
“Lydia, anakku.” Clarissa langsung memeluk menantunya saat datang. “Kamu ke mana saja, Sayang? Mama khawatir loh.”
“Maaf, Ma. Tadi tiba-tiba pengen keluar, jadi aku ajak pak Hadi.” Lydia tersenyum pelan. “Kebetulan Mama gak pakai mobil, jadi aku yang pakai.”
“Ya.” Clarissa mengangguk. “Mama tadi memang pakai ojek online biar cepat. Gak tahunya kamu malah hilang.”
“Maaf.” Hanya itu saja yang bisa dikatakan Lydia pada ibu mertuanya.
Reino yang tadi hanya sempat menggeramkan satu kalimat memilih diam saja sejak tadi, namun siapapun bisa tahu kalau lelaki itu sedang marah. Sayangnya Lydia memilih untuk acuh.
Perempuan yang tengah hamil muda itu, berjalan melewati suaminya untuk mencapai ranjang. Dia merasa lelah dan merasa perlu minimal berbaring dulu. Setelahnya dia siap menghadapi Reino.
“Bicaralah dengan lembut. Dia sedang hamil muda dan sensitif.” Tahu kalau putra dan mantunya perlu bicara berdua, Clarissa memberi nasihat pada sang putra, sebelum meninggalkan ruangan.
Namun setelah Clarissa pergi pun tak ada yang bicara. Reino hanya menatap istrinya dengan tatapan ingin membunuh, tapi Lydia sama sekali tak terpengaruh. Ibu hamil itu hanya menatap keluar jendela dengan tatapan menerawang.
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” desis Reino masih berusaha menekan amarahnya.
“Bukankah itu pertanyaanku?” Lydia menoleh menatap suaminya dengan tatapan datar.
“Aku yang duluan bertanya, Lydia.
“Tapi kau yang duluan pergi ke tempat perempuan itu,” balas Lydia masih saja datar.
“Dengar aku tidak tahu apa yang kau dengar, tapi ....”
“Aku mendengar percakapannmu dengan Pak Hadi,” potong Lydia dengan cepat. “Jelas terdengar kalau pergi ke rumah perempuan yang katanya punya anak denganmu.”
“Itu tidak masuk akal,” balas Reino dengan napas memburu karena emosi.
“Tidak perlu menyangkal, Rei. Perempuan itu mengatakan kau sempat ke sana, walau segera pergi.”
__ADS_1
“Shit.” Reino tak bisa tidak mengumpat ketika mendengar itu. Padahal tadi dia sudah memperingati Mary agar tidak mengatakan apa-apa.
“Tenang saja, bukan dia yang memberitahuku secara langsung.” Ucapan Lydia membuat Reino menoleh dan menatapnya bingung.
“Aku hanya mengatakan ingin mencai seseorang, tapi dia langsung mengusirku,” lanjut Lydia menjelaskan dengan detil. “Padahal sebelumnya dia tidak mengenaliku, tapi tiba-tiba dia mengenaliku.”
“Aneh kan?” tanya Lydia pada sang suami yang masih kesulitan mengatur napas.
“Hanya satu hal yang membuat perempuan itu tiba-tiba mengenaliku,” lanjut Lydia terlihat sangat tenang. "Pasti ada yang memberitahu dan itu jelas kau.”
“Bisa saja orang lain,” bantah Reino masih tidak mau kalah.
“Tapi kau yang barusan mengumpat dan mati-matian membantah untuk membuatku yakin,” jawab Lydia juga tidak mau kalah. “Lagi pula anaknya juga sudah mengaku saat melihat fotomu.”
“Itu bukan anakku. Demi Tuhan, itu bukan anakku.”
Kedua alis Lydia terjungkit naik saat mendengar itu. Dia cukup terkejut juga ketika Reino membawa-bawa nama Tuhan untuk menyangkal itu.
Lydia menatap suaminya dengan lekat. Dia menelisik setiap mimik yang ditunjukkan oleh Reino dan jelas terlihat kalau pria itu panik. Entah panik karena ketahuan atau hal lain.
“Siapa yang tahu apa yang kalian lakukan di kamar hotel?” tanya Lydia masih ingin memancing suaminya untuk jujur. “Bisa saja kalian bercinta dengan liar, sampai menjatuhkan barang-barang.”
“Demi Tuhan, Lydia! Aku sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan itu,” hardik Reino frustasi sekali karena istrinya tidak mau mendengar.
“Aku bahkan tidak pernah benar-benar suka padanya. Aku saat itu hanya main-main. Lagi pula dia sudah menikah.”
Sebelah alis Lydia naik mendengar penjelasan itu. Rasanya informasi yang satu ini belum pernah dia dengar. Mary hanya mengatakan kalau dia akan menikah dengan Reino, tapi tidak bilang kalau dia punya suami atau janda.
Tahu istrinya bingung, Reino menjelaskan. Katanya saat itu Reino dan Mary memang pacaran, tapi perempuan itu meninggalkan Reino dan menikah dengan orang lain. Alasannya tentu karena hamil.
“Sejak awal dia ragu kalau itu anakku, makanya dia menikahi orang lain. Sekarang kudengar mereka sudah cerai.” Reino mengakhiri penjelasannya.
__ADS_1
Lydia mengangguk mengerti. Dia kurang lebih sudah mengerti kenapa perempuan itu kini kembali mengejar Reino. Ada kemungkinan kalau anak itu bukan anak suaminya juga, makanya kini dia kembali pada Reino karena berpikir itu mungkin anak Reino.
“Kau sudah mendengar semuanya kan?” tanya Reino mulai terlihat tenang. “Jaid tolong berhentilah berprasang atau marah.”
“Aku memang sudah mendengar semuanya, tapi itu tidak membuatku tenang.”
Jawaban dari sang istri, membuat Reino mendesah. Padahal dia sudah jujur, tapi kenapa Lydia masih belum mau mendengar? Apa karena hormon kehamilan?
“Harusnya kau menjelaskan ini sebelum kau pergi tadi.”
“Tapi tadi kau sedang tidur,” balas Reino dengan cepat.
“Kau bisa menungguku bangun dan kita mungkin bisa pergi bersama untuk menjelaskan ini. Itu adalah cara yang paling benar, jika kalian memang tidak ada apa-apa,” jelas Lydia masih terlihat tenang dan sejujurnya, dia memang lebih tenang. Hanya saja masih kesal.
“Kalau kau tidak ada apa-apa dengannya, kenapa harus bertemu di belakangku? Di kamar hotel pula.”
“Karena aku tidak mau membuatmu khawatir.”
“Tidakkah kau berpikir dengan melakukan itu aku akan semakin khawatir,” balas Lydia dengan cepat.
“Aku sudah khwatir sejak kemunculan perempuan itu dan kau diam-diam pergi menemuinya.”
Reino mendesah. Sepertinya dia tak akan bisa memenangkan perdebatan ini. Dia memang salah, walau baru menyadarinya. Jadi jelas apapun pembelaannya, Lydia pasti tidak mau mendengar.
“Lalu apa yang sekarang ahrus kulakukan?” tanya Reino lelah. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau percaya.”
Lydia tak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir sesaat karena sesungguhnya dia juga bingung.
“Bisa dibahas besok saja? Aku sudah benar-benar lelah,” akhirnya Lydia memutuskan.
***To Be Continued***
__ADS_1