
Entah sudah berapa kali Lydia meminta untuk istirahat ketika mereka menjelajahi beberapa candi atas permintaan ibu hamil. Yang paling parah, hari minggu itu sangat terik sehingga makin menguras tenaga.
Ketika berada di Borobudur, Lydia mengeluhkan betapa tingginya tangga yang harus didaki. Katanya kedua kakinya pegal sekali diajak mendaki. Ketika di kompleks candi Prambanan, Lydia mengeluhkan kompleks candi yang luas. Dan karena Cinta ingin berjalan kaki mengelilingi kompleks candi, semua rombogan ikut jalan.
“Astaga! Time out.”
Lydia yang sangat jarang olahraga, berteriak meminta waktu istirahat. Dia tak segan duduk di atas jalan berbatu dengan memanjangkan kaki. Sungguh hari ini kedua tungkai kurusnya tidak bisa diajak bekerja sama.
“Ck. Apaan sih? Yang pasutri siapa yang gak bisa jalan siapa,” ledek Vanessa diikuti kikikan geli yang lainnya.
Yeah. Kelelahan dan seluruh kaki sampai ke pinggangnya yang pegal itu karena ulah Polar Bear Mesum aka Reino Andersen. Oh, tentu para sahabatnya juga punya andil dalam hal ini.
Setelah acara ulang tahun singkat di tengah malam, Erika yang sekamar dengan Lydia, malah mendorong Reino untuk menjadi teman kamar perempuan kurus itu. Padahal Reino awalnya tidak berencana menginap, tapi karena diberi kesempatan dia tanpa ragu menyambarnya. Bahkan mengucapkan terima kasih pada Erika.
Dan tentu saja Reino tidak hanya sekedar ingin mengistirahatkan tubuhnya. Dia yang memang sudah berencana ingin bermain satu ronde sebelum pulang, malah menghabiskan stok pengaman yang ada di dompetnya. Itu pun tidak cukup.
Kalau bukan Lydia yang menangis meminta berhenti, pastilah sekarang ini dia benar-benar akan terbaring di atas ranjang karena lemas. Belum ditambah dengan bokongnya yang perih karena beberapa kali ditampar keras. Untung saja kali ini Reino tidak meninggalkan stempel jari di lehernya. Pria itu memang benar-benar liar.
Bukannya mendapat hadiah ulang tahun, Lydia malah dibuat babak belur oleh Reino. Menyebalkan sekali.
“Kalian main berapa ronde sih sampai segitunya?” tanya Erika berjongkok di sebelah Lydia dan memberinya air minum.
“I don’t know. Yang jelas karetnya sampai habis,” jawab Lydia sambil melirik tajam ke arah Reino yang terlihat sedang berbicara dengan Ezra.
Entah ada angin apa, Reino si gila kerja justru ikut jalan-jalan hari ini. Hari ini minggu sih, tapi tetap saja aneh. Setahu Lydia, Reino jarang liburan seperti ini.
“What? Jangan bilang walau karetnya sudah habis kalian tetap lanjut?” tanya Cinta dengan mata membulat. Membuat Lydia memindahkan fokusnya pada ibu hamil itu.
“Tadi pagi aku sudah minum obat kok,” sahut Lydia menjawab pertanyaan Cinta secara tidak langsung.
“Tetap saja, Lyd. Kamu harus hati-hati. Jangan sampai kecolongan,” nasihat Vanessa terlihat sangat serius.
__ADS_1
“Gak semua pacar mau tanggung jawab kalau misalnya kau nanti hamil,” lanjut Cinta jauh lebih serius dari pada Vanessa.
Lydia tidak menjawab dan hanya menatap Reino dengan tatapan antara cemas dan pasrah. Dia juga tahu hubungan mereka ini tidak benar, tapi kontraknya sudah terlanjur ditandatangani.
Tentu Lydia tidak memberitahu isi kontrak detilnya itu pada para sahabatnya. Mereka kurang lebuh tahu, tapi Lydia membiarkan mereka mengasumsikan sendiri apa hubungan dengan Reino. Syukurnya pria itu juga tidak terlihat keberatan.
“Perlu bantuan? Atau mau digendong saja sekalian?” tiba-tiba saja Reino mendatangi Lydia dengan ekspresi ketusnya yang biasa.
“Tentu saja Pak Reino harus membantu,” jawab Lydia mencibir pertanyaan pria itu.
