
“Selamat pagi menjelang siang semuanya,” Lydia menyapa orang-orang di ruangan marketing.
Selepas memberitahu asisten Thalita (yang kini beralih jadi asistennya), tentang beberapa hal soal pekerjaan yang harus di kerjakan, Lydia pergi ke divisi marketing untuk mulai menjalankan tugas dari Reino.
Sesuai dugaan, lebih banyak mata yang memandang Lydia dengan tatapan tidak suka. Sebagian besar berasal dari para wanita dan terutama dari tim dua.
“Sesuai perintah dari Pak Reino, saya akan melakukan sedikit evaluasi di divisi marketing kantor pusat kita. Sekalian juga menangani komplain yang berkepanjangan.”
Walau tatapan yang tertuju padanya agak membuat salah tingkah, Lydia tetap berusaha untuk tenang. Dia perlu segera menyelesaikan tugas ini jika ingin hidup tenang.
“Apanya yang mau dievaluasi dari timku? Performa kami baik-baik saja,” tanya Manajer Marketing terlihat marah.
“Maaf. Saya hanya menjalankan perintah dari Pak Reino. Untuk lebih jelasnya, Pak Beni bisa bertanya pada beliau.”
“Cih. Pasti ada lagi orang yang ingin kamu pecat di sini kan? Mentang-mentang simpanan bos, kamu bertindak seenak hatimu.”
Lydia memejamkan matanya dengan rapat. Tadinya dia ingin bicara baik-baik, tapi sepertinya sangat mustahil. Itu berarti dia akan menghabiskan waktu bagai neraka selama evaluasi kerja ini. Dan untuk sekarang Lydia harus mulai tegas.
“Saya sebenarnya tidak suka mencampur urusan pribadi dengan kerja, tapi karena Pak Beni duluan. Maka saya pun tidak akan segan lagi.”
“Pertama. Tentu ada yang dirasa kurang dari divisi ini sampai Pak Reino mengutus saya ke sini. Kedua. Memangnya saya pacaran dengan Pak Reino, tapi sekali lagi saya tidak mencampur kehidupan pribadi dengan pekerjaan.”
“Saya tahu yang Pak Beni maksud itu Thalita, tapi jelas dia dikeluarkan karena melakukan kesalahan fatal dan itu ada buktinya.”
Lydia memandang ke sekeliking ruangan dan menemukan beberapa orang mulai menunduk. Ada juga yang terlihat salah tingkah karena ketegasan Lydia. Itu cukup memuaskan.
“Jadi kalau kalian merasa tidak pernah berbuat salah, maka buktikan. Jangan hanya bergosip saja.”
Kalimat terakhir Lydia, nyatanya mampu membuat semua orang kembali sibuk pada pekerjaannya. Itu sudah cukup membuat Lydia menghembuskan napas lega. Padahal sedari tadi dia sudah gemetaran dan jantungnya nyaria saja lari ketakutan. Setidaknya kini Lydia bisa bekerja dengan baik.
Dan untuk mempersingkat waktu kerja, Lydia mulai dengan meminta semua orang menyiapkan laporan penjualan masing-masing setahun belakangan. Itu jelas membuat semua orang mengeluh. Tapi karena Lydia memberi toleransi waktu, tidak ada yang berani protes.
“Kamu terlihat sibuk.” Lydia mendonggak dan menemukan Revan berdiri di depannya dengan membawa nampan.
Ini memang sudah jam makan siang dan Lydia gang tidak pernah melewatkan jam makan siang, sudah duduk di kantin dengan tablet yang menyala di tangan dan buku terbuka di atas meja. Karena banyaknya komplain yang belum terselesaikan, Lydia terpaksa membawa pekerjaan ke kantin karyawan.
__ADS_1
“Apa di sini kosong?”
“Untuk apa bertanya kalau kamu sudah duduk.” Lydia menggeleng pelan sebagai reaksinya.
“Yah, namanya juga basa-basi,” kekeh Revan pelan.
“Tumben sendiri. Kiara mana?”
“Lagi ambil makanan,” jawab Revan asal saja. Dia juga tidak tahu ke mana rekan sedivisinya itu.
“Tapi kulihat dia sudah duduk di meja lain,” balas Lydia menunjukkan apa yang dia lihat dengan dagunya.
