Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Kejutan


__ADS_3

“Astaga! Apaan ini?” teriak Lydia melihat penampilannya di cermin.


Demi apa pun juga, Lydia cukup percaya diri kalau menggunakan crop top dan hot pants. Dia percaya diri sedikit memamerkan perut rata dan tungkai jenjangnya, tapi penampilan yang dipilihkan Reino malam ini agak sedikit keterlaluan.


Sudah jelas dadanya rata, tapi Reino memberikan pakaian yang memamerkan bagian itu. Bentuk bagian atas gaunnya serupa korset ketat tanpa lengan. Saking ketatnya, membuat dada rata Lydia sedikit menyembul akibat tekanan dari pakaiannya.


Dan yang paling bikin risih adalah bagian bawah yang berbentuk segitiga yang kemudian dilapisi dengan kain transparan. Lydia jadi merasa seperti sedang menggunakan pakaian renang seksi yang mengumbar semua bagian tubuhnya. Dan Lydia kurang suka ini.


Lydia sama sekali tidak pernah memamerkan lengan atau bagian dadanya. Bahkan hot pants miliknya juga tidak ada yang menyentuh garis pahanya. Nah ini? OMG. Lydia tak percaya harus memakai pakaian seperti ini demi Reino.


“Tidak adakah pakaian yang lebih baik dari ini?” tanya Lydia menarik turun dressnya yang kependekan dan ketat itu.


Entah sudah berapa kali Lydia menyebut nama Tuhan sejak dia memakai baju yang melekat pada tubuhnya itu. Hasilnya sebenarnya lumayan, tapi sekali lagi terlalu seksi baginya. Lydia tidak pernah memakai pakaian yang memamerkan bagian dada dan ****** ********.


“Silakan, Bu. Kita sudah sampai.”


Lydia melirik kesal ke arah pengawal dan asisten yang kini semuanya berjenis kelamin perempuan. Dia sebal sekali karena disuruh berdadan seperti wanita malam hanya untuk menggoda Reino Andersen yang sedang ‘on’.


Tidak punya banyak pilihan, Lydia segera melangkah ke dalam ruangan yang pintunya baru dibuka. Karena terlalu fokus melirik kesal pada asisten yang membuka pintu, Lydia tidak begitu menyadari kalau ruangannya gelap gulita. Setelah berdiri di dalam barulah dia menyadarinya.


“Hei, kok ruangannya gelap sih?” Lydia berbalik untuk bertanya, tapi pintunya sudah keburu ditutup.


“Hei, tunggu.” Lydia yang panik segera menggedor pintu dengan kuat. “Kenapa pintunya dikunci.”


Lydia yang frustasi, mencoba mencari gagang pintu dan mendorongnya. Sayangnya tidak bisa terbuka, sepertinya bukan terkunci tapi ditahan dari luar.


“Astaganaga!” Lydia terlonjak mendengar ponsel yang dipegangnya berbunyi.


“Kenapa lama sekali sih?” suara kesal Reino terdengar, bahkan sebelum Lydia selesai menyebut kata ‘halo’.


“Ya mau gimana lagi, Pak. Orang suruhan Pak Reino yang lelet,” keluh Lydia mengingat dirinya yang harus dirias.


“Kamu sudah di dalam ruangan kan?” tanya Reino dengan suara yang terdengar makin kecil.

__ADS_1


“Coba maju ke depan sepuluh langkah.”


“Eh? Gimana caranya, Pak? Di sini gelap sekali,”pekik Lydia yang kemudian menggema.


“Tutup saja matamu dan melangkah sepuluh langkah ke depan. Aku akan menjamin keselamatanmu.”


“Pak? Pak Reino? Argh ...” geram Lydia ketika lagi-lagi teleponnya diputus.


Lydia tidak langsung menjalankan perintah Reino. Dia terlebih dahulu memperhatikan sekitarnya dan refleks menutup mata. Kegelapan di sekitarnya membuat Lydia ketakutan.


“Oke. Sepuluh langkah,” gumam Lydia pelan. Mau tidak mau dia harus mengikuti instruksi Reino.


Langkah Lydia cenderung pelan, dia terlalu takut untuk melangkah cepat atau terlalu lebar. Tidak lupa, Lydia menghitung langkah kakinya dengan suara pelan. Tepat pada saat dia selesai melangkah, Lydia bisa mendengar bunyi sesuatu.


“Pak Reino? Bapak sudah datang?” tanya Lydia takut-takut.


“Buka matamu dalam hitungan ke tiga.” Lydia bisa mendengar suara Reino dan itu terasa sangat dekat.


