Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Minta Izin


__ADS_3

Setelah menjalani pemeriksaan, rupanya Liani benar-benar hamil. Baru sekitar sebulan, tapi itu membuatnya jadi cemas. Bukan saja cemas ini akan membuatnya kelelahan di hari pernikahan, tapi juga cemas dengan Lydia dan Kenzo. Biar bagaimana, pendapat kedua anaknya itu penting.


“Wuah.” Kenzo langsung memekik senang mendengar kabar itu. “Aku akan punya adik? Sungguh?”


Liani senang ketika melihat putra bungsunya itu antusias mendengar berita bahagia yang satu itu. Artinya sekarang tinggal Lydia saja.


“Asal jangan banyak-banyak. Kalau satu masih bisa kumaklumi.” Pada akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan Lydia pada ibunya, walau dengan tampang yang masih tak rela.


******* napas lega langsung terdengar ketika Liani mendengar kalimat putrinya. Setidaknya kini tak ada lagi yang membebani pikirannya, selain harus segera menutup kandungan setelah melahirkan nanti.


Terima kasih karena mau memberi Mama satu kesempatan lagi,” bisik Liani memeluk lengan putrinya yang terasa makin gemuk.


“Ya mau gimana lagi. Sudah terlanjur juga.” Hanya itu yang bisa dikatakan Lydia. “Yang penting mama bahagia.”


Liani tersenyum cerah. Dia makin senang melihat putrinya yang sudah bertumbuh dewasa dengan sangat baik.


Perempuan berumur pertengahan empat puluh itu pun menoleh pada menantunya. Dia bisa melihat kalau sang menantu juga sangat menyayangi Lydia. Rasanya, dia bisa tenang melepas sang putri pada Reino.


“Omong-omong, Mama udah minta izin kan?” Tiba-tiba saja Lydia bertanya.


“Minta izin pada siapa?” tanya Liani ikut bingung.


“Tentu saja sama Papa.”

__ADS_1


***


Reino menuntun istrinya berjalan di antara nisan. Dia mengutuk dirinya sendiri yang melupakan satu hal penting. Reino belum pernah berziarah ke makam mendiang ayah mertuanya.


Sialnya lagi, Reino baru mengingat hal itu ketika Lyida bertanya pada sang mama soal izin. Lelaki blasteran itu makin mengutuk diri sendiri ketika mendengar Hadi sudah melakukan ziarah.


“Halo, papa.” Lydia berhenti ke sebuah makam yang sudah terlihat sangat bersih. “Maaf Lydia baru datang.”


“Hati-hati, Sayang.” Reino mengingatkan ketika sang istri ingin berjongkok. Perutnya belum besar, jadi masih mudah untuk melakukannya.


“Ke sini.” Lydia menarik suaminya untuk ikut berjongkok juga dan tentu saja Reino langsung menurut.


“Maaf ya, Pa. Lydia bener-bener minta maaf baru datang, tapi kenalin ini Reino. Suaminya Lydia.” Perempuan yang masih terbilang kurus itu menyentuh lengan sang suami.


“Banyak hal yang terjadi, jadi baru sekarang aku bisa datang jenguk dan memperkenalkan diri,” lanjut Reino yang membuat istrinya tersenyum.


Mereka berziarah cukup lama di sana karena Lydia bercerita banyak hal. Mungkin sekitar tiga puluh menit dan baru beranjak ketika ibu hamil kehausan dan kelaparan.


“Minum ini dulu.” Reino menyodorkan sebotol air mineral yang sejak tadi dia pegang.


“Habis ini kita langsung pergi makan ya. Aku lapar banget,” keluh Lydia kembali menyerahkan botol air pada suaminya.


“Tenang saja. Di mobil juga ada camiilan untukmu, jadi makan itu saja dulu.” Reino kembali menuntun istrinya, agar tidak salah langkah.

__ADS_1


“Sejak kapan kau punya camilan di mobil pribadi?” Lydia agak terkejut mendengar hal itu.


“Sejak kau hamil dan suka kelaparan,” jawab Reino dengan jujur. “Aku kan tidak mungkin membuat anak dan istriku kelaparan.”


“Gombal.” Hanya itu yang bisa dikatakan Lydia karena dia sudah harus masuk ke mobil.


Ingin tahu kebenaran ucapan suaminya, Lydia segera membuka laci dashboard mobil. Dia cukup terkejut ketika menemukan cukup banyak camilan di sana. Kebanyakan berupa biskuit, tapi Lydia sudah cukup senang melihatnya.


“Aku baru tahu kalau Nutella tersedia dalam bentuk biskuit.” Lydia langsung mengambil biskuit dalam kaleng kecil itu.


“Ada juga dalam bentuk stick dan roti kering. Kau mau kubelikan?” tanya Reino memilih fokus pada jalanan di depannya.


“Entahlah. Kurasa aku akan mencoba ini dulu karena biasanya Nutella itu manis.” Lydia dengan cekatan membuka biskuit yang masih tersegel itu dan dan mengambil satu.


“Hm.” Lydia tampak terkejut setelah gigitan pertama. “Ini enak. Tidak terlalu manis.”


“Kalau begitu aku akan menyetok banyak untukmu.” Reino mengangguk dan mengingatkan dirinya untuk membeli lebih banyak lagi.


Lydia ingin mencegah suaminya untuk berbelanja berlebihan, tapi batal karena ponselnya berdering. Itu adalah telepon dari sang mama.


“Lydia, bagaimana ini?” Liani langsung memekik ketika putrinya mengangkat telepon.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2