Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Dugaan Hamil


__ADS_3

“Coba bayangkan saja. Dia seenak hati nidurin aku dan pegang-pegang, tapi dia juga yang ngehina. Sakit hati juga tahu kalau keseringan dibilang rata,” sahut Lydia berapi-api pada ketiga sahabatnya yang lain.


“Emang dia ngomong apa?” tanya Cinta hati-hati.


“Katanya dadaku rata banget. Padahal dia suka-suka aja tuh,” jawab Lydia menggebu-gebu.


“Bokongmu gak dibilangin rata juga?” tanya Vanessa sengaja ingin memancing.


“Gak sih,” jawab Lydia jujur. “Tapi kalau dipukulin ya sakit juga.”


“Dipukulin? Kekerasan maksudnya?” kini giliran Erika yang bertanya.


“Ya... gak juga sih. Gimana ya ngomongnya? Yang kayak biasa ada di film-film gitu loh. Yang mainnya agak kasar.”


“Kasar ya? Tapi enak gak?” lagi-lagi Vanessa ingin memancing.


“Enak sih,” jawab Lydia sedikit lebih lirih dari sebelumnya, sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


“Guys. Kalian sadar gak sih?” tanya Cinta dengan tatapan penuh arti.


“Kita dari tadi omongin hal mesum dengan suara keras,” lanjut Cinta dengan suara lirih.


Vanessa adalah orang paling pertama tertawa keras, apalagi setelah melihat wajah Lydia yang memucat. Secara sedari tadi omongan Lydia yang paling vulgar dan lantang.


Untung saja cafe yang mereka datangi pagi menjelang siang hari ini belum begitu ramai, padahal ini adalah hari libur. Tapi tetap saja ada pegawai cafe yang mungkin bisa mendengar percakapan mereka.


“Kalian nyebelin banget. Pasti sengaja pancing aku buat ngomong kan?” tanya Lydia dengan mata menyipit.


“Itu ulah Vanessa ya. Aku bertanya hanya karena memang ingin tahu,” jawab Erika dengan tegas, diikuti dengan anggukan kepala Cinta.


Lydia berdecih kesal mendengarnya. Lydia harus mengakui kalau Vanessa memang paling pintar memancing dalam air keruh. Lain kali dia harus berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu.


“Jadi kalian bertengkar karena dia ngatain kamu rata?” tanya Vanessa ddengan alis yang dinaik turunkan berkali-kali.


“Aku gak mau terjebak lagi,” balas Lydia ketus.


“Yah, marah. Biasanya juga aku bilang apa juga gak marah,” balas Vanessa makin menjadi.

__ADS_1


“Kali ini aku serius bertanya,” lanjut Vanessa terlihat serius.


Lydia tidak langsung menjawab. Dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyipit tidak percaya. Awalnya sih Lydia tidak terpengaruh, tapi pada akhirnya dia menceritakannya.


Walau sedikit enggan, Lydia mengakui kalau dia kesal karena mulut Reino yang tanpa filter itu. Dan entah kenapa, Lydia yang biasanya tidak bocor kali ini bicara seperti keran bocor.


“Untung saja Mama dan Papa mertuaku membelaku.”


“Wait a minute,” sela Erika dengan tatapan bingung. “Siapa yang kau sebut dengan mertua?”


Wajah Lydia langsung memucat ketika mendengar pertanyaan itu. Dia rasanya ingin menjahit mulutnya dengan rapat, tapi sudah terlambat juga. Mau memutar waktu rasanya juga tak bisa.


“Salah dengar kali,” jawab Lydia terdengar gugup.


“Gak mungkin salah dengar. Aku juga mendengarnya,” balas Cinta diikuti dengan anggukan kepala Vanessa.


Lydia menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mungkin menceritakan ini pada para sahabatnya, tapi dia juga tidak bisa lagi menutupi semuanya.


“Lyd, kau tahu kan percuma menyembunyikan apa pun dari kita-kita,” seru Vanessa dengan nada yang ditarik.


Yeah. Lydia juga tahu hal itu, tapi dia masih bimbang. Pasalnya pernikahan mereka yang tidak layak disebut pernikahan itu benar-benar tidak terendus pihak luar. Hanya keluarga Reino, Viktor sebagai pengacara dan Hadi si pengurus yang tahu semuanya.


