kamu bisa kena masalah,” jawab salah seorang polisi.
“Maaf, Pak. Justru saya bisa kena masalah kalau anda memaksa,” pegawai itu meringis mendengar polisi tadi.
Dan yeah. Para kumpulan penegak hukum itu menerobos masuk begitu saja.
“Astaga!” teriak beberapa orang.
Reino yang mendengar suara itu, segera menarik Lydia ke pelukannya dan berbalik memunggungi orang-orang itu. Lydia yang terlambat sadar sempat melihat ke arah pintu dan langsung menyembunyikan wajahnya diceruk leher Reino.
Posisi yang dari awal bercinta dengan gaya misionaris, membuat Lydia memeluk Reino seperti koala dengan tubuh yang masih menyatu.
“Apa-apaan ini?” teriak Reino jelas sekali merasa marah.
“Maaf, Pak. Ada razia dan mereka memaksa masuk,” sahut pegawai club malam itu dengan wajah memelas. Dia pasti akan dihukum nantinya.
“Ini jelas-jelas zinah. Segera bubar dan ikut kami ke kantor polisi,” teriak seseorang tidak berani melirik ke dalam ruangan.
“Keluar sekarang,” teriak Reino membuat telinga Lydia berdengung.
Inginnya sih Lydia tenggelam saja di lautan. Kedapatan sedang berhubungan badan oleh orang asing benar-benar sangat memalukan. Karena itu Lydia tidak berani mengangkat wajahnya.
“Maaf, Pak. Tapi anda harus ikut den...“
“Apa kau baru saja mengatakan ingin melihat wanitaku dalam keadaan telanjang?” Reino kembali berteriak dengan tidak sabaran.
“Saya rasa mereka perlu privasi untuk berpakaian,” seru si pegawai club, membantu Reino.
Dengan raut wajah malu-malu, para polisi dan satpol pp segera menjauh. Mereka membiarkan si pegawai yang menutup pintu, setelahnya baru ditempatkan dua orang untuk menjaga di sana.
“Oh, Tuhan. Ini sangat memalukan,” bisik Lydia begitu pintunya tertutup.
__ADS_1
“Tidakkah ini justru menegangkan?” tanya Reino sembari mengecup kulit Lydia yang bisa dia jangkau.
“Mereka melihat tubuhku.”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Reino yang sama sekali belum selesai, kembali mengerjai Lydia. Dimulai dengan gigitan kecil di daun telinga lalu turun ke leher.
“Pak Reino. Kita harus segera berpakaian,” bisik Lydia lirih.
Gesekan antar kulit yang tercipta karena gerakan halus Reino, membuat Lydia mulai kembali bergairah. Belum lagi dengan kecupan-kecupan basah dan tubuh mereka yang menyatu di bawah sana.
Lydia bisa merasakan kedutan halus di bawah sana dan dengan sendirinya berusaha menggerakkan pinggulnya. Gerakannya halus, tapi cukup menstimulus.
“Oh, rupanya kau sudah tidak sabaran ya?” tanya Reino tuk kemudian kembali menghujam Lydia tanpa merubah posisi mereka.
Hujaman itu terasa makin intens karena posisi mereka dan membuat Lydia kewalahan. Terutama karena Reino berusaha menyelesaikannya dengan cepat.
***
Untung saja mereka berdua diizinkan naik mobil pribadi untuk ke kantor polisi. Lebih baik bersama Polar Bear di mobil dari pada bersama kawanan pasangan yang terciduk.
Kebalikannya dengan Lydia yang gugup, Reino terlihat sangat santai. Dia juga menekuri ponselnya, tapi tidak segugup Lydia. Apalagi, tidak seharusnya klub malam dan hotel sebesar itu kena razia. Sepertinya, ada obat terlarang yang membuat hal itu terjadi.
“Pak, ini sudah ketiga kalinya saya bertanya. Apa yang anda lakukan di tempat umum seperti tadi?” tanya seorang polisi.
