Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Mengejar Hadi


__ADS_3

Lydia menatap Pak Hadi dengan tajam. Ibu hamil itu sudah beberapa menit seperti itu dan membuat Pak Hadi jadi salah tingkah. Bahkan Reino pun jadi agak salah tingkah.


“Anu, Mbak. Ada apa saya tiba-tiba dipanggil?” tanya Hadi merasa sudah terlalu lama berdiri di depan kedua bosnya.


“Apa kau sudah bosan hidup?” Lydia bertanya dengan nada ketus.


“Tentu saja saya masih ingin hidup karena saya akan menikah sebentar lagi,” jawab Hadi tanpa berpikir.


“Ya, itu. Kau kan sudah akan menikah, jadi kenapa membuat ibuku hamil di luar nikah?” Lydia menghardik dengan nada yang masih sama kesalnya.


“Oh? Apa Liani sudah melakukan tes?” tanya Hadi tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Tunggu dulu.” Tiba-tiba saja Reino menyela. “Maksudmu Mama Liani hamil?” tanya lelaki itu dengan mata melotot.


“Maksudnya kau akan punya adik lagi?” Reino kembali bertanya setelah istrinya mengangguk. “Anak dari Hadi?”


Suara Reino makin lama makin membesar. Dia sungguh amat sangat terkejut mendengar berita yang baru saja dia dengar itu dan ini jelas tidak menyenangkan. Punya mertua Hadi saja sudah menyebalkan.


“Setahu saya, Liani belum melakukan tes dan itu berarti belum tentu dia hamil.” Pak Hadi menjawab dengan tenang.


Mendengar pengakuan itu, Lydia mendengkus kesal. Dia sungguh ingin memaki pria yang akan jadi ayah sambungnya itu, tapi berusaha menahan diri.


“Awas, ya. Aku tidak mau punya adik yang seumuran atau lebih muda dari anakku.” Akhirnya, hanya itu yang bisa dikatakan Lydia.


Yang diminta Lydia ini memang termasuk egois. Dia juga sadar itu, tapi masih saja tidak ingin punya adik yang seumuran atau lebih muda dari anaknya sendiri. Itu memalukan.

__ADS_1


Bahkan Reino yang paling menyebalkan pun merasakan hal itu. Dia merasa kalau kali inu Lydia agak berlebihan. Mereka kan tidak bisa apa-apa kalau Liani memang sungguh sudah hamil. .


“Sayang.” Reino memanggil istrinya ketika tinggal mereka berdua saja di dalam kamar.


“Apa?” salak Lydia yang tidak memindahkan fokusnya dari ponsel. Dia sedang berkirim chat dengan teman-temannya.


“Lagi ngapain sih?” tanya Reino sambil mengintip ke arah ponsel istrinya.


“Lagi mencari petunjuk soal mama. Siapa tahu saja aku mendapat pencerahan dari teman-teman.” Lydia menjawab dengan jujur. Dia juga masih tetap fokus pada ponselnya, untuk melihat jawaban para sahabatnya. Kebetulan sudah ada yang mengetik.


[Lydia Andresen: Guys, sepertinya aku bakal punya adik.]


[Erika Jayantaka: Serius? Congrats buatmu, mama Liani dan calon papanya.]


“Kok malah diberi selamat?” Lydia memekik membaca balasan dari salah satu sahabatnya itu. Dia pun dengan cepat menulis isi pikirannya, sambil diperhatikan sang suami dan balasannya pun datang dengan cepat.


[Vanessa Cerewet: Lah? Emang mau bilang apa lagi? Itu kan kabar bahagia.]


[Lydia Andersen: Ya, tapi kan aneh. Masa nanti aku beda 25-26 tahun sama itu bayi. Mana aku juga lagi hamil.]


[Cinta Brawijaya: Iya juga sih, tapi mau gimana lagi? Toh udah terjadi juga. Gak mungkin digugurin kan?]


[Lydia Andersen: Iya sih, tapi tetap saja.]


[Vanessa Cerewet: Percayalah teman. Memang awalnya sulit diterima, tapi nanti kau pasti bakal sayang juga dengan adikmu itu. Teman kerjaku seperti itu.]

__ADS_1


[Erika Jayantaka: Setuju dengan Vanessa dan Cinta. Nanti kau juga akan terbiasa dan tidak mungkin juga digugurkan.]


[Cinta Brawijaya: Mamamu akan bersedih kalau kau terus menolak adikmu.]


Lydia langsung terdiam membaca apa yang dikatakan oleh Cinta. Rasanya tidak ada seorang ibu yang senang jika ada yang menolak anaknya. Apalagi Lydia jelas-jelas adalah bagian dari keluarga.


“Sebenarnya itu menyebalkan.” Tiba-tiba saja Reino berbicara dan dengan cepat mendapatkan atensi istrinya.


“Membayangkan Hadi jadi mertuaku saja menyebalkan, apalagi punya adik ipar darinya. Aneh, tapi mau apalagi? Kita tak bisa berbuat apa—apa kalau sudah terjadi,” lanjut lelaki itu menatap istrinya dengan lembut.


“Itu benar-benar menyebalkan. Apalagi aku juga sedang hamil.” Lydia tiba-tiba saja jadi cemberut. “Tapi kurasa kau benar, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”


Reino tersenyum melihat istrinya sudah bisa dibujuk. Pria itu dengan lembut memeluk istrinya yang sedang hamil itu, membiarkan Lydia menenangkan diri. Lagi pula, ini mungkin hanya karena hormon kehamilan.


“Tapi aku tidak mau seperti mama.” Tiba-tiba saja Lydia melanjutkan.


“Maksudnya?” Reino tentu saja bingung.


“Kalau kita punya banyak anak, aku tidak mau jarak usianya terlalu jauh. Aku merasa itu aneh. Aku dan Kenzo saja sudah cukup jauh.” Lydia menjawab suaminya dengan suara teredam karena dia menenggelamkan wajah di dada bidang Reino.


“As you wish. Aku akan iku padamu saja.” Reino jelas akan setuju.


“Tapi apa Pak Hadi mau dibiarkan begitu saja?” Lydia menjauhkan diri untuk mengurai pelukan suaminya. “Haruskah kita menghukumnya? Mungkin mengerjai dia?”


Reino tidak langsung menjawab karena agak kaget dengan pertanyaan sang istri. Namun, itu membuat Reino tersenyum cukup lebar. “Itu ide yang sangat bagus. Kau ingin melakukan apa?”

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2