“Aku... bisa menceritakan sedikit pada kalian. Tapi kumohon bersumpahlah untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun,” cicit Lydia pada akhirnya bersedia untuk bercerita.


Setelah mendapatkan kesediaan tiga orang di hadapannya untuk tutup mulut, Lydia mulai bercerita. Tidak secara lengkap, tapi hanya sedikit saja.


Hanya pada bagian awal, pertengahan dan akhir cerita saja. Intinya yang penting para sahabat Lydia sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya dan Reino.


“Kau menikah dan tidak memberitahu kami?” tanya Cinta dengan wajah tak percaya.


“Mama dan adikku saja tidak tahu. Bagaimana mungkin aku memberitahu kalian,” jawab Lydia agak ketus.


“Benar juga sih. Rasanya aneh Tante Liani dan Kenzo tidak tahu, tapi kami tahu,” balas Erika dengan anggukan kepala pelan.


“Tapi gini loh, Lyd. Kenapa gak memberi tahu keluargamu? Kan bisa kalau kalian berlagak pura-pura harmonis,” tanya Vanessa dengan kening berkerut.


“Kalian tahu mamaku seperti apa. Dia tidak akan semudah itu menikahkanku. Apalagi tiba-tiba,” balas Lydia yang kemudian segera disetujui yang lainnya.

__ADS_1


“Sorry kalau kau tersinggung mendengar ini, tapi buat apa Reino menceraikanmu hanya untuk membuat kontrak baru denganmu?” tanya Cinta yang sudah sejak tadi merenungkan ini.


“I mean... Itu kan aneh banget. Cerai, tapi gak mau kelihatan cerai. Padahal diantara kalian kan gak ada anak yang mau dijaga perasaannya,” lanjut Cinta masih bingung.


Jangankan Cinta. Lydia saja masih bingung soal hal ini. Dia bisa menebak alasannya sih, tapi tetap saja aneh. Apalagi belakangan ini orang tua Reino malah meminta cucu. Yang benar saja.


“Reino itu anak mama. Dia sepertinya khawatir kalau ibunya akan sakit dan bersedih jika tahu rumah tangganya hancur.”


“Kalau gitu kan tinggal nikah beneran saja,” balas Erika.


“Dia sepertinya ingin bebas dan tidak ingin terikat. Biasalah biar bisa tidur sama banyak perempuan,” geram Lydia terlihat marah.


“Tapi kontrkamu dengannya kan dua tahun. Itu artinya dia gak bakal tidur sama perempuan lain kan selama kontrak itu berjalan?” kini giliran Vanessa yang bertanya.


Kening Lydia langsung berkerut begitu mendengarnya. Jika Reino memang pria yang bebas, kenapa dia setuju untuk tidak menjalin hubungan jenis apa pun dengan wanita lain selama kontrak berjalan. Dia bisa saja menolak pasal itu, tapi dari awal Reino tidak mempermaslahkannya.


“Apa mungkin dia menyesal menceraikanmu?” tanya Cinta dengan mata berbinar.


“Maksudku bisa saja kan dia baru sadar sudah jatuh cinta padamu setelah kalian cerai,” lanjutnya lebih ceria dari yang sebelumnya.


“Gak mungkin. Orang dulu kami hampir gak berinteraksi,” sanggah Lydia sedikit ngegas.


“Atau mungkin dia jatuh cinta padamu setelah kalian bercerai?” tanya Erika.


“Atau setelah kalian tidur bersama untuk pertama kalinya,” sambung Vanessa dengan antusias.


Lydia mendengkus mendengar semua teori itu. Baginya itu adalah hal yang paling tidak masuk akal.


“Gak ada yang begituan. Kalian kebanyakan baca novel dan nonton drakor,” sangkal Lydia dengan nada sedikit tinggi.


“Namanya juga tebakan, Lyd. Gak usah sensi gitu kali,” sergah Erika sedikit cemberut.


“Eh, orang hamil kan biasanya emosian.”


“Korelasinya dengan aku apa, Ta?” geram Lydia menanggapi kalimat absurd dan ambigu itu.


“Kamu gak hamil kan, Lyd?”

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2