Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Syukuran


__ADS_3

“Selamat ya atas pernikahannya.”


“Thank you,” Lydia membalas ucapan Kiara dengan saling beradu gelas.


“Ck. Sudah jadi Nyonya Reino Andersen saja deh temanku yang satu ini,” Kiara berdecak pelan melihat penampilan Lydia yang hari ini terlihat elegan.


Lydia hari ini mengenakan maxi dress putih tanpa lengan yang ditutupi dengan cardigan berwarna navy. Warna pakaian yang dikenakan Reino hari ini pun senada dengan Lydia.


Hari ini Lydia dan Reino mengadakan acara syukuran di kantor pusat, sementara di kantor cabang hanya diberi dana untuk makan-makan. Ini adalah Syukuran pernikahan mereka yang sudah sukses digelar beberapa hari lalu.


Rangkaian pernikahan Reino dan Lydia terdiri dari tiga tahap dan dilakukan dengan sederhana. Pertama adalah pemberkatan nikah dan catatan sipil yang hanya dihadiri keluarga inti. Setelahnya barulah diadakan resepsi untuk keluarga, teman dan kolega dekat.


Terakhir adalah acara syukuran untuk orang kantor. Walau agak terburu-buru, tapi semuanya berjalan dengan lancar. Dan semua acara itu dilakukan dengan jeda jarak dua hari. Itu dilakukan agar Lydia tidak kelelahan.


“Tapi aku bingung. Kalian kan sudah cukup lama nikah, kenapa baru resepsi sekarang?” Revan bertanya dengan wajah sedikit cemberut.


Yang diketahui orang kantor adalah Lydia dan Reino sudah menikah cukup lama, tapi dirahasiakan. Pasangan pengantin itu enggan mengklarifikasi karena bagi mereka itu tidak begitu penting. Yang penting sekarang semua orang tahu kalau Reino Andersen dan Lydia sudah resmi menikah.


“Yah. Katakan saja karena sibuk. Lagi pula tempo hari ibuku kan sempat masuk rumah sakit juga,” Lydia menyeruput jus jeruknya setelah menjawab pertanyaan Revan itu.


“Tapi apa kamu gak capek apa? Resepsi dan syukuran di kantor dipisah gini. Kalau aku mah mending dihari yang sama biar sekalian capek,” Kiara mengeluh dengan mata memutar gemas.


“Nah, itu dia. Aku menghindari yang namanya capek. Makanya kami sengaja selisih dua hari. Biar ada waktu istirahat,” ringis Lydia pelan.


“Kenapa juga harus istirahat? Kalian kayak remaja jompo aja,” Revan tidak sungkan mengejek Nyonya Bos yang memang berteman ddengannya.


“Atau jangan-jangan ... kamu sudah hamil ya?”


Pertanyaan Kiara barusan membuat Revan yang tengah meneguk jusnya tersedak parah, sementara Lydia menempelkan jari telunjuk di bibir. Meminta agar Kiara tidak ribut.


“Eh? Kamu benaran sudah hamil?” tanya Kiara yang kini berbisik.


“Jangan terlalu ribut. Kalau ini sampai tersebar mertuaku bisa mengamuk?” Lydia menjawab juga dengan berbisik.


“Kenapa yang ini harus disembunyikan juga?” Revan yang sudah pulih dari tersedak, kini ikut berbisik.

__ADS_1


“Katanya sih pamali kalau baru hamil muda, tapi sudah disebar beritanya ke mana-mana,” Lydia masih berbisik untuk memberitahu info ini.


“Memang sudah berapa bulan?” Kiara juga masih berbisik.


Lydia tidak menjawab lagi, tapi dia membentuk angka 1 dengan jari telunjuk. Itu saja sudah sangat cukup untuk menjawab pertanyaan Kiara.


“Selamat ya. Semoga ibu dan bayi sehat terus,” Revan segera memberi doa terbaik untuk wanita yang pernah disukainya itu.


“Terima kasih.”


“Kami masih pengen ngobrol sama kamu, tapi suami kamu udah cariin tuh.”


Lydia mengikuti arah pandangan Kiara. Dia langsung tersenyum ketika Reino mendekat dengan senyuman yang sangat lebar. Dan itu pemandangan yang amat sangat langka.


“Hebat banget ya kamu bisa bikin Pak Bos yang dingin itu tersenyum,” Kiara menyempatkan diri untuk memuji, sebelum pergi meninggalkan rekan kerja sekaligus nyonya bosnya itu.


