Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Masa Lalu


__ADS_3

“Mama dari mana saja?” tanya Reino dengan mata menyipit curiga.


“Dari kantin rumah sakit lah. Memang mau dari mana lagi?” tanya Liani terlihat sedikit gugup.


“Terus Pak Hadi mana?” Kini giliran Lydia yang bertanya.


“Oh, Mama gak tahu sih. Tadi kami pisah soalnya. Dia sempat pergi nerima telpon.” Liani menjawab di bawah tatapan menelisik Reino.


Perempuan yang tadi menjawab telepon Hadi belum sempat menjawab pertanyaan Reino, saat ponsel itu sudah kembali ke pemiliknya. Walau Hadi sudah mengatakan kalau yang mengangkat adalah saudaranya, tapi Reino tetap curiga.


Rasanya Reino ingin bertanya, tapi dia tak tahu harus bertanya seperti apa. Lagi pula rasanya akan lebih mudah untuk menindas Hadi.


“Maaf saya lama baru kembali.”


“Panjang umur sekali.” Reino membalas Hadi yang baru saja masuk. “Aku baru saja memikirkanmu.”


“Memikirkan saya?” tanya Hadi terlihat sedikit horor. Tentunya dia berpikir yang aneh-aneh.


“Memikirkanmu kenapa lama sekali datang. Dan siapa pula yang mengangkat telponmu tadi?” Reino yang masih penasaran bertanya.


“Oh, itu. Tadi saudara sepupu saya datang menjenguk. Kami kebetulan bertemu di bawah dan saya sempat menitipkan ponsel padanya saat ke toilet.”


Hadi yang menjelaskan panjang lebar, tapi kenapa Liani yang terlihat gugup? Bukan hanya Reino yang menyadari itu, tapi juga Lydia. Lydia bahkan sudah hampir bertanya, andaikata sang mama tidak buru-buru pamit pulang.


“Aku merasa Mama agak aneh deh belakangan ini,” gumam Lydia setelah Liani pergi.


“Aneh bagaimana?” tanya Reino yang diikuti dengan lirikan penasaran Hadi.


“Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta.”


Dua pria di depan Lydia itu menaikkan alis nyaris bersamaan. Tentu saja kaget karena Lydia bisa membaca gelagat aneh ibunya. Padahal Reino saja baru curiga setelah ada perempuan yang mengangkat telepon tadi.


“Aku juga gak yakin sih, tapi gelagat mama seperti itu.” Lydia mengedikkan bahunya. “Anyway, lupakan saja itu. Sekarang soalnya aku sedang ingin makan es krim.”

__ADS_1


***


Lydia merasa lebih lega. Setelah Pak Fendy dan istri ditangkap, dia merasa lebih tenang. Setidaknya orang yang hendak mencelakai dirinya dan sang suami sudah ditangkap. Namun siapa yang menyangka kalau ternyata Pak Fendy lebih dari sekedar mencelakakan dirinya.


Setelah ditangkap polisi Pak Fendy mengakui semua dosanya. Termasuk menggelapkan dana perusahaan dan melakukan beberapa kecurangan. Beberapa masalah di kantor, rupanya ulah Pak Fendy yang ingin menggulingkan Reino. Dia ingin membuat Reino seolah tak becus bekerja, agar bisa diangkat jadi CEO.


“Aku tidak percaya ini. Padahal selama ini aku berpikir dia baik,” keluh Lydia pada teman-temannya yang hari ini datang menjenguk.


“Ya. Aku juga tidak menyangka kalau kekacauan di kantor karena ulah dia,” Kiara menimpali.


“Dan dia membuat kita semua kesusahan karena ulahnya. Bayangkan apa yang terjadi tahun lalu saat Pak Reino baru naik jabatan. Kita bagian keuangan dibuat kewalahan karena dana tak jelas itu.” Revan ikut-ikutan mengeluh.


“Sudahlah mending lupakan saja itu semua.” Kiara mengibaskan tangan ke udara. "Kita ke sini untuk menjenguk orang sakit, bukan untuk membicarakan pekerjaan.”


“Jadi bagaimana keadaanmu?” tanya Revan sungguh prihatin.


“Aku baik-baik saja. Cuma ya gitu deh.” Lydia mengedikkan bahu dengan santainya. “Disuruh bedrest dulu.”


