
Geraman rendah terdengar di sela-sela bibir Reino. Kesabarannya sudah nyaris habis, tapi perempuan di depannya ini masih menolak? Apa dia sudah bosan hidup?
Marah? Tentu saja Reino Andersen amat sangat marah. Bukan hanya sekedar marah, tapi egonya juga benar-benar tersentil. Ditolak berkali-kali membuat harga dirinya terluka.
Tapi Reino tetaplah seorang pria gentleman. Dia tidak pernah memaksa wanita untuk tidur dengannya. Walau sebenarnya para wanita yang kadang memaksanya.
Dengan amat sangat pelan karena berusaha menahan emosi, Reino menjauhi Lydia. Pria itu langsung berbalik kembali ke meja kerjanya. Bukan untuk duduk, tapi berdiri membelakangi Lydia.
Reino masih berusaha menahan emosi, ketika mendengar suara pintu terbuka. Dan setelah pintunya menutup, barulah dia mengamuk.
Dipukulnya dinding yang dekat sekali dengan jendela kaca di depannya. Pukulan yang sangat keras karena kaca itu seolah bergetar. Dinding hang terbuat dari batu itu wallpapernya bahkan sampai rusak dan ada darah menodainya.
“Sialan,” umpatnya dengan suara keras.
Sementara Reino mengamuk dengan dinding dijadikan samsak, Lydia yang tadi keluar ruangan dengan perlahan dan wajah pucat segera berlari ke toilet. Dia masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan menguncinya, sebelum duduk di atas penutup kloset duduk.
Napas wanita itu masih memburu, pun dengan degupan jantungnya yang bertalu. Lydia mengatupkan sebelah tangan di mulutnya dan yang satu lagi menekan di dada. Kedua tangannya bergetar. Dia ketakutan.
“Oh, Tuhan,” gumamnya dengan suara serak.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Lydia pada dirinya sendiri dengan suara lirih.
Lydia sebenarnya sadar dan tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak berbicara. Dia dan Reino baru saja berciuman. Dan untuk pertama kalinya, Lydia merasa terbuai dan ingin membalas.
Dia ingat saat bibirnya dan bibir Reino bersentuhan, perlahan rasa takutnya menghilang. Rasa takut itu baru kembali lagi setelah pria yang menciumnya menggeram marah.
“Untung dia tidak memaksa atau memukuliku,” batin Lydia penuh syukur.
Tapi yang jadi masalah sekarang, bagaimana nantinya Lydia bekerja? Pasti mood Reino sedang jelek dan Lydia pasti tidak akan bisa tenang bekerja dalam suasana seperti itu.
“Apa aku izin pulang saja?” gumam Lydia pelan, tapi dia kemudian menggeleng keras.
__ADS_1
Apa pun yang terjadi, Lydia tidak boleh pulang. Dia punya utan ratusan juta pada Reino yang harus dibayar. Dan Lydia akan membayarnya dengan cara yang halal.
Lima belas menit. Itu adalah waktu yang diperlukan Lydia menenangkan diri di toilet. Setelahnya dia membasuh wajah dengan air dari kran.
“Oke. Kamu bisa melakukan ini Lyd. Walau menakutkan kamu punya utang padanya.”
Setelah meyakinkan diri berulang kali di depan cermin toilet, Lydia akhirnya memberanikan diri untuk melangkah keluar. Dengan langkah yang diusahakan setegas mungkin, Lydia mendatangi ruangan Reino.
“Keluar sekarang juga *****,” teriakan Reino terdengar menyentak Lydia yang baru membuka pintu.
Lydia sempat melihat sedikit pemandangan di dalam ruangan itu. Seseorang yang terlihat seperti Thalita sedang duduk di atas meja dengan baju berantakan, sementara Reino berdiri di depannya.
“Oh, maaf.” Lydia langsung berbalik dan menutup pintu dengan keras. Tidak sengaja sebenarnya, tapi tetap saja membuatnya meringis.
Dengan langkah gontai, Lydia berjalan ke arah pantry. Dia menarik kursi yang ada di sana dan menghempaskan bokongnya yang tipis di sana.
Mata dan bibir Lydia terbuka, mencerna apa yang baru saja dia saksikan. Reino si Polar Bear sialan itu, memintanya tidur bersama seolah sangat menginginkan dirinya. Tapi apa itu tadi? Dia masih mengajak Thalita bermain.
