Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

“Sorry?” tanya Reino sedikit terkejut.


Reino sudah tahu kalau Pak Fendy akan mencuranginya, tapi tak menyangka akan seperti ini. Awalnya dia pikir, Pak Fendy akan menggunakannya untuk mencairkan uang perusahaan dalam jumlah besar. Ternyata dia jauh lebih rakus.


“Ah, soal itu Papa tidak perlu khawatir.” Reino akhirnya berbicara. “Itu tidak akan pernah bisa terjadi.”


“Bagaimana bisa tidak mungkin terjadi?” hardik Leo jelas makin marah. “Ada tanda tanganmu di sana.”


“Coba perhatikan baik-baik tanda tangannya.” Reino kesal juga harus menjelaskan dengan detil. Dia memang tidak punya stok sabar yang cukup.


Sang ayah terdiam beberapa saat. Dia mungkin sedang meneliti tanda tangan anaknya, sebelum akhirnya mendesah pelan. Tanda tangan yang dibubuhkan bukan tanda tangan Reino yang asli.


Tanda tangan Reino sebenarnya cukup simpel. Dia hanya menuliskan inisial nama depan ditambah dengan nama belakangnya secara lengkap.


R.Andersen.


Harusnya seperti itu, tapi Reino melakukan sedikit perubahan. Bukan Andersen yang dia tulis, tapi Anderson. Hanya berbeda satu huruf, tapi tentu saja itu sudah tidak sah di mata hukum.


“Dia berniat menipuku, tapi Lydia menemukannya duluan. Jadi yah, aku palsukan saja tanda tanganku sendiri,” Reino kembali menjelaskan. Dia malas, tapi tetap harus dijelaskan juga agar bisa dimengerti.


“Ada apa? Pak Fendy sudah bertindak?” tentu saja Lydia bertanya setelah suaminya selesai menelepon.


“Ya dan walau aku enggan meninggalkanmu, tapi sepertinya harus. Papa tetap memintaku kembali ke kantor mengurusi Pria Tua Brengsek itu, sementara Papa menggantikanku pergi meeting.”


“Hush, Rei.” Clarissa langsung memukul tangan putranya begitu mendengar umpatan kasar. “Sudah mau jadi bapak, tapi mulutnya kasar sekali.”


Kali ini Reino tidak bisa membalas karena semua orang memelototinya. Padahal anak dalam perut istrinya itu jelas masih belum bisa mendengar karena baru berusia hampir 2 bulan. Namun mana bisa dia melawan 3 orang wanita di dalam ruangan itu? Alhasil Reino segera pamit, agar tidak diceramahi lagi.


Setelah pria itu pergi, Lydia mulai ditanyai soal Pak Fendy. Tentu saja dia bercerita dengan lengkap. Lydia ingin semua orang tahu kalau Pak Fendy yang notabene orang kepercayaan itu, ternyata pengkhianat yang tak tahu terima kasih.


“Astaga! Dia seperti itu?” tanya Clariss sama sekali tidak percaya.


“Ya. Buktinya tadi Reino ditelepon Papa karena dia melakukan sesuatu kan?”


“Aku mendengar sesuatu tentang pemindahan saham?” Liani juga ikut berkomentar.


“Wah, dia sudah melakukan sampai sejauh itu?” tanya Lydia menggelengkan kepala. “Kalau seperti itu, artinya dia sudah merencanakan ini sejak lama.”


Clarissa sudah ingin mengumpat, tapi untungnya bisa menahan diri. Dia ingin mengomel lagi, tapi tidak jadi karena mendengar pintu ruangan diketuk dan langsung terbuka setelahnya.

__ADS_1


“Oh, maaf. Apa saya mengganggu?” Hadi muncul dari balik pintu dengan baju pasien rumah sakit dan tangan dibebat


“Sama sekali tidak. Justru kami khawatir dengan keadaan kamu.” Bukan Lydia yang menjawab, tapi Liani.


Lydia sampai bingung melihat ibunya yang terlihat sedikit lebih antusias itu. Belum lagi Liani menggunakan kata ‘kamu’ untuk memanggil Hadi, sedangkan pria itu memanggil ‘mbak.’


Sebenarnya itu panggilan yang lumrah, tapi sejak kapan mereka seakrab itu sampai panggilannya seperti itu? Soalnya seingat Lydia, sebelumnya sang mama dipanggil ‘Bu Liani’ oleh Hadi.


“Perasaanku saja atau kalian berdua memang jadi lebih akrab?” Lydia tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak bertanya.


“Masa sih?” Liani langsung menjawab dengan sedikit gugup. “Rasanya biasa saja.”


“Ya. Saya rasa itu hanya perasaan Mbak Lydia,” sambung Hadi terlihat lebih tenang.


“Sudahlah. Tidak perlu membahas itu dulu.” Clarissa segera menengahi. “Sekarang untuk apa Hadi ke sini?”


“Ah, iya. Saya sampai lupa.”