Tanpa bicara, Reino mengulurkan tangannya untuk membantu Lydia berdiri. Memang merasa perlu bantuan dan tidak bisa berlama-lama istirahat, Lydia meraih tangan Reino yang hari ini terlihat tampan dengan baju kasual.
Entah Reino yang terlalu keras menarik Lydia atau tubuh kurus itu yang tidak seimbang. Tubuh Lydia yang terbalut kaos dan celana panjang, menabrak dada bidang Reino. Hal itu membuat Lydia menggosok hidungnya yang terasa sakit karena otot dada Reino yang terasa liat.
Tanpa terduga, Reino menunduk dan mengeceup ujung hidung Lydia dan menggeram setelahnya. Tidak berhenti sampai disitu saja, Reino sudah nyaris menayambar bibir Lydia. Untung saja dia bisa mengendalikan diri dan beralih untuk berbisik di telinga Lydia.
“Jangan memancingku di tempat umum, Lydia. Aku bisa melakukannya di mana saja.”
“Bangun atau aku akan menggarapmu di sini.”
Haridkan kasar dari Reino itu membuat mata Lydia yang terpejam segera membuka. Dia yang tadinya tertidur pulas akibat kelelahan kini menatap Reino dengan wajah mengantuk.
“Kita sudah mendarat?” tanya Lydia sambil menggosok matanya.
“Kita bahkan sudah sampai di depan rumahmu,” jawab Reino dengan sangat ketus.
“Hah?”
Lydia segera menatap ke luar jendela mobil dan memang mereka sudah ada di depan rumahnya. Lydia yang dari awal penerbangan sudah tak sadar, bingung kenapa tiba-tiba mereka sudah sampai di depan rumahnya. Mana hanya ada dia dan Reino saja, ditambah dengan Pak Hadi sebagai sopir.
“Terima kasih sudah diantar.” Lydia segera menunduk hormat dengan canggung.
__ADS_1
“Itu saja?” tanya Reino dengan mata melotot.
“Aku sudah menggendongmu turun dari pesawat dan mengantarmu pulang sampai ke rumah, bahkan semua bagasimu sudah mendarat di dalam kamarmu. Dan hanya ucapan terima kasih saja yang kudapat?” tanya Reino sedikit meninggikan suaranya.
“Ya terus apa dong, Pak?” tanya Lydia dengan raut memelas.
“Kalau Pak Reino minta ‘itu’ lagi saya gak sanggup. Yang kemarin saja masih terasa capek dan pegalnya, saya gak sanggup lagi kalau Pak Reino mau ‘itu’. Nanti besok bisa-bisa aku gak masuk kerja loh.”
Reino tidak menjawab Lydia. Dia tanpa permisi langsung menungkit dagu lancip sekretarisnya dan memagut bibir tebal itu. Lydia memang kurus dan mungil, tapi bibirnya cukup tebal. Tidak tebal seperti artis-artis Hollywood, tapi cukup untuk membuat Reino puas.
Kedua tangan besar Reino merengkuh leher Lydia. Entah melakukan apa di sana. Tapi saat ciuman mereka terlepas, Lydia merasakan lehernya lebih berat dari biasanya.
“Ini?” Lydia tercekat menemukan sebuah kalung kini menggantung di lehernya.
Itu adalah kalung yang tadi sempat dia lihat saat berada di pusat kerajinan perak. Mereka terpaksa singgah ke sana, lagi-lagi atas permintaan ibu hamil. Tadinya Lydia ingin membeli karena terlihat cantik, tapi batal karena lebih memilih untuk menabung uangnya.
“Happy birthday sekali lagi,” gumam Reino pelan sebelum kembali mengecup bibir Lydia sebagai penutup.
Lydia tercenung mendengar pernyataan Reino itu. Dia tidak menyangka kalau pria itu sempat melihat dirinya yang menatapi kalung itu, kemudian membelinya sebagai hadiah ulang tahun.
“Kau tidak ingin turun? Ibumu sudah menunggui di teras,” gerutu Reino membuyarkan lamunan Lydia.
“Oh, iya. Terima kasih sekali lagi. Terutama untuk kadonya,” balas Lydia sebelum membuka pintu mobil.
“Ini dia birthday girl kita,” Liani menyambut putrinya dengan sukacita. “Eh, bosmu gak diajak masuk?”
Lydia berbalik menatap kepergian mobil Reino. Dia tersenyum sembari memegang kalung yang diberikan Reino tadi.
“Dia sibuk, Ma. Mungkin lain kali,” jawab Lydia dengan lembut dan senyuman lebar.
***To Be Continued***
__ADS_1