Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ditawar


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Lydia menghela napas. Entah berapa lama juga dia berdiri di depan gedung kantornya. Pikirannya yang kusut menjadi penyumbang hal-hal yang dia lakukan di luar kebiasaan.


“Lydia?”


Yang empunya nama berbalik. Dia bisa melihat Kiara turun dari ojek online dan berlari ke arahnya.


“Ngapain berdiri di sini?”


“Melamun,” jawab Lydia jujur.


“Apa sih yang dilamunkan?” tanya Kiara penasaran, sambil menggandeng mantan teman sedivisinya itu.


“Mamaku masuk rumah sakit karena kecelakaan,” jawabnya terpaksa mengikuti langkah Kiara.


“Eh, kok bisa?”


Lydia menjelaskan kronologisnya sesuai yang dia dengar dari polisi. Dia juga mengatakan alasannya melamun karena memikirkan biaya operasi yang mahal.


Tidak ada yang bisa dikatakan Kiara, selain berusaha menghibur rekan kerjanya itu. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa jika sudah menyangkut uang puluhan, apalagi ratusan juta. Dan Lydia jelas memaklumi hal itu.


Helaan napas terdengar lagi dari bibir Lydia. Kini dia sudah duduk manis di mejanya dan melirik ke meja bosnya dengan tatapan risau. Sampai saat ini dia masih mempertanyakan tawaran Reino kali lalu.


“Apa kau akan menerima tawaranku?”


“ASTAGA!” Lydia terlonjak mendengar suara Reino yang terasa dekat.


“Astaga, Pak! Bisa tolong jangan mengagetkan?” tanya Lydia ketika menemukan Reino berdiri di dekat mejanya.


“Aku bertanya padamu tadi,” balas Reino tidak mengindahkan gerutuan Lydia.


“Berhentilah bertanya, Pak. Anda sebaiknya siap-siap untuk bertemu dengan pihak dari Arcery, mereka akhirnya mau mempertimbangkan produk kita,” seru Lydia sambil mulai menyalakan komputer.

__ADS_1


Reino menggeram marah. Dia ingin mendapatkan jawaban dari Lydia, terutama karena wanita itu terus-terusan melirik mejanya. Tapi dia juga tidak bisa mengacaukan pertemuan dengan rekan bisnis potensial.


PT. Linder, Tbk akhirnya berhasil menarik minta Arcery Corp. Sebuah perusahaan retail raksasa yang baru-baru ini meresmikan mal baru. Setelah sekian tahun berdiri, perusahaan Retail itu belum pernah melirik produk dari Linder untuk dipasarkan di supermarket mereka. Apalagi mengizinkan perusahaan yang dipimpin Reino itu membuka gerai di mal mereka.


Dan kali ini pihak dari Arcery sendiri yang memberi penawaran. Tentu saja Reino tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena itu pula pria itu datang lebih pagi karena pihak Arcery meminta perubahan jadwal menjadi lebih pagi.


“Saya dengar Pak Zeus tidak bisa hadir pagi ini karena anak bungsunya sedang sakit. Jadi beliau akan diwakili oleh orang lain,” Lydia menjelaskan ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


“Memangnya anak bungsunya umur berapa sih? Kenapa juga harus diurusi?” geram Reino kesal sekali. Dia sudah turun tangan langsung, tapi pihak sana malah tidak.


“Mereka masih balita, Pak.”


“Excuse me?” seru Reino mencondongkan tubuhnya ke depan. “Mereka masih balita?”


“Anak bungsu Pak Zeus itu kembar, Pak. Dan ya mereka bahkan belum berumur 5 tahun dan terpaut 19 tahun dengan kakak sulungnya yang merupakan istri dari pemilik Constate Enterprise.”


Lydia mengulurkan tabletnya ke belakang menunjukkan foto keluarga terbaru dari orang-orang yang baru dia ceritakan. Reino yang duduk di belakang, menyambar tablet itu kemudian membaca informasi yang tertera di sana.


“Shit. Cucunya bahkan seusia anaknya,” maki Reino tak terkendali, membuat Lydia terkekeh.


Sudah mengubah waktu dan tepat meeting seenak hati. Pria tua tambun itu juga minta ditraktir sarapan mewah di hotel bintang lima. Belum juga jadi partner, tapi sudah seperti itu. Dan itu bukan hanya membuat Reino kesal, Lydia saja kesal setengah mati.