“Apa kau gila?” Kiara menghardik rekan kerja prianya itu. “Dia jatuh dari tangga. Bagaimana itu bisa disebut sedikit tergoncang?”


Lydia tidak bisa tidak terkikik mendengar pertengkaran 2 orang rekan kerjanya itu. Terutama karena ekspresi keduanya terlihat sangat lucu. Sayangnya hiburan itu sudah harus berakhir dengan cepat. Kiara dan Revan sudah harus pulang karena hari sudah mulai malam dan Lydia harus istirahat.


Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu, tapi Lydia merasa sedikit kesepian. Mama mertuanya yang harusnya sudah datang, terjebak macet dan membuat Lydia sendirian di kamar.


“Padahal biasanya aku tidak masalah ditinggal sendirian, tapi kenapa sekarang rasanya gak nyaman banget ya?” gumam Lydia seorang diri. “Mana Reino juga harus keluar kota.”


Lydia ingin menyalahkan suaminya, tapi tidak bisa. Dia tahu Reino pergi demi pekerjaan penting dan tak bisa ditunda lagi, pun tak bisa diserahkan pada orang lain. Untungnya kesunyian itu berlangsung tidak terlalu lama.


“Masuk.” Lydia menyahut ketika mendengar suara ketukan di pintu.


“Oh, maaf. Sepertinya saya salah kamar ya.” Seorang perempuan cantik menyahut ketika melihat Lydia.


“Memangnya cari siapa ya, Mbak?” tanya Lydia mencoba untuk sopan.

__ADS_1


“Saya mencari Reino, tapi sepertinya salah kamar.”


“Apa yang dimaksud Reino Andersen?”


“Eh, Mbak kenal?” Perempuan tak dikenal itu terlihat terkejut.


“Ya, saya kenal,” jawab Lydia sambil menatap perempuan tadi dengan tatapan bingung. Entah kenapa perasaannya tidak enak.


“Ah, jangan-jangan bukan Reino yang dirawat ya?” tanya perempuan itu dengan raut wajah lebih tenang. “Tadi pagi waktu datang ke rumahnya satpam mengatakan kalau Reino ke rumah sakit. Aku pikir dia yang kenapa-kenapa, rupanya ada anggota keluarga yang dirawat toh.”


“Saya bukan orang aneh kok. Saya juga dapat nomor kamar ini dari satpam yang ada di rumah,” lanjut perempuan itu menjelaskan lebih detil.


Perempuan yang terlihat sangat cantik dengan rambut pirang itu masuk dengan senyuman yang lebih cerah. Rambutnya terlihat diikat berantakan dengan wajah tanpa make-up, tapi dia masih sangat cantik. Terutama dengan tubuhnya yang sangat proprosional itu.


Perpaduan yang membuat Lydia minder dengan dirinya sendiri dan makin membuatnya tidak nyaman. Bahkan jantungnya sampai berdebar tak karuan karena merasa ada sesuatu yang salah dengan perempuan yang terlihat baik itu.


‘Dari mana perempuan secantik ini kenal dengan Reino?’ batin Lydia penuh dengan pikiran negatif.


“Kalau boleh tahu kamu keluarganya Reino yang mana ya?” tanya perempuan itu masih dengan senyum cantiknya.


“Maaf, tapi sebelum menjawab itu ... Anda siapa ya?” Lydia balas bertanya.


“Oh, astaga maaf. Saya lupa memperkenalkan diri. Kamu pasti bingung.” Perempuan itu langsung mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


“Mary,” gumamnya percaya diri.


Lydia meraih tangan itu dengan ragu-ragu, sebelum menyebut namanya sendiri. Dia masih belum menjawab pertanyaa Mary sebelum ini dan menunggu perempuan itu terlebih dulu memperkenalkan diri lebih jauh lagi.


“Ini sebenarnya agak memalukan dan saya tidak tahu apakah kamu sudah tahu atau tidak,” Mary melanjutkan dengan sedikit canggung dan jujur saja itu membuat Lydia makin tidak tenang. Rasanya seperti akan ada palu godam keluar dari mulut Mary untuk memukulnya.


“Walau kami belum menikah, tapi saya ibu dari anaknya Reino. Anak lelaki kami sudah berumur 1 tahun dan tentu saja kami akan segera menikah dalam waktu dekat ini.”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2