“Kalau sudah tahu kenapa tanya?”
“Basa-basi,” jawab Lydia yang membuat Revan tertawa.
Lydia sebenarnya sudah bisa menebak kenapa Kiara enggan lagi duduk dengannya. Itu jelas karena gosip yang beredar saat ini. Dan melihat kelakuan Kiara, Lydia yakin perempuan itu lebih percaya gosip yang berkonotasi negatif. Sebagian besar orang juga seperti itu.
“Apa sih yang kamu lihat dari tadi?” tanya Revan penasaran dengan Lydia yang makan sambil melihat tablet.
“Kenapa kamu yang urus begituan? Kan sudah ada customer service?”
“Perintah dari bos. Lagi pula apa sih yang dikerjakan para CS itu? Ada komplain yang bahkan sudah hampir sepuluh bulan.”
Penasaran dengan apa yang dikatakan Lydia, Revan ikut melongok ke tablet yang sedang dilihat Lydia. Dia cukup syok karena memang ada data yang bertanggal hampir sepuluh bulan lalu.
Lydia tidak segan menceritakan beberapa temuannya dan juga soal evaluasi kinerja tim marketing. Dan rupanya itu membuat Revan cukup terkejut.
“Astaga. Apa Pak Reino juga akan mengevaluasi divisi keuangan?”
“Sejauh ini sih tidak ada pembicaraan yang mengarah ke sana. Tapi kamu bisa siap-siap, siapa yang tahu tiba-tiba tim audit diturunkan.”
Ngomong-ngomong soal tim audit, bisa-bisanya mereka tidak menemukan klaim yang belum terselesaikan? Nanti Lydia harus membicarkan hal ini dengan Reino.
“Oh, iya Lyd. Boleh aku menanyakan sesuatu yang sifatnya sedikit personal?” tanya Revan setelah terlihat ragu-ragu.
__ADS_1
“Apa?”
“Apa sih sebenarnya hubunganmu dengan Pak Reino?”
Pertanyaan Revan itu membuat segala kegiatan Lydia terhenti seketika. Rasanya pertanyaan itu terasa seperti lemparan bola salju yang membuatnya kesakitan dan kedinginan.
“Memangnya apa yang kamu dengar?” Lydia balik bertanya karena tidak punya jawaban yang masuk akal.
“Katanya kalian berdua pacaran. Bahkan ada yang bilang kalian sampai berciuman dan melakukan hal-hal lainnya di dalam ruangan Pak Reino,” jawab Revan jujur. Setidaknya itu yang dia dengar dari orang-orang.
“Sebagian dari berita itu benar sih, tapi sebagiannya lagi jelas salah,” jawab Lydia memutuskan untuk mengikuti permainan Reino.
Lydia tidak bisa berkata jujur untuk saat ini karena tidak ada penjelasan yang masuk akal soal ciuman itu. Rupanya ide Reino yang paling terdengar masuk akal.
Ingin berbohong juga tidak mungkin karena ada orang yang melihat video ciuman mereka. Mau tidak mau Lydia juga terpaksa harus menggunakan ide Reino. Setidaknya sebagian merupakan kebenaran.
“Bagian mana yang benar?” tanya Revan harap-harap cemas.
“Kami memang berpacaran dan berciuman, tapi itu saja. Melakukan hal-hal lain dalam tanda kutip itu jelas tidak benar.”
“Tapi katanya Thalita ....“
“Aku berbeda dengan Thalita, Revan. Kalau pun aku melakukan itu, aku pasti memilih tempat yang lebih privasi.”
Mereka terdiam sesaat. Lydia kembali menekuri mie goreng dan tablet, sementara Revan menatap Lydia dengan tatapan agak terkejut.
“Apa itu berarti kamu sudah melakukannya dengan Pak Reino?”
Lydia tidak langsung menjawab. Dia melirik Revan sejenak, mencari tahu apa yang membuat pria itu syok dan terlihat kecewa? Apa pun itu Lydia merasa reaksi Revan sangatlah aneh.
“Kalau pun kami memang sudah melakukannya, apa menurutmu aku akan mengatakannya?” tanya Lydia yang tidak mendapat jawaban dari Revan.
“Percayalah apa yang ingin kamu percaya, Van.” Lydia kembali memberitahu.
***To Be Continued***
__ADS_1