
“Hei, Pak Reinonya ada?”
“Oh, ada kok. Tapi dia sedang ada tamu. Kalian bisa menunggu sebentar kan?” tanya Lydia pada dua orang yang ada didepannya.
Kiara dan Revan yang hari ini diminta menggantikan Bu Nia yang sedang cuti untuk ikut rapat, mengangguk pelan. Mereka duduk di sofa dekat dengan meja Lydia untuk menunggu bos besar punnya waktu luang.
Lydia tidak terlalu menggubris dua orang itu karena memang ada setumpuk dokumen yang harus dia pisahkan. Salah satu pekerjaan sekretaris yang melelahkan ya ini. Menyusun dokumen yang harus ditanda tangani Reino, baik di atas kertas maupun online.
“Apa kamu sibuk?” tanya Kiara menatap Lydia ragu-ragu.
“Ada masalah?” Lydia yang tadinya fokus, kini menatap mantan rekan sekubikelnya dulu.
Kiara tidak langsung menjawab. Dia menyikut Revan dengan pelan dan membuat pria itu melotot padanya. Setelah beberapa detik percakapan hanya dengan tatapan mata, akhirnya Revan yang berbicara.
“Anak ini ingin minta maaf padamu.”
Kalimat yang dilontarkan Revan, membuat Kiara kembali menyikutnya dengan lebih keras. Perempuan itu sepertinya agak sedikit malu-malu.
“Aku mendengarkan,” balas Lydia menatap Kiara.
Lydia tahu kalau Kiara merasa malu. Tapi jika dia ingin minta maaf, maka Lydia ingin Kiara sendiri yang mengatakannya. Walau Lydia sebenarnya tidak tahu harus mendengar maaf karena apa.
“Aku minta maaf karena… sudah… berprasangka buruk padamu. Maksudku kau tahu, aku pikir hubunganmu dan Pak Reino tidak seromantis itu,” cicit Kiara pelan.
“Lalu apa yang kau pikir tentang hubunganku dengan Pak Reino? Panas dan menggebu-gebu?”
Kiara tidak menjawab, tapi Lydia bisa melihat telinganya memerah dengan kepala tertunduk. Lydia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Kiara minta maaf. Apakah karena gertakannya kemarin atau karena perlakuan Reino.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu tiba-tiba ingin minta maaf, tapi baiklah. Kumaafkan.”
“Sungguh?” tanya Kiara kini sudah bisa mendonggak dengan wajah cerah.
Lydia hanya menjawab dengan anggukan, tapi itu cukup untuk membuat Kiara tersenyum senang. Dan setelah Kiara, giliran Revan yang meminta maaf.
“Aku juga minta maaf karena tiba-tiba menjauhimu hanya karena sedang kesal,” ringisnya terlihat serius.
__ADS_1
Jujur saja untuk Revan, Lydia tidak mengerti kenapa pria itu harus minta maaf. Seingatnya Revan tidak pernah benar-benar menghindarinya. Pria itu hanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Setidaknya itu yang dipikirkan Lydia.
“Aku juga tidak membelamu waktu Pak Trisno menginamu,” tambah Revan dengan kepala tertunduk karena malu.
“Ah, soal itu.” Lydia mengangguk, kini dia paham maksud Revan. “Gak apa-apa kok, aku bisa mengerti. Lagian dia kan atasanmu.”
Lydia ingat memang ada waktu di mana dia mengunjungi divisi keuangan dan hal seperti itu terjadi. Lagi-lagi Pak Trisno dan seperti biasa tak ada yang membela. Hanya ada tatapan aneh yang didapatnya.
Revan langsung menghembuskan napas lega mendengarnya. Mereka bertiga kemudian sedikit berbincang sambil Lydia tetap mengerjakan pekerjaanya. Dia lebih dari sanggup membagi fokusnya untuk dua hal yang berbeda dan ada Tuti juga yang membantunya, sampai Kiara datang di dekatnya dan menghancurkan fokusnya.
“Sudah pacaran berapa lama dengan Pak Reino?” bisik Kiara tidak ingin percakapannya di dengar orang lain.
“Memangnya kenapa?” balas Lydia dengan pertanyaan lain.
“Aku hanya penasaran. Kalian sudah ‘begituan’ gak? Soalnya kata orang-orang Pak Reino itu sangat aktif olahraga ranjang dan katanya juga sangat hebat sampai para wanita itu pingsan.”
Wajah Lydia langsung memerah mendengar pertanyaan Kiara itu. Apa sih pikiran gadis di depannya itu, sampai dia bertanya hal sedewasa dan seprivat itu?
Yah, walau semua yang dikatakannya itu benar. Lydia belum pernah benar-benar pingsan sih, tapi sudah nyaris pingsan. Untungnya Reino selalu berhenti ketika Lydia sudah menangis karena kelelahan. Kalau tidak, bisa dijamin dirinya juga akan pingsan.
