Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Kejutan


__ADS_3

“Rei?” Lydia bergumam dengan suara serak, ketika merasakan ranjang di sebelahnya sudah dingin. Itu artinya Reinno sudah lama bangun.


“Kau sudah bangun?” Lelaki yang Lydia cari kini muncul dari walk in closet.


“Loh kok sudah rapih? Memangnya ini sudah jam berapa?” Lydia terlonjak melihat suaminya yang sudah siap berangkat kerja.


“Baru jam 7 kok. Santai saja.” Reino duduk di tepi ranjang dan merapikan rambut sang istri yang berantakan.


“Bagaimana bisa santai.” Lydia menggeram marah.


Perempuan itu turun dari ranjang dengan membawa selimut untuk membungkus tubuh telanjangnya. Ini jelas saja sudah sangat terlambat untuk bersiap-siap ke kantor.


“Santai saja, Sayang.” Reino kembali mengulang kalimatnya, sambil menarik istrinya untuk duduk di ranjang.


“Astaga, Kak Rei! Kita bisa telat kalau aku tidak siap-siap dari sekarang.” Lydia jelas saja mendesis mendengar suaminya.


“Kau itu istri yang punya perusahaan. Siapa yang mau menegurmu kalau terlambat ke kantor? Lagi pula, kau tidak punya pekerjaan di kantor.”


Lydia mengerang mendengar itu. Walau dia sendiri yang masih ingin tetap bekerja, tapi memang tak banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan.


Selain Reino yang tidak mau memberi banyak kerjaan, orang-orang mulai sungkan padanya. Sudah jarang ada orang yang meminta bantuan pada Lydia.


“Hari ini tinggal di rumah saja ya.”


“Gak mau. Aku bosan kalau di rumah.” Lydia langsung menolak.


“Coba ikut berkegiatan sama Mama deh. Dia kan punya banyak acara.”


Lydia langsung mendelik mendengar permintaan suaminya itu. Entah mengapa dia merasa kalau Reino ingin menjauhkannya dari kantor. Rasanya seperti Reino ingin melakukan sesuatu di belakangnya.


“Memangnya kenapa kau tidak mau membiarkanku ke kantor?” tanya Lydia dengan tatapan menyipit tajam. “Ingin melakukan sesuatu di belakangku ya?”


“Maksudnya?” Reino tentu saja merasa bingung.

__ADS_1


“Maksudnya jelas, Rei. Kau melarangku ke kantor karena kau pasti ingin berbuat macam-macam kan?” tanya Lydia makin melotot.


“Oke baiklah.” Reino mengangkat kedua tangannya ke udara. “Kita ke kantor, aku akan menunggumu bersiap.”


Dari pada bertengkar, Reino memilih untuk mengalah. Ribut dengan Lydia adalah hal terakhir yang Reino inginkan.


“Kau mencurigakan.” Bukannya percaya, Lydia malah makin curiga.


“Astaga!” Reino menutup mata dengan tangannya.


Reino benar-benar bingung menghadapi Lydia, terutama dengan hormon kehamilan yang meluap-luap. Sebentar marah, semenit kemudian jadi curiga. Lalu 5 menit kemudian malah bergairah. Ini terlalu membingungkan.


“Baiklah. Lakukan apa pun yang kau inginkan untuk memata-mataiku.”


“Sungguh?” Lydia menaikkan kedua alisnya mendengar itu.


“Kalau itu bisa membuatmu percaya, maka lakukan saja.” Reino mengibarkan bendera putih.


***


Hari ini rencananya dia akan melakukan beberapa hal, termasuk memilih kado sendiri. Reino bahkan sudah mencari di internet sejak pagi, namun itu jelas tidak mungkin lagi Reino lakukan. Apalagi Lydia mengikutinya ke mana pun.


Lydia benar-benar mengikuti Reino. Atau lebih tepatnya mengikuti pria itu ke mana pun. Bahkan saat ke kamar mandi sekali pun.


Iya. Kamar mandi. Untung saja Reino punya toilet sendiri di ruang privatnya. Jika tidak, mungkin kini sudah terjadi kegaduhan. Atau mungkin sudah?


“Sayang.” Reino berbisik pelan.


“Hm?” Lydia hanya bergumam sebagai jawaban.


“Aku senang kau suka bermanja-manja, tapi bisakah kau menolongku sedikit saja?” tanya Reino dengan amat sangat hati-hati.


“Menolong apa?”

__ADS_1


“Tolong jangan banyak bergerak kalau ingin duduk di pangkuanku. Kau menduduki sesuatu yang bisa membuatku panas dingin.”


“Oops. Maaf.” Lydia tertawa karena kalimat yang dikatakan suaminya.


Ya. Selama berada di dalam ruangan kerja sang suami, Lydia memang duduk di pangkuan Reino. Dia akan ikut membaca apa pun yang Reino kerjakan dan akan mengangkat telepon kalau diperlukan.


Bahkan ketika ada yang masuk meminta tanda tangan, Lydia tak bersedia turun. Jadilah Reino harus memberi tanda tangan sambil memeluk istrinya. Itu jelas akan jadi bahan perbincangan semua orang.


“Apa aku pindah tempat saja ya?” Lydia mulai kasihan dengan suaminya itu.


Selain kasihan dengan kaki Reino yang mungkin sudah pegal, Lydia juga sudah mulai terganggu dengan tonjolan yang menyentuh bokongnya. Reino memang pria yang sangat mudah terpancing gairahnya, tapi saat ini Lydia sedang tak ingin bercinta.


“Kalau itu maumu terserah saja.” Reino akhirnya bisa merasa sedikit lebih lega.


“Kalau begitu aku mau duduk di sampingmu saja.”


“Tunggu sebentar ya. Aku akan meminta seseorang mengangkatkan kursi untukmu.”


Sudah ada kursi lain di ruangan itu, tapi karena Lydia belum mau beranjak sampai kursinya datang, jadilah Reino harus memanggil seseorang. Dengan begitu dia tak perlu tersiksa lagi.


“Tapi aku tidak perlu menenagkan si junior kan?” Lydia melirik ke arah yang menonjol itu, setelah berpindah tempat


“Untuk sekarang tidak perlu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau mendengarku.”


“Kalau kau menyuruhku pulang, maka aku akan lebih memilih untuk menenangkan ‘itu’ saja.” Lydia dengan cepat menolak.


“Tenang saja. Aku tidak akan memintamu pulang, tapi menemaniku.” Reino tersenyum misterius.


“Ke mana?”


“Nanti, kau akan tahu.” Reino mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi jahil.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2