Merasa dirinya sudah aman, Lydia menghembuskan napas lega. Setelahnya baru dia menghitung dari satu sampai tiga dengan suara yang agak keras.


Bertepatan dengan selesainya hitungan, Lydia yang masih menutup mata bisa merasakan kalau sepertinya lampu ruangan sudah dinyalakan. Ada cahaya yang terasa menyengat matanya yang masih tertutup. Dia perlu menyesuaikan diri dulu sebelum membuka mata agar tidak silau.


Dan yang dia lihat paling pertama adalah Reino. Lelaki itu terlihat tampan (seperti biasa), dengan jas dan kemeja tanpa dasi. Tatapan tajam khasnya menusuk netra Lydia, seolah sedang menghipnotis dirinya.


“Happy birthday,” gumam Reino agak pelan.


“Hah?”


Lydia yang terkesima dengan ketampanan Reino, tidak mendengar jelas apa yang dikatakan pria itu. Namun Reino tidak menjawab, Lydia malah disambut dengan suara gemuruh yang lain.


“HAPPY BIRTHDAY.”


Lydia terlonjak mendengar teriakan lantang itu dan segera menoleh untuk mencari sumbernya, sementara dirinya sudah bermandikan pita warna warni dari konfeti kecil.

__ADS_1


Mata Lydia membulat dan mulutnya terbuka ketika melihat para sahabatnya. Bahkan ada Ezra yang berdiri agak jauh di belakang. Makin terkejut lagi ketika melihat hiasan ruangan yang begitu meriah, diikuti dengan kue ulang tahun yang dibawakan Pak Hadi.


“Oh, my God,” bisik Lydia kemudian menoleh menatap Reino.


“Kok?”


“Kami meminta bantuannya untuk ini semua,” bukan Reino yang menjawab, tapi Vanessa.


“Lebih tepatnya, kami cuma minta tolong para asisten dan tiba-tiba saja Erika di telepon,” lanjut Cinta dengan senyum penuh arti.


“Dan boom, dia bilang ingin ikut acara ini dan akan mengatur semuanya,” Erika ikut menimpali.


Lydia kembali menoleh pada Reino setelah mendengar penjelasan itu. Senyumnya merekah sampai ke mata, sangat terlihat kalau Lydia sedang bahagia.


“Thank you,” bisiknya pelan.


“Lilinnya sudah mau habis,” seru Reino seraya mengedikkan dagu ke arah Hadi.


Lydia kali ini langsung menoleh pada Hadi yang menyambutnya dengan ucapan penuh pengharapan. Dan tepat sebelum Lydia meniup lilin ulang tahunnya, dia bisa merasakan pundaknya yang semula dingin kini menghangat.


Jas dengan wangi khas Reino melingkupi tubuhnya. Menutupi kekurangan kain pada pakaian yang dikenakannya dan membuat Lydia tenggelam, saking besarnya jas itu. Bukan Lydia yang kecil, tapi memang Reino yang tinggi besar. Dan kelakuan manis Reino ini membuat Lydia tersenyum.


“Ayo Lyd. Jangan kelamaan berdoanya,” keluah Vanessa sudah gemas sekali.


“Sabar kenapa sih?” gerutu Lydia, sembari merapatkan jas yang disampirkan Reino.


Entah kenapa Lydia merasa nyaman menggunakan jas itu. Terasa hangat dan menenangkan. Apa ini akibat keseringan tidur dengan Reino? Lydia juga tidak tahu karena sebenarnya belum sesering itu, tapi cukup untuk membuat Lydia memasukkan Reino dalam lingkaran orang berharga dalam hidupnya dan dalam doanya.


‘Tuhan, semoga seumur hidupku aku bisa ditemani sahabat-sahabatku ini. Semoga Reino juga bisa menjadi sahabat dan bos yang baik dan mungkin kami bisa berteman dalam jangka waktu lama.’


‘Dan yang paling penting, semoga aku, Mama, Kenzo, Vanessa, Erika, Cinta dan Ezra, Pak Hadi dan juga Reino. Semoga kami semua bisa hidup sehat dan bahagia selamanya,’ doa Lydia dalam hatinya.


Setelah puas berdoa, Lydia meniup lilin ulang tahun yang tersemat di kue. Suara teriakan para sahabat diikuti tepuk tangan meriah, membuat ruangan itu terasa dihadiri puluhan orang. Dan yang paling membuat Lydia terpaku adalah Reino yang terus menatapnya lekat.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2