“Apa-apaan itu?” desisnya marah. Bahkan kepalan tangan kurusnya menghantam meja. “Dasar brengsek. Penjahat kelamin kurang ajar. Manusia....“
Lydia segera menghentikan umpatannya begitu mendengar suara pintu terbuka. Dia yang tadinya berdiri dengan wajah berang dan tangan memukul-mukul meja, langsung pura-pura mencari minuman di kulkas.
“Dasar manusia pengganggu sialan.”
Gumaman kasar Thalita membuat Lydia langsung berbalik. Dia cukup kaget karena belum juga lima menit berlalu, tapi Thalita sudah lumayan rapi dan berada di pantry.
“Oh, udah selesai? Cepat banget? Gak bisa memuaskan ya?” tanya Lydia tidak menutupi kejengkelannya.
Dan rasanya apa yang dia katakan juga tidak salah. Lima belas menit di toilet dan 5 menit di pantry. Gak mungkin kan mereka sudah selesai hanya dalam waktu 20 menit kan?
Foreplay aja butuh puluhan menit. Belum buka baju dan lain sebagainya. Mana Thalita kalau berjalan lambat lagi. Lambat karena terlalu banyak gaya.
__ADS_1
Yah, kecuali kalau Polar Bear brengsek itu langsung main jebol saja lain ceritanya. Dua puluh menit jelas lebih dari cukup. Setidaknya itu yang Lydia pahami setelah membaca artikel dari dokter kenamaan itu.
“Enak aja gak bisa memuaskan. Aku kan gak rata sepertimu,” geram Thalita marah.
“Oh, kalau begitu bosmu lemah syahwat kali,” balas Lydia tidak peduli lagi. Dia yang jarang marah, kini rasanya ingin menumpahkan segala kekesalannya.
Sebelah alih Lydia terangkat ketika Thalita tidak menjawab hinaannya tadi. Yang dihina bukan Thalita sih, tapi biasanya wanita itu selalu memuja dan membela Polar Bear Sialan itu.
“Dasar sesama penjahat kelamin,” gumam Lydia berjalan melalui Thalita.
“Eh, siapa yang kamu maksud dengan penjahat kelamin? Aku gak pernah ya melakukan kekerasan seksual,” teriak Thalita melupakan dirinya sedang berada di lingkungan kantor.
Dari kejauhan Lydia masih bisa mendengar suara teriakan itu. Dia tentu saja tidak peduli. Yang Lydia pedulikan saat ini hanyalah bagaimana cara menghadapi Reino Andersen selama jam kerja.
Disertai dengan hembusan napas kasar, Lydia mengetuk pintu dan segera membuka pintu ruangan atasannya itu. Reino sudah terlihat sibuk dengan berkas, tapi aura dinginnya masih terasa.
Menakutkan sih, tapi mengingat kejadian dengan Thalita tadi membuat Lydia berdecih. Dia merasa amat sangat terhina karena disamakan dan diperlakukan sama dengan wanita murahan yang bisa dipakai kapan pun.
“Apa kau baru saja menghinaku?” tanya Reino yang rupanya mendengar decihan Lydia.
“Tidak, Pak,” jawab Lydia dengan wajah datarnya.
Lydia yang sudah duduk di mejanya kini berusaha menyibukkan diri. Lebih baik melupakan hal yang mengotori matanya tadi. Intinya Lydia akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mempedulikan Reino, jika tidak menyangkut dengan pekerjaan.
“Ah ya, Pak Reino,” Lydia baru saja mengingat hal yang seharusnya dia ucapkan sedari tadi. Yah, walau dia masih yakin Reino juga terlibat.
“Terima kasih atas bantuannya soal utang saya. Akan saya pastikan untuk membayar semuanyanya sampai lunas dan anda bisa memotong gaji saya untuk itu.” Lydia menjeda untuk menarik napas.
“Sekali lagi saya sampaikan. Saya bukan Thalita yang bisa anda pakai seenak hati. Saya hanya seorang manusia biasa dengan ego dan harga diri tinggi. Jadi saya akan berusaha sebaik mungkin membayar utang dengan cara yang halal."
"Walau itu mungkin membuat saya harus menggembel dan membutuhkan waktu seumur hidup," lanjut Lydia sebelum akhirnya pergi.
__ADS_1
***To Be Continued***