“Tapi, Pak. Yang ada dalam draft perjanjiannya tidak seperti itu. Sebelumnya Pak Zeus bilang ingin mencoba beberapa produk dulu, tapi kenapa sekarang anda langsung menolak draft perjanjiannya?" tanya Reino berusaha menahan amarahnya.


“Tentu saja karena servis kalian sama sekali tidak baik,” jawab pria itu malas-malasan.


“Saya kurang mengerti maksud anda,” seru Reino masih berusaha menahan amarah, padahal tangannya sudah mengepal di bawah meja.


“Tentu saja karena pemandangannya kurang bagus,” Pria tua buncit itu mengedikkan dagu ke arah Lydia.


Kening Lydia sedikit berkerut mendengar pernyataan itu. Apa dirinya terlalu jelek? Atau mungkin ada yang salah dari penampilannya? Dia bingung apa yang salah dari dirinya, tapi rupanya Reino mengerti.

__ADS_1


“Saya merekrut karyawan dengan melihat keterampilan kerjanya, Pak. Penampilan bukan segalanya," Reino menggeram. Rasanya pria tua di depannya ini benar-benar menguji kesabaran.


Dan begitu mendengar kalimat Reino, Lydia jadi mengerti apa yang dimaksud klien mereka itu. Jika dibandingkan dengan wanita yang menemani klien mereka, jelas Lydia hanyalah sampah.


Lydia terang-terangan menatap wanita yang duduk di depannya. Wajahnya cantik, tapi Lydia juga cukup percaya diri dengan wajahnya. Lain halnya kalau masalah bodi, dia jelas kalah. Wanita itu jelas punya bodi seperti Kylie Jenner.


“Yah, asal dia juga terampil di atas ranjang.” Pria tua perwakilan dari Arcery itu terkekeh setelah mangatakannya.


“Apa maksud anda?” tanya Reino kini tidak lagi menutupi kemarahannya. Dia dengan jelas menunjukkannya dengan wajah memerah sempurna.


“Pak.”


Lydia menggenggam kepalan tangan Reino, agar pria itu bisa menahan emosi. Tidak baik bagi perusahaan jika Reino sampai mengamuk di tempat umum seperti ini. Apalagi jika berhadapan dengan klien.


“Kudengar sekretarismu yang lama cukup bagus di atas ranjang. Jadi pastinya yang ini juga bagus kan? Boleh pinjam gak? Kalau mau kita bisa tukaran, sekretarisku ini juga jago kok.”


Kedua mata Lydia membulat tidak percaya. Dia baru saja diajak tidur dengan seorang pria yang jauh lebih tua dengannya? Tidakkah ini terlalu menjijikkan? Dan lagipula dia bukan barang yang bisa dipenjam lalu dikembalikan. Dirinya bukan wanita murahan yang akan tidur dengan semua orang.


Lydia makin merasa jijik ketika pria tua itu tanpa peduli ada di mana, merangkul sekretarisnya dan meremas dadanya. Ingin rasanya Lydia menendang ************ berkaratnya.


“Bisa ulangi sekali lagi?” tiba-tiba saja suara Reino yang agak lirih terdengar di telinga Lydia. Dari nadanya, sudah jelas dia sangat marah.


“Pak. Sebaiknya kita pulang saja.” Lydia sudah menyentuh bahu Reino dengan hati-hati. Ketika pria tua di depannya berbicara lagi.


“Kamu minta aku mengulang kata-kataku tadi kan?” tanya pria itu untuk meyakinkan.


“Maaf, Pak. Saya rasa kami harus permisi.” Lydia sudah berdiri dari tempatnya dan menarik lengan Reino, tapi terlambat. Pria tua itu sudah membuka mulut lagi.


“Biarkan aku tidur dengan sekretarismu dan kamu bisa tidur dengan sekretarisku. Mau main berempat juga bisa. Aku malah suka kalau ramai-ramai.”


Lydia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi rasanya hanya dalam sekejap mata, meja kayu persegi yang tadinya masih dipenuhi cangkir, kini telah terlempar ke samping. Dan Reino malah sudah berdiri, menarik kerah klien mereka dengan wajah merah padam karena marah.

__ADS_1


“Berani-beraninya,” geram Reino sudah siap memukul kliennya.


***To Be Continued***


__ADS_2