“Kami mau ngapain saja dan di mana saja rasanya itu urusan kami. Masa iya pemerintah juga harus mengatur waktu dan tempat untuk berhubungan? Ini sudah saya jawab sebanyak 3 kali juga,” jawab Reino mendelik marah.
“Kalau begitu mana dokumen yang menyatakan anda suami istri?”
“Apa anda pikir saya akan membawa akta nikah ke mana-mana?” hardik Reino makin marah.
Lydia menoleh ke arah Reino. Dia cukup terkejut dengan kalimat pria itu yang seolah masih menyimpan akta perhikahan mereka yang lama. Andaikata kalimat tadi adalah bohong pun, Lydia tetap terkejut dengan cara Reino menyelesaikan masalah. Haruskah dia selalu mengakui Lydia sebagai pasangannya?
“Untuk hal itu kami sudah koordinasi dengan catatan sipil dan katanya anda berdua sudah pisah.”
__ADS_1
Jawaban dari pak polisi di depannya membuat Reino berdecak. Sialan juga para polisi ini sampai mengecek segala ke catatan sipil padahal hari sudah malam. Reino pikir tidak akan ada hal seperti itu.
“Kami berniat untuk rujuk,” cecar Reino tak sabaran dan jelas itu membuat Lydia mendelik.
Pak polisi yang mengintrogasi melirik ke arah Lydia. Wanita itu tidak punya pilihan lain selain mengangguk mengiyakan, diiringi senyum tipis. Lebih baik mengikuti permainan Reino saja untuk saat ini, apalagi Lydia tidak punya alasan lain. Dan syukurnya saja, Viktor datang tepat waktu untuk menangani masalah ini.
“Nah, itu pengacara saya sudah datang. Jadi silakan anda berbicara dengan dia saja.” Reino sudah berdiri dari kursi, tapi Viktor segera menahannya.
“Tidak semudah itu kabur dariku, Bung. Kau tahu apa yang harus kutinggalkan demi ini?” tanya Viktor dengan nada sebal.
“Dan kau pikir apa yang kutinggalkan demi datang ke sini?” tanya Reino lebih marah dari Viktor. “Aku tidak mau tahu, kau selesaikan ini.”
Setelahnya Reino segera meninggalkan lokasi. Dia juga tidak lupa menarik Lydia pergi dengannya, sampai wanita itu kewalahan mengikuti langkah panjang Reino.
Viktor mengumpat keras, tidak peduli posisinya ada di mana. Mau tidak mau dia terpaksa mengeluarkan kartu nama dan mengerjakan pekerjaannya sebagai pengacara. Dia yang belum tahu apa masalah Reino terkejut mendengar penuturan dari polisi.
***
“Pak Reino? Kita mau ke mana?” tanya Lydia dengan napas memburu akibat lari mengejar Reino.
Reino memang menggenggam tangan Lydia, tapi kecepatan langkah kaki jenjang itu benar-benar harus membuat Lydia berlari. Mana dia masih pakai kacamata hitam lagi.
“Pak tolong pelan-pelan. Saya kesusahan mengejar langkah Bapak,” teriak Lydia sekeras mungkin agar Reino mendengarnya. Dan berhasil.
Pria tinggi itu tidak menjawab, tapi dia menghentikan langkahnya. Geraman rendah terdengar dari sudut bibirnya.
“Maaf, Pak. Tapi itu saya perih dan tidak bisa berjalan cepat,” seru Lydia sambil meringis. “Bapak boleh duluan kok. Saya akan pulang sendiri.”
Reino langsung berbalik menatap Lydia dengan tatapan marah begitu mendengar kalimat terakhir dari asistennya itu. Dan hal itu membuat Lydia bingung karena dia tidak merasa mengucapkan sesuatu yang salah.
“Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin pulang?” hardik Reino terlihat sangat kesal.
“Bukankah urusan kita sudah diselesaikan oleh Pak Viktor?” jawab Lydia dengan pertanyaan lain.
“Urusan di kantor polisi sialan ini memang sudah selesai. Tapi tidak dengan kita. Kau pikir aku cukup dengan sekali bermain?” geram Reino yang membuat mata Lydia membulat.
__ADS_1
***To Be Continued***