
Lydia langsung menangis begitu melihat Reino datang. Wajah seram dan pistol yang mengacung, tidak membuatnya takut. Sebaliknya, Lydia merasa senang.
“Pak.”
Suara Hadi disertai suara tembakan membuat Lydia terlonjak. Rupanya Hadi berhasil menyelamatkan Rudi Wibisono dari kemungkinan cacat seumur hidup dengan mengarahkan pistol Reino ke atas.
“Lepas brengsek,” gertak Reino marah.
“Pak. Menembak sembarangan bisa membuat Bu Lydia jadi korban,” nasihat Hadi.
Dalam keadaan kalut seperti ini Hadi saja bingung dengan panggilannya pada Lydia, apalagi Reino. Pria itu tidak memperhatikan kalau Lydia berada tepat di belakang Rudi. Meleset sedikit saja, bisa jadi wanita itu yang kena.
Berhasil mendapatkan kembali kewarasannya, Reino mendorong Hadi dengan sikunya. Kemudian pistol itu diserahkan pada Hadi. Reino tidak mau kehilangan kendali dan asal menembak.
Para pengawal Reino yang sudah masuk sejak tadi, mengamankan Rudi dan menjauhkannya dari Lydia. Itu sedikit membantu Reino meredakan emosi.
Tanpa diperintah, Reino melepas jas yang dipakainya dan digunakan untuk menutupi tubuh Lydia yang terekspos. Setelahnya Reino baru membuka ikatan di pergelangan tangan dan kaki wanita itu.
Lydia memperhatikan setiap gerakan Reino yang terlihat sangat hati-hati. Entah kenapa kini tiba-tiba saja Lydia diserang rasa rindu.
Setelah Lydia terlepas dari ikatannya, barulah Reino memakaikan jasnya dengan lebih rapi. Reino memasukkan lengan kurus Lydia ke lengan jasnya yang besar itu, kemudian jas itu dirapatkan sehingga Lydia terlihat tenggelam.
Tatapan Lydia benar-benar tidak terlepas dari Reino bahkan sedetik pun. Reino juga akhirnya menatap manik mata Lydia setelah yakin jasnya sudah terpasang dengan benar.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Reino dengan kening berkerut. Dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak mencium Lydia.
“Aku takut,” bisik Lydia masih tidak bisa melepaskan tatapannya.
“Semuanya sudah selesai. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi,” Reino balas berbisik.
Lydia mengangguk pelan dan setelahnya, dia tidak bisa lagi menahan diri. Dia segera menyerbu ke pelukan Reino, memeluk pria itu dengan erat dan mulai terisak.
“Ssshh... Gak apa-apa. Semua sudah berakhir,” seru Reino berusaha menenangkan Lydia.
“Lydia?”
Suara Reino segera berubah panik ketika merasakan pelukan Lydia tiba-tiba saja terlepas. Wanita itu tiba-tiba saja pingsan.
***
Leo dan Clarissa berlarian di koridor rumah sakit. Mereka sudah mendapat nomor kamar menantu mereka dan kabar terbaru, tapi mereka tetap cemas.
“Reino?”
__ADS_1
Yang empunya nama langsung menoleh. Dia yang sedari tadi duduk di kursi dekat ranjang, berdiri menyambut kedua orang tuanya.
“Apa kata dokter?” tanya Leo terlihat masih cukup tenang dibanding Clarissa.
“Katanya baik-baik saja, tapi mereka sudah mengambil darah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Lydia lagi tidur sih, mungkin karena kelelahan dan stres.”
Clarissa mengangguk mengerti dengan penjelasan Reino. Setidaknya tidak akan ada masakah yang terlalu serius dengan mantunya itu.
Leo yang ingin tahu kronologisnya pun bertanya dan Reino menjelaskan dengan detil. Dia sama sekali tidak malu harus mengungkap kalau pernah jadi selingkuhan seseorang.
“Astaga Rei.”
Clarissa yang semula duduk di sofa, segera berdiri dan mendekati anaknya. Dengan perasaan gemas, kesal, malu dan marah bercampur jadi satu, Clarissa memukuli anaknya bertubi-tubi.
“Bisa-bisanya kamu jadi selingkuhan orang,” teriak Clarissa benar-benar marah.
“Auw. Mana aku tahu, Ma. Aduh..”
“Makanya Mama bilang dari dulu berhenti main-main dengan perempuan,” hardik Clarissa belum puas memukuli anaknya.
“Untung saja masih ada perempuan baik-baik yang mau sama kamu,” hardik Clarissa menyudahi pukulannya.
