Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Solusi


__ADS_3

[Lydia Andersen: Bagaimana cara tahu tentang hubungan darah ayah dan anak selain tes DNA?]


Alih-alih berkonsultasi dengan suami, keluarga atau dokter, Lydia memilih untuk menghubungi para sahabat baiknya. Tentu dia melakukan itu ketika Reino sudah tertidur di atas sofa bed yang disediakan rumah sakit.


[Vanessa Cerewet: Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?]


[Vanessa Cerewet: Apa Reino selingkuh dan punya anak di luar nikah?]


[Erika Jayantaka: Atau dia sudah pernah punya anak diluar nikah?]


[Cinta Brawijaya: Jangan bilang ada perempuan yang datang dan mengaku punya anak dari suamimu?]


Pertanyaan datang secara beruntun. Itu membuat Lydia cukup senang karena masih ada yang memperhatikannya. Bahkan Cinta yang kebetulan terbangun karena bayinya menangis pun, menyempatkan diri membalas chat. Mereka sempat membicarakan itu, sebelum Lydia menjawab kalau tebakan Cinta yang benar.


Sebenarnya Lydia sudah mencari tahu beberapa hal terkait hal ini di internet, tapi jawabannya hanya satu. Tes DNA. Ada sih jawaban lain, tapi itu jelas tidak bisa dijadikan patokan karena hanya mengandalkan ciri fisik dan sifat.


“Bagaimana dengan golongan darah?” Cinta memberi tahu lewat fitur suara. Dia sedang tak bisa mengetik.


“Ck. Itu juga meropotkan,” gumam Lydia seorang diri.


Lydia sudah memikirkan itu juga, tapi hasilnya bisa saja tidak tepat. Ada begitu banyak orang yang bergolongan darah sama di bumi yang punya nyaris 8 miliar penduduk itu. Tes golongan darah jelas tidak akurat.


“Kalau tes DNA kan aku harus melibatkan banyak orang. Ini agak merepotkan.” Lydia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Tidak lupa dia memberitahu itu pada para sahabatnya.


[Erika Jayantaka: Menurutku kau tetap harus melibatkan minimal orang tua Reino. Mereka harus tahu seperti apa kelakuan anaknya itu.]


[Vanessa Cerewet: Aku setuju. Mereka juga bisa membantumu melakukan banyak hal.]


“Makin repot.” Lydia mendesah membaca balasan teman-temannya itu. Dia sedang ingin menghindari hal-hal merepotkan.


“Lydia?”


Yang empunya nama baru saja akan mengetik balasan, ketika mendengar suara bariton serak memanggil namanya. Rupanya Reino terbangun karena mendengar suara dentingan ponsel Lydia, disertai voice chat Cinta. Kebetulan Lydia memang lupa mengaktifkan mode getar.


“Kenapa belum tidur?” tanya pria itu sambil menggosok mata mengantuknya. Lydia bisa melihat dari ranjang karena dia sedang duduk tanpa bersandar.


“Tidak bisa tidur,” jawab Lydia refleks, tapi masih terdengar ketus.

__ADS_1


“Kok bisa?” tanya Reino kini beranjak dari sofa.


“Lucu sekali.” Lydia mendengkus kesal mendengar itu. “Memangnya siapa yang membuatku tidak bisa tidur.”


Reino mendesah pelan. Dia baru teringat kalau istrinya uring-uringan karena kelakuan bodohnya. Tadi Lydia bahkan enggan langsung menyelesaikan masalahnya.


Kini setelah dipikirkan dengan badan lebih segar dan kepala yang telah diguyur air dingin, Reino menyesal. Harusnya dia memang menenangkan istrinya dulu baru pergi mengancam perempuan sialan yang menjadi penyebab semua ini.


“Kalau tidak bisa tidur, setidaknya duduklah sambil bersandar.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Reino. Dia tak berani mengatakan hal yang macam-macam lagi. “Biar kunaikkan sandaran ranjangnya ya.”


“Tidak perlu,” tolak Lydia dengan nada ketus yang masih sama.


“Apa sudah mau tidur?” Reino kembali bertanya.


“Itu urusanku.”


Reino kembali mendesah. Dia sudah kehabisan akal untuk membujuk istrinya yang tengah hamil muda itu. Rasanya susah sekali mengatasi kecemburuan istri yang tengah digerogoti hormon kehamilan, apalagi dirinya dalam keadaan lelah.


