Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ekstra-Hamil Lagi


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Setelah pencarian nama yang kilat, kini dua bayi kembar yang diberi nama Meyer dan Meidi itu sudah berusia lima bulan.


Hanya berbeda satu bulan kurang dua hari dari keponakan mereka, Melody. Nama mereka bertiga bahkan serupa, bahkan wajah pun agak mirip. Tidak heran kalau mereka bertiga kadang dikira kembar.


“Aduh lucunya mereka.” Kenzo memekik senang ketika adik dan keponakannya berkumpul dan bermain bersama.


“Kalau kau begitu suka dengan bayi, kenapa tidak segera menikah dan punya anak sendiri?” Lydia geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu.


Hari ini, Lydia berkunjung ke rumah mamanya. Kebetulan dia sudah agak lama tak berkunjung karena sibuk dan baru saja sembuh dari sakit.


Anak-anak dibiarkan bermain di lantai yang sudah dialasi karpet tebal. Tak lupa juga para pengasuh dan pengurus rumah berjaga di sekitar bocah-bocah itu.


“Aku suka bayi, tapi masih terlalu muda untuk menikah. Lagi pula, aku baru masuk kerja. Aku harus kumpul banyak uang dulu baru nikah.”


“Bagus.” Reino mengacungkan jempol mendengar pernyataan adik iparnya itu. “Lelaki memang harus mapan dulu baru menikah. Biaya mengurus bayi itu mahal.”


“Cih, tidak usah berlagak miskin. Kau kan orang kaya, kenapa malah mengeluh soal biaya?” Kenzo jelas saja mencibir kakak iparnya itu.


“Memangnya orang kaya tidak bisa mengeluh?” Kali ini Lydia yang bertanya. “Lagi pula, yang dikeluhkan itu biaya yang mahal. Bukan tidak sanggup membiayai.”


Malas berdebat dengan kedua kakaknya, Kenzo hanya mengangguk saja. Tentu saja itu disertai dengan ekspresi mengejek. Anak itu selalu suka mengejek kakak iparnya.


Lydia tidak bisa apa-apa melihat dua lelaki itu. Walau sudah ditegur pun Kenzo masih suka mengejek. Untung saja Reino tidak terlalu ambil pusing.


“Bagaimana dengan keadaanmu?” Liani datang membawa nampan berisi camilan. “Kau habis sakit kan?”

__ADS_1


“Cuma sakit kepala dan flu biasa saja, Ma. Bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan,” jawab Lydia dengan senyum meyakinkan.


“Tapi tetap saja. Kau kan punya bayi, jadi Mama khawatir Melody ikut tertular.” Liani kembali memberitahukan, sebelum duduk di sebelah sang suami.


Sejak tadi memang Pak Hadi ada di sana. Dia memang tidak banyak bicara karena perhatiannya terarah pada anak-anak dan hanya ikut nimbrung sesekali.


“Aman kok. Cucu kesayangan Mama sama sekali tidak tertular flu, soalnya Cuma sehari juga flunya.”


“Oh, ya?” Hadi akhirnya ikut bicara. “Jadi selama tiga hari kamu berbaring karena sakit kepala saja?”


“Apanya yang hanya?” hardik Reino agak kesal. “Kepala istriku terasa seperti mau pecah dan itu jelas keadaan darurat.”


“Jangan melebih-lebihkan.” Lydia menyikut perut suaminya. “Kepalaku memang sakit, tapi bukan berarti sampai pecah benaran.”


“Ya itu kan perumpamaan, Sayang.” Reino tetap bersikeras.


“Itu kan risol kesukaanmu,” jawab Liani dengan nada heran. “Sekarang tidak suka risol lagi atau gimana?”


“Tidak. Aku merasa ada bau aneh datang dari makanan ini. Bisa disingkirkan saja?” tanya Lydia sambil menutup lubang hidungnya dengan kedua tangan.


Tanpa banyak bicara, Reino langsung mengambil piring berisi risol dan membawanya ke dapur. Tentu saja itu diikuti dengan tatapan heran sang mama, apalagi Kenzo.


“Kau kenapa sih, Kak? Aneh banget. Perasaan risol itu gak berbau deh.” Kenzo bingung sekali dengan kakaknya.


“Tapi aku mencium bau tidak enak dari sana. Mungkin sudah mau basi kali.” Lydia tidak mau kalah dari adiknya.

__ADS_1


“Ya, sudah. Nanti Mama akan cek, kalau basi nanti dibuang saja.” Liani menengahi, sebelum terjadi pertengkaran. “Lydia makan puding saja deh.”


Dengan senang hati Lydia mengangguk dengan ide itu. Dia pun berjalan beriringan dengan sang mama ke arah dapur untuk mengambil puding di dalam kulkas.


Pudingnya sudah dituang di dalam cup, jadi Lydia tinggal memakannya. Sayang sekali, puding itu pun tidak cocok dengan lidah Lydia.


“Kok rasanya aneh.” Perempuan yang sudah kembali kurus setelah melahirkan itu mengernyit.


“Apanya yang aneh?” tanya Liani ikut mencoba pudingnya. “Rasanya normal kok. Tidak basi juga.”


“Ih, rasanya aneh.” Lydia segera menjauhkan puding itu setelah mencicipi sekali lagi. “Aku jadi mau muntah.”


Dengan kecepatan penuh, Lydia berlari ke arah kamar mandi. Kebetulan saja posisi kamar mandinya tak jauh dari dapur. Di sana, Lydia memuntahkan semua makanan yang sudah dia telan hari ini.


“Sayang, kau ke mana? Masih sakit ya?” tanya Reino yang baru saja diberitahu oleh ibu mertuanya perihal kondisi sang istri.


“Gak tahu. Tiba-tiba saja mau muntah.” Lydia mengernyit, berusaha menahan gemuruh di dalam perutnya.


“Habis ini kita ke dokter saja deh. Mau ya.” Reino membujuk istrinya karena kali lalu perempuan itu menolak pergi ke dokter.


“Apa kalian sudah test pack?” Tiba-tiba saja Liani muncul dengan segelas teh hangat untuk putrinya.


“Untuk apa?” tanya Lydia bingung dengan pertanyaan itu.


“Bisa saja Lydia hamil lagi kan?”

__ADS_1


“Hah?”


***To Be Continued***


__ADS_2