
Lydia menggeliat pelan. Tidurnya yang nyenyak itu, terganggu dengan suara alaram ponselnya. Tanda kalau perempuan itu sudah harus bangun pagi. Sayangnya Lydia masih belum ingin bangun. Dia merasa sangat malas.
Untung saja, alaram itu segera mati. Dekapan hangat dan kecupan ringan di puncak kepala kemudian menyapanya, membuat perempuan bertubuh kurus yang sudah hampir sadar itu, kembali mengantuk.
“Tidurlah lagi.”
Lydia masih bisa mendengar suara gumaman lembut itu dengan cukup jelas. Dia sudah nyaris tertidur lagi ketika merasakan sesuatu yang mengganjal ketika membalas pelukan yang terasa hangat dan nyaman itu. Ada tonjolan keras yang di pahanya dan itu sangat mengganggu.
“Hm ... apaan sih ini,” gumamnya masih setengah sadar.
“Sayang ... Kalau kau menyentuh bagian itu aku tidak yakin kau bisa tidur lagi setelah ini,” gumaman lembut lain datang menyapa telinga Lydia.
Merasa ada yang salah, Lydia membuka matanya. Dan tanpa terduga, wajah Reino yang pertama dia lihat, justru membuatnya terkejut.
“KYA ...” Lydia mendorong tubuh sang suami agar menjauh. Sayangnya itu terlalu keras dan justru membuat tubuhnya yang terpental.
“Hei, hati-hati.” Reino segera menarik pinggang istrinya yang sudah nyaris terguling jatuh dari ranjang. Kebetulan Lydia sudah berada di ujung ranjang.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” Lydia bertanya setelah dia cukup sadar.
“Ini adalah kamar yang ada di dalam ruanganku. Tentu saja aku bisa berada di sini kapan pun aku mau.”
Lydia menggeram pelan. Dia tidak senang dengan kenyataan itu dan lagi pula dia masih marah. Kali ini Lydia tidak ingin membiarkan Reino lolos begitu saja.
“Menjauhlah dariku. Aku tidak suka disentuh. Apalagi setelah kau menyentuh perempuan lain.”
“Perempuan lain yang mana sih? Mama?” Reino kali ini berusaha untuk tidak marah atau kasar. “Masa iya sama Mama kamu juga marah.”
Wajah Lydia bersemu merah ketika dia mendengar suaminya menggunakan bahasa yang lebih lembut. Dia merasa benar-benar menjadi istri, alih-alih teman. Sayangnya, Lydia memilih untuk keras kepala.
“Kau pikir aku tidak tahu?” tanya Lydia sok ketus. “Kau selama ini jajan di luar kan? Ngaku saja.”
“Ya.” Reino mengangguk, setelah berhasil duduk dengan benar di atas ranjang. “Aku jajan di luar.”
Mendengar jawaban sang suami, emosi Lydia kembali berkecamuk. Wajahnya sudah cemberut dan matanya sudah siap mengeluarkan air.
“Kemarin aku jajan kopi di Bucks. Itu aja sih, tapi itu sudah termasuk jajan kan?” Reino memberitahu sebelum istrinya meledak.
__ADS_1
“Ih, apaan sih.”
Lydia mengambil bantal dan memukul suaminya dengan benda empuk itu. Reino sebenarnya bisa menghindar, tapi dia tak melakukannya. Bisa-bisa nanti Lydia malah terjengkang kalau dia menghindar.
“Sayang, stop that. Kamu lagi hamil gak boleh banyak mengeluarkan tenaga.” Hanya teriakan itu yang menjadi perlawanan Reino.
“Kau selalu beralasan seperti itu,” hardik Lydia masih memukul suaminya. Hanya satu kali, setelah itu dia berhenti.
“Aku bukan beralasan, tapi itu yang dikatakan dokter kan?”
Wajah Lydia makin terlihat cemberut. Dia tak suka mendengar fakta yang satu itu. Hal itu pula yang membuat Lydia merasa khawatir selama beberapa hari. Kini dia malah mengutuk dokternya.
“Kau pasti menjadikan itu alasan agar bisa main perempuan di luar sana kan?” tanya Lydia kini lebih detil dan tepat sasaran.