“Baiklah. Kalau begitu biar aku menemanimu.” Reino akhirnya menarik kursi yang ada di dekat ranjang. “Siapa tahu saja kau butuh sesuatu nanti.”


Lydia dengan segera meletakkan ponselnya di atas nakas rumah sakit. Dia kemudian menarik selimut sampai ke dada dan memunggungi sang suami.


‘Satu domba. Dua domba. Tiga domba.’ Lydia berusaha untuk cepat terlelap dengan cara menghitung domba dalam hati, seperti yang pernah dia lihat di film kartun.


“Eh?” gumaman itu refleks keluar dari mulut ibu hamil itu, kala merasakan ada yang naik ke atas ranjang.


“Apa yang kau ...” Tahu itu adalah suaminya, Lydia ingin menegut. Namun sebelum kalimatnya selesai, dia sudah merasakan lengan kekar melingkari pinggangnya.


“Aku sangat lelah, Lyd,” gumam Reino menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Menghindu aroma manis yang sudah amat dia rindukan, padahal hanya tak bertemu selama kurang lebih 15 jam.


“Pulang meeting aku langsung datang ke sini untukmu,” tambah Reino dengan mata terpejam. “Jadi sekarang biarkan aku istirahat dengan nyaman.”


“Kau bisa tidur di sofa,” keluh Lydia berharap suaminya menyingkit, namun ternyata tidak.


Alih-alih mendengar tanggapan suaminya, Lydia malah bisa mendengar suara dengakuran halus. Ditambah dengan hembusan napas teratur yang sedikit menerpa kulit lehernya.


“Sudah tidur?” pekik Lydia cukup kaget. “Astaga bagaimana dia bisa tertidur secepat ini.”

__ADS_1


Lydia yang merasa sedikit sesak, ingin menyingkirkan tangan suaminya. Usaha itu bukannya berhasil, malah Reino makin mengertakan pelukannya. Itu membuat Lydia curiga kalau suaminya belum tertidur, namun pria itu tak kunjung bangun ketika dipanggil.


Alhasil Lydia terpaksa membiarkannya dan berusaha untuk tidur saja. Diluar dugaan, dia pun tertidur dengan sangan cepat. Rasanya nyaman, hangat dan aman dari pelukan Reino, membuat Lydia dengan mudah terlelap.


***


“Rei. Reino.”


Yang empunya merasakan tubuhnya digoncang, tapi rasanya dia enggan sekali bangun. Tubuhnya yang kelelahan masih perlu waktu untuk tidur sejenak, sebelum menghadapi hari melelahkan karena sang istri yang masih marah.


“Biarkan saja, Ma. Sepertinya Reino masih ngantuk dan lelah.” Reino tersenyum mendengar suara istrinya, berikut suara omelan sang mama entah yang mana.


Rasanya itu baru terjadi sekitar 5 menit lalu, tapi kini tubuhnya kembali digoncang dengan keras. Diikuti gerutuan sang istri.


“Bangun sekarang atau aku akan mendorongmu turun.”


“Lima menit lagi, Sayang,” pinta Reino berusaha mencari tubuh sang istri untuk dia peluk, namun tangannya dipukul.


“Ini sudah sejam sejak pertama kali kau dibangunkan, jadi sekarang kau harus bangun. Jam kunjungan dokternya sudah dekat.”


Reino mendesah pelan. Dengan gerakan pelan pula, dia membuka mata dan melihat sang istri yang kini melipat tangan di depan dada. Jelas terlihat masih marah, tapi Reino ingin mencoba peruntungannya.


“Good morning.” Reino berusaha untuk mencium sang istri, tapi perempuan itu menghindar dengan cepat.


“Masih marah?”


“Memangnya tidur bisa membuat aku hilang ingatan?” Lydia balas bertanya dengan ketus. “Ingatanku masih amat


“Lalu apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tidak marah lagi?” tanya Reino malas-malasan. Dia masih mengantuk.


“Gampang.”


Mendengar balasan sang istri, Reino langsung berbinar. Sayangnya itu hanya berlangsung sebentar karena syarat yang diberikan Lydia membuatnya kesal.


“Buktikan kalau itu bukan anakmu. Selain itu, aku ingin kau memberitahu hal ini pada Papa dan Mama.”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2