Kiara terkikik geli melihat Lydia yang merona merah dengan napas tertahan.
“Apaan sih?” hardik Lydia mendorong Kiara menjauhi dirinya.
“Ngaku sajalah. Toh itu bukan dosa banget kok. Zaman sekarang kan gaya pacaran orang-orang ya gitu.”
Nada suara Kiara merendah pada kalimat kedua. Itu membuat Lydia yang sudah agak tenang kembali merona. Ugh, dia jadi sedikit menyesal sudah memaafkan Kiara. Apalagi perempuan itu terus merecokinya tentang urusan ranjangnya dengan Reino.
Pada para sahabatnya saja Lydia tidak pernah cerita. Masa iya dia mau menceritakannya pada Kiara. Tapi masalahnya, Kiara rupanya cukup gigih. Untung saja Hadi dan tamu Reino keluar dari ruangan dan menyelamatkan Lydia.
“Bagian keuangan ya?” tanya Hadi sopan sebelum mempersilakan Revan dan Kiara masuk.
“Mbak Lydia juga masuk saja. Pak Reino ingin meminta kamu untuk ikut rapat ini karena katanya kamu lebih menguasai bidang ini.”
Walau sedikit bingung dengan keputusan Reino, Lydia tetap melangkah masuk ruangan. Itu pun setelah menitipkan pekerjaannya pada Tuti.
__ADS_1
Lagipula ini hanya rapat tidak resmi dua mingguan yang hanya digelar di ruangan Reino. Biasanya juga hanya Bu Nia dan Pak Trisno yang datang menghadap. Entah kenapa kali ini Revan dan Kiara yang disuruh.
Dan karena biasanya ini memakan waktu yang lama, dua orang dari bagian keuangan yang hadir didudukkan di sofa. Tapi kali ini berbeda, Revan dan Kiara diminta duduk di depan meja bos.
Hadi berdiri di sebelah kiri Reino, sementara Lydia di sebelah kanan. Bedanya, Lydia sudah disediakan kursi di sana. Lydia, Revan dan Kiara sampai terheran-heran karena perlakuan khusus itu.
“Saya duduk di sini, Pak?” tanya Lydia menunjuk kursi yang beberapa waktu lalu adalah miliknya.
Kursi yang sepaket dengan meja yang dulu dipakai Lydia sebagai asisten Reino, masih ada dalam ruangan itu. Itulah yang dia duduki sekarang ini. Toh tidak ada yang menempatinya karena Hadi punya meja sendiri di sebelah Lydia.
“Tentu saja kau yang duduk di sini. Masa dia?” tanya Reino terlihat kesal, sambil menunjuki Revan yang langsung salah tingkah.
Walau merasa risih, Lydia akhirnya memilih duduk. Dan karena merasa kursinya terlalu dekat, Lydia menggeser sedikit kursinya.
Tapi belum juga benar-benar bergeser, Reino sudah mencengkram tangan Lydia. Memberi perintah hanya dengan tatapan mata agar tidak memindahkan kursi itu. Lagi-lagi Lydia mengalah karena tatapan heran Revan dan Kiara. Dua orang itu tidak bisa melihat apa yang terjadi di balik meja karena tertutupi meja kerja Reino yang agak besar.
“Silakan dimulai,” sahut Reino ketika Lydia sudah duduk cantik di tempatnya.
Awalnya semua berjalan lancar. Revan menjelaskan dengan baik dan Kiara atau Lydia menimpali. Reino dan Hadi juga memperhatikan dengan baik, bahkan kadang Reino memberi pertanyaan balik. Sampai sepuluh menit kemudian, Reino mulai berulah.
Lydia terkesiap ketika merasakan tangan Reino tiba-tiba saja sudah berada di pahanya. Bukan hanya sekedar menaruh tangannya di sana, tapi sudah sampai taraf mengelus dan menyusup ke dalam rok.
“Uhuk,” Hadi yang kebetulan melihatnya terbatuk keras.
“Ada yang salah, Pak?” tanya Revan dengan tatapan bingung.
“Oh, tidak. Tenggorokan saya hanya gatal saja,” jawab Hadi dengan senyum yang dipaksakan.
Revan kembali menjelaskan anggaran yang tertera di laporan, sementara tangan Reino makin menyusup masuk. Kesal dengan kelakuan Reino di depan umum seperti ini, Lydia mencubit pergelangan pria itu sekuat tenaga.
“ARGH…”
“Ada yang salah, Pak?” tanya Revan dengan wajah terkejut.
“Tidak ada apa-apa. Lanjut saja,” geram Reino pada Lydia yang balas melotot padanya.
__ADS_1
***To Be Continued***