“Aku tidak main perempuan.”
“Alasan.” Reino masih ingin melanjutkan pembelaannya, tapi Lydia sudah memotong. “Mana kutahu kau pergi ke mana. Tidak ada bukti yang membelamu.”
“Dan tidak ada juga bukti yang memberatkanku,” balas Reino yang jelas saja makin membuat istrinya kesal.
“Mereka bisa berbohong.”
“Di dashboard mobil ada kamera. Kamu bisa memeriksa itu.”
“Cih, bisa saja itu .... Tunggu.” Tiba-tiba saja Lydia teringat sesuatu. “Ada kamera CCTV di mobil?”
“Ya. Di semua mobil kantor ada kamera,” Reino menjawab dengan santai seperti biasa.
“Menghadap keluar atau ke dalam mobil? Merekam suara atau tidak?” Lydia kembali bertanya dengan raut wajah sedikit pucat.
“Ke luar dan bagian dalam mobil. Itu juga bisa merekam suara.”
Jawaban Reino membuat Lydia syok bukan main. Perempuan itu menutup mulut dengan kedua tangan dan matanya membulat. Itu adalah bencana bagi Lydia.
“Apa kau gila?” pekik Lydia setelah sudah cukup pulih dari rasa syok.
“Aku waras.”
__ADS_1
“Kalau kau waras, kau tidak akan bercumbu denganku di saat ada kamera di dalam mobil,” pekik Lydia benar-benar marah dan malu.
“Apa yang salah dengan itu? Rasanya tidak akan ada masalah.”
“Dasar gila.” Lydia memukul lengan suaminya dengan keras. “Bagaimana kalau ada orang yang melihat atau mendengar rekamannya?”
Lydia memukul Reino bertubi-tubi. Tidak terlalu sakit, tapi Reino mengaduh sambil tertawa. Dia tak tahan melihat wajah memerah sang istri yang terlihat menggemaskan.
***
“Anda terlihat agak cerah hari ini.” Pak Fendy menyapa Reino yang hari ini memang terlihat lebih baik.
“Oh, itu berkat istri saya yang menggemaskan ini.”
Pria itu langsung merangkul Lydia dengan erat dan disertai senyum tipis. Hal yang jarang terlihat dari seorang Reino Andersen, tapi itu membuat Lydia malu dan kesal.
Masih kesal soal kamera yang ada di mobil dan malu karena hal yang sama juga. Lalu ... ada satu hal lain lagi yang membuatnya malu.
Tadi pagi, akhirnya Reino berhasil melepaskan hasratnya. Itu terjadi setelah Lydia digoda berkali-kali dan morning wood pria itu tak kunjung menjadi normal.
Mau tidak mau Lydia harus menormalkan ‘benda’ itu agar tidak menimbulkan masalah, tapi justru sebaliknya. Mereka hampir saja ketahuan ketika ada OB yang masuk dan hendak membersihkan ruangan. Untung saja pasangan itu sudah selesai.
Walau begitu, Lydia tetap saja malu. Dia kedaptan bermalam di kamar privat bersama sang suami.
Hal wajar sebenarnya, tapi itu menimbulkan gosip yang menyebar dengan cepat di grup perusahaan. Reino disebut sedang terburu-buru, sampai tidak sanggup menunggu sampai pulang di rumah.
“Kalian memang pasangan yang amat serasi dan harmonis ya.” Gumaman itu menyentak Lydia yang sedang memikirkan hal yang terjadi tadi pagi.
“Tentu saja, Pak. Kami akan selalu seperti itu,” jawab Reino dengan tegas.
Lydia tidak menjawab dan hanya tersenyum saja. Dia lebih memilih menatap pintu lift yang baru beranjak naik dari lobi.
Pintu liftnya terbuat dari baja anti karat dan bisa dijadikan cermin. Lydia dan teman-teman sering melakukan itu karena pintu itu memang cukup berguna sebagai cermin dadakan.
Namun kali ini dia mengernyit melihat pemandangan yang terpantul di sana. Lydia yakin dia baru saja melihat Pak Fendi yang terlihat melirik marah ke arah Reino.
***To Be Continued***
__ADS_1