Hadi yang memegang tablet dengan sebelah tangannya yang sehat, mendekat. Pria itu menarik meja yang biasa digunakan untuk makan di atas tempat tidur, agar bisa dijadikan alas tablet. Itu dia lakukan agar semua orang bisa melihat dengan nyaman.


“Saya sudah menemukan pelaku yang mendorong Mbak Lydia dari tangga. Mungkin perlu dikonfirmasi dulu.” Hadi terlebih dulu menjelaskan, sebelum memutar ulang rekaman CCTV.


Sesuai dengan yang sudah Hadi beritahukan pada Reino, tak ada yang bisa dilihat saat Lydia keluar dari toilet. Kamera sama sekali tidak menyorot tempat itu demi kenyamanan, namun menyorot pintu tangga darurat dengan jelas.


“Rasanya aku pernah bertemu dengan orang ini,” gumam Lydia tidak yakin. “Apa tidak ada yang mukanya terlihat?”


“Ada, tapi hanya sekilas saja. Dia terburu-buru saat melarikan diri, jadi gambarnya agak buram. Tapi tenang saja, kami menemukan gambar saat di lift.”


Hadi mengutak atik tabletnya dan memperlihatkan kamera yang ada di lift. Dia juga menunjuk orang yang dimaksud dan langsung membuat Lydia memekik.


“Ah, itu orang yang bicara denganku di toilet.”


“Boleh tahu percakapan seperti apa?” tanya Hadi terlihat serius.


“Aku sempat mengatakan soal modus penipuan Pak Fendy.” Lydia meringis ketika mengatakan itu. Rasanya dia sudah bisa menebak siapa orang yang mendorongnya.


“Itu adalah istrinya Pak Fendy.” Kalimat Hadi membuat asumsi Lydia jadi kenyataan.


***

__ADS_1


Reino tiba kembali di kantornya dengan wajah masam. Dia sudah mendapat laporan lengkap dari Hadi lewat telepon dan itu yang membuatnya marah. Orang-orang yang berpapasan dengannya saja bisa merasakan aura kemarahan itu. Mereka jadi enggan mendekat.


Pria pemarah itu langsung menuju ke kantor Pak Fendy. Dia tentu saja tidak bisa membiarkan pria tua bangka itu begitu saja, terutama karena istri Pak Fendy membuat masalah.


“Selamat sore Pak Fendy.” Reino membanting pintu ruangan wakilnya, sambil menyapa.


“Pak Reino? Apa yang membuatmu tiba-tiba datang tanpa mengetuk pintu?” tanya Pak Fendy dengan senyum semringah.


“Sangat tidak sopan,” tambah sang istri dengan sombongnya. Mereka merasa sudah menang.


“Perlukah aku memberitahumu tujuanku ke sini?” tanya Reino penuh penekanan.


Pria blasteran itu tanpa tahu sopan santun duduk di atas meja kerja Pak Fendy, membelakangi yang empunya meja. Persetan dengan sopan santun jika 2 orang itu sudah nyaris membunuh istri dan anaknya.


“Ah. Apa anda sudah tahu soal pemindahan saham itu?” tanya Pak Fendy masih bisa tersenyum. “Yah, walau belum benar-benar resmi, tapi jelas saya sekarang bisa dibilang pemegang saham mayoritas.”


“Apa kau dungu?” tanya Reino dengan dengkusan geli. “Kau pikir aku mudah tertipu?”


“Apa maksudnya itu?” tanya istri Pak Fendy sedikit panik.


“Perhatikan lagi tanda tanganku pada berkas itu.”


Kalimat bernada mengejek itu membuat tangan Pak Fendy bergerak cepat. Dia memeriksa salinan dokumen yang baru saja dia cetak, terutama di bagian tanda tangan.


“Bagaimana bisa?” gumamnya dengan wajah pucat.


“Sudah lihat kan?” tanya Reino dengan senyum miring. “Itu bukan tanda tanganku”


Istri Pak Fendy yang tidak percaya dengan kalimat Reino, merampas kertas yang dipegang sang suami. Dia meneliti bagian tanda tangan dan langsung memucat setelahnya. Dia yang tahu nama panjang Reino jelas saja langsung mengetahui apa yang salah.


“Kasus penipuan dan percobaan pembunuhan. Kira-kira kalau hukuman penjara dapat berapa tahun ya?” tanya Reino dengan senyum miring dan menghina.


“Apa yang anda maksud dengan percobaan pembunuhan?” tanya Pak Fendy dengan gugup.


“Istriku didorong dari atas tangga.” Reino tidak masalah menjelaskan. “Kebetulan kamera pengawas menyorot ke arah pintu darurat dan masih banyak juga kamera pengawas di gedung ini.”


“Apa menurutmu aku tidak akan menemukannya?” Reino bertanya dengan senyum riang yang cenderung menyeramkan.


“Tolong jangan melapor ke polisi,” pinta istri Pak Fendy ketakutan.

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Aku lebih suka menyelesaikan ini sendiri.” Reino tersenyum makin lebar.”


***To Be Continued***


__ADS_2