
“Mau Mama pijitin?”
“Loh, Mama? Kok belum tidur sih?” Lydia yang berbaring dengan menatap tablet, langsung berdiri menyambut ibunya.
Liani membawa nampan kecil berisi susu vanila hangat. Lydia segera meraih nampan itu untuk diletakan di atas nakas. Lianilah yang kemudian mengambil gelasnya dan meminta anaknya untuk minum susu dulu.
Lydia meminum susunya tanpa protes. Dia baru protes ketika sang ibu mulai memijat bahunya yang memang terasa kaku akibat terlalu lama kerja.
“Mama,” Lydia menyingkirkan tangan Liani dengan lembut. “Mama ngapain sih?”
“Mijitin kamu lah. Belakangan ini kan kamu lembur terus, pasti capek banget.”
“Capek sih, Ma. Tapi bukan berarti Mama harus mijitin aku dong. Mama kan habis operasi, jadi harus banyak istirahat.”
“Tapi kamu jadi makin sibuk pasti gara-gara biaya rumah sakit kan?” tanya Liani yang hanya bisa dijawab ringisan oleh Lydia.
Sebagai pasien, Liani juga tahu rincian biaya rumah sakitnya. Walau terakhir dapat upgrade kamar gratis, tapi dia tetap harus membayar selisih biaya dengan yang ditanggung BPJS. Dan nilainya itu lumayan.
Liani yang belum tahu kalau utang keluarga mereka sudah lunas, tentu mengkhawatirkan keuangan anak sulungnya. Sejak Lydia kerja, