
“Bagaimana ini?” Liani tampak panik ketika melihat putrinya sampai ke rumah lama mereka.
“Mama kenapa?” Lydia segera menaruh tasnya di sofa dan duduk di samping sang ibu dengan wajah cemas.
“Tadi mamamu ada sedikit flek.” Pak Hadi yang akhirnya menjelaskan kondisi calon istrinya itu. “Jadi kami pergi ke dokter karena Liani agak khawatir dan ternyata ....”
“Kantong janinnya ada dua,” lanjut Liani memotong kalimat calon suaminya.
“Hah?” Reino dan Lydia bergumam bersamaan.
“Sepertinya kembar.” Lagi-lagi Hadi yang menjawab.
“Maaf, Lyd. Mama bener-bener gak sengaja. Padahal kau sudah mengatakan hanya ingin satu adik lagi, tapi pada akhirnya jadi dua. Mama khawatir padamu.” Liani makin panik saja.
Jujur saja, Lydia sangat syok. Dia tak menyangka akan mendapat dua adik lagi dan ingin protes, tapi mau apa lagi? Sudah terjadi juga dan dia tak bisa menyalahkan sang mama. Liani jelas tidak bisa mengontrol hal seperti itu.
“Tidak apa-apa kok, Ma.” Lydia akhirnya berbicara setelah diam cukup lama. “Lagi pula, Mama kan tidak bisa mengatur yang seperti itu.”
“Iya sih.” Liani meringis pelan. “Tapi yakin tidak masalah?”
“Yakin, Ma. Apa pun itu Lydia ikhlas asal Mama bahagia,” jawab Lydia dengan kening berkerut.
Bukan. Lydia bukan sedang menahan amarah atau sejenisnya, tapi dia hanya sedang merasakan kelaparan. Tadi mereka tidak sempat pergi mencari makan karena Liani terdengar histeris dan menangis.
“Mbak Lydia yakin?” Kali ini Hadi yang bertanya dengan anda khawatir. Dia juga takut kalau anaknya nanti tidak diakui.
__ADS_1
“Yakin.” Lydia mengangguk pelan. “Cuma ....”
“Cuma apa?” Reino ikut bertanya melihat wajah pucat istrinya. “Apa kau merasa sakit? Mual atau apa?”
“Lapar,” jawab Lydia menoleh pada sang suami dengan wajah memelas.
Semua orang langsung mendesah lega mendengar hal itu. Padahal mereka sudah membayangkan yang tidak-tidak, tapi rupanya Lydia hanya lapar saja. Untung saja Kenzo yang baru pulang membawa dua porsi martabak. Satu yang manis dan satu yang asin. Setidaknya itu cukup mengganjal perut ibu hamil.
***
Waktu berlalu dengan cukup cepat. Rencana pernikahan Liani yang sebelumnya enam bulan lagi, kini dipercepat. Hanya dalam waktu sebulan acaranya sudah dilaksanakan. Itu pun hanya sederhana saja.
“Seriusan nih? Mamamu nikah gini aja?” Vanessa, salah satu sahabat Lydia berkomentar.
“Jangan tanya aku.” Lydia menjawab dengan ******* pelan. “Ini keinginan mereka berdua. Katanya sudah tua dan mama juga sudah kedua kali.”
“Mulut tetangga itu bagai racun dan dengungan seribu nyamuk,” lancut Cinta yang terlihat pasrah dengan kedua bayinya yang masih kecil dan agak rewel itu.
“Ya, makanya Reino mati-matian ingin menyewa minimal gedung. Tapi pada akhirnya hanya sewa tenda saja di depan rumah. Untung mama tidak keberatan mengambil makanan hotel.” Lydia menjelaskan sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat bentuknya.
“Artinya kau harus menyiapkan telinga mendengar gibahan tetangga.” Vanessa hanya bisa mendesah pelan membayangkan apa yang mungkin sahabatnya dengar dari tetangga.
“Lupakan soal tetangga. Aku mau mengelus perutmu biar cepat ketularan.” Erika dengan senyum cerahnya, mengelus perut Lydia yang hari ini menggunakan gaun longgar itu.
“Dari pada mengelus perut, bagaimana kalau kau mengurus anakku dulu?” Cinta tak segan memberikan salah satu anak kembarnya pada Erika. “Aku mulai kelelahan, tapi para lelaki itu malah ghibah.”
__ADS_1
Lydia tertawa pelan melihat kesusahan sahabatnya mengurus anak kembar. Dia jadi membayangkan bagaimana sang mama nanti mengurus bayi, setelah lama tidak melakukannya. Pastilah sangat melelahkan.
Sebenarnya Lydia masih ingin berkumpul dengan para sahabatnya, tapi acara sudah hampir dimulai. Dia perlu duduk di bagian paling depan dan menyaksikan pernikahan ibunya. Untung saja ada pendeta yang bisa dipanggil ke rumah.
“Apa kau lelah?” Reino bertanya pada sang istri setelah mereka duduk dengan nyaman. Lelaki itu bahkan sudah merangkul dan menyandarkan kepala Lydia di bahunya.
“Sedikit, tapi kurasa tidak masalah.” Lydia menjawab dengan senyuman. “Kebahagiaan mama membuat rasa lelah itu agak berkurang.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi kalau kau lelah, katakan padaku. Kita bisa istirahat dulu di kamar lamamu.” Reino menggenggam tangan sang istri.
Lydia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak bisa banyak bicara lagi karena acara sudah dimulai. Mereka tidak dilarang berbicara, tapi Lydia sedang terharu. Dia menyaksikan ibunya tersenyum bahagia menatap Hadi.
Sudah lama Lydia tak melihat ibunya tersenyum secerah itu dan dia bahagia karenanya. Sekarang Lydia bersyukur karena bisa bertemu dengan Reino. Menyebalkan pada awalnya, tapi pada akhirnya mereka bahagia dan membuat ibunya bertemu dengan Hadi.
“Aku bersyukur dulu kau memilihku untuk jadi istri kontrak,” bisik Lydia tetap melihat ke depan. “Setidaknya itu bisa membuat mama bertemu dengan Pak Hadi dan mereka bisa bahagia.”
“Apa itu artinya kau tidak bahagia?” Reino menoleh menatap istrinya dengan kening berkerut.
“Tentu saja aku merasa bahagia. Maksudku aku senang karena semua orang pada akhirnya bahagia.” Lydia menjawab disertai dengan pukulan ringan di lengan suaminya.
“Dan kita akan bahagia selamanya.” Reino mengecup pelan puncak kepala istrinya.
“Semoga.”
“Bukan semoga, tapi aku menjanjikan itu. Kita akan terus bahagia.”
__ADS_1
Lydia tersenyum mendengar kalimat suaminya itu. Terdengar gombal, tapi Lydia tahu kalau Reino bersungguh-sungguh dan dia menantikan kebahagiaan itu.
***