Reino meringis sambil mengusap lengannya yang kena pukul. Tenaga Clarissa memang tidak seberapa, tapi kalau dilakukan terus-terusan kan sakit juga.
“Kamu melaporkannya ke polisi?” tanya Leo masih tenang saja.
“Lalu apa kamu sudah memberitahu orang tua Lydia? Mereka mungkin di luar negeri, tapi kamu harus memberitahu.”
Kalimat yang dilontarkan oleh Clarissa itu membuat Reino tercekat. Dia melupakan kebohongan yang dulu pernah dikatakannnya pada kedua orang tuanya.
Dulu Reino mengatakan hanya menikah dicatatan sipil. Dia juga mengatakan kedua orang tua Lydia jadi TKI entah di negara mana. Tapi pada kenyataannya Reino sama sekali tidak mengenali mantan mertuanya.
Baru belakangan ini Reino tahu kalau ternyata Lydia adalah anak yatim. Itu pun Reino belum pernah melihat ibu Lydia secara langsung. Jangankan melihat, nomor teleponnya saja tidak tahu.
“Reino? Sudah dikasih tahu belum?” tanya Clarissa sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
“Ah, itu...”
Clarissa mengangkat tangan meminta Reino berhenti bicara karena ponselnya berbunyi. Reino langsung menghembuskan napas lega karena ibunya terdistraksi. Setidaknya dia masih punya waktu untuk mengarang cerita.
Reino makin senang ketika Clarissa pamit untuk menelepon di luar. Dan bersamaan dengan itu, Reino bisa mendengar suara lenguhan dari arah ranjang.
“Lydia? Sayang? Kamu sudah bangun?” tanya Reino basa-basi saja.
__ADS_1
Walau baru bangun dan masih belum sadar seratus persen, Lydia bisa mendengar dengan jelas pertanyaan Reino dan itu membuat keningnya berkerut.
Apa katanya tadi? Sayang? Dan tadi Reino menggunakan kata ‘kamu’ bukan ‘kau’? apa tadi Reino sempat terbentur dan otaknya agak geser?
“Kamu baik-baik saja?” Reino bertanya sekali lagi dengan nada khawatir.
“Oh, iya. Aku sepertinya baik-baik saja,” jawab Lydia mengangguk pelan. “Cuma sepertinya agak lapar.”
“Kalau begitu mau makan apa? Biar aku meminta Hadi untuk membelikan makanan.”
Reino dengan sigap mengeluarkan ponselnya, sudah bersiap untuk menelepon. Tapi rupanya Lydia bersedia makan apa saja.
“Makanan dari rumah sakit saja. Untuk sementara itu cukup kok.”
“Yakin?” tanya Reino tidak puas dengan jawaban Lydia.
“Amat sangat yakin. Makanan dari rumah sakit sudah ada kan? Atau malah gak ada karena sudah kemalaman?” tanya Lydia menatap jam dinding yang ada di kamar rawat inapnya yang luas.
“Oh, biar kutanyakan dulu.”
Reino segera beranjak dari sisi ranjang untuk pergi ke luar bertanya pada perawat. Meninggalkan Lydia dengan mantan ayah mertuanya. Dan itu membuat Lydia canggung.
“Maaf.”
“Hah?” seru Lydia kaget karena Leo meminta maaf.
“Gara-gara Reino kamu sampai diculik,” seru Reino dengan ekspresi biasa saja.
“Ah, itu. Gak apa-apa kok, Pa. Lydia bisa memaklumi.”
“Kamu sudah menghubungi orang tuamu?” tanya Leo masih dengan ekspresi yang sama.
“Ah, soal itu... “
Lydia tidak menyelesaikan kalimatnya karena mendengar suara pintu yang terbuka, disertai dengan suara Clarissa. Ibu mertua pura-puranya itu seperti sedang berbicara dengan seseorang.
“Katanya sih gak apa-apa, tapi mau tunggu hasil lab dulu. Nah, itu anaknya sudah bangun,” seru Clarisas dengan senyum merekah ketika melihat Lydia.
Awalnya Lydia ikut tersenyum, tapi senyuman itu segera hilang begitu melihat siapa yang menemani Clarissa bicara tadi. Liani muncul dari belakang Clarissa, disusul dengan Kenzo.
“Ma... Mama?”
“Lydia. Katanya karena jam makan sudah..”
__ADS_1
Reino yang baru masuk setelah bertanya pada perawat langsung terdiam melihat dua orang yang menjadi tamu Lydia. Dia mengenali dua orang itu sebagai ibu dan adik kandung Lydia.
***To Be Continued***