“Capek?” tanya Reino seraya mengecup sudut bibir istrinya.


“Apaan sih? Ini tempat umum tahu,” geram Lydia gemas sekali dengan kelakuan suaminya.


“Artinya kalau bukan di tempat umum aku bisa menciummu sepuasku dong?” bisik Reino seduktif.


“Ck. Makanya aku tidak suka ada acara-acara seperti ini,” decak Reino kesal.


Ya. Awalnya Reino tidak ingin ada acara berlibihan. Karena baginya itu hanya buang-buang waktu dan tenaga. Tapi apalah dayanya jika para ibu-ibu menginginkan ada resepsi, ditambah sang ayah yang ingin syukuran di kantor.


“Cari makan dulu yuk. Habis itu aku mau duduk.”


Lydia tidak peduli pada gerutuan Reino. Dia saat ini sedang ingin mengunyah sesuatu walau sedang tidak lapar. Lydia juga ingin segera duduk karena kakinya sudah mulai pegal.


Salah satu hal yang tidak dia suka dari kehamilan adalah cepat lelah. Padahal biasanya dia kuat berdiri berjam-jam, tapi sekarang baru berdiri kurang dari sejam dia sudah merasa lelah.


Untung saja nafsu makannya cukup bagus walau kadang dia masih muntah. Lydia jadi teringat dengan Cinta. Dulu sahabat Lydia itu hanya bisa makan sesuatu yang berhubungan dengan bawang. Lydia harus bersyukur karena anaknya ini tidak aneh.


“Silakan duluan, Bu.”

__ADS_1


Lydia melirik pada Pak Trisno yang duluan datang ke booth makanan, tapi malah membiarkan dirinya duluan. Lirikan Lydia itu hanya ditanggapi senyum lebar yang langsung ditegur oleh Reino.


“Mau apa Pak Trisno senyum-senyum sama istri saya?”


“Eh? Gak kok Pak. Cuma sekedar menyapa saja,” jawab Pak Trisno agak terbata dan ketakutan dengan tatapan Reino.


“Kak Rei. Ambilin dong,” seru Lydia menarik lengan Reino dan menunjuk makanan yang ingin dia makan.


Lydia menyelamatkan Pak Trisno dari amukan Reino dengan memanggil suaminya dengan manja. Pak Trisno yang dulunya selalu mengejek Lydia, segera pamit dengan cepat. Dia enggan menerima amukan Reino hanya karena tersenyum.


“Kenapa kamu menyelamatkan dia sih? Bukannya dulu dia sering menindasmu?” Reino bertanya sambil mengambilkan sop asparagus untuk Lydia.


“Kok tahu sih?” Lydia cukup kaget karena Reino megetahui hal itu.


“Aku tahu semua hal tentangmu.”


“Ck. Gombal. Sudah ayo cari tempat duduk.”


Reino mengikuti saja perintah Lydia. Yang penting Lydia senang apa pun akan Reino lakukan untuk istrinya itu.


“Makan yang banyak. Biar Reino Andersen junior bisa tumbuh dengan baik,” bisik Reino mengikuti nasihat orang tua untuk menyembunyikan kehamilan istrinya sampai tiga bulan.


“Yakin amat kalau ini bakal jadi Reino Junior. Kalau Lydia Junior gimana?” Lydia mencebik dengan kesombongan Reino itu.


“Yang mana saja yang penting sehat dan tidak merepotkan ibunya.”


“Amin. Semoga setelah lahir pun kamu gak terlalu merepotkan ya, Nak. Dan jangan ikuti sifat ketus dan sombong ayahmu,” Lydia juga ikut memberi wejangan.


“Kamu beri tahu sekarang juga dia gak akan dengar,” ejekk Reino dengan senyum menyebalkannya.


“Kata siapa? Anak bayi juga bisa mendengar tahu. Lagian kalau serinng didoakan yang baik-baik, nanti pasti Tuhan dengar dan kabulkan.”


“Semoga doanya dikabulkan. Jangan sampai nanti Tuhan pun ngeprank kita dan malah kasih anak nakal dan merepotkan.”


“Hush.” Lydia menepuk pelan bibir suaminya. “Jangan sembarangan menghujat Tuhan. Aku lagi hamil tahu ngomong yang baik-baik saja.”

__ADS_1


“Ya. Akan kulakukan Nyonya,” gerutu Reino kemudian mencuri satu kecupan lagi dari istrinya. Mereka asyik bercanda, sampai tak memperhatikan lirikan kesal seseorang.


***To Be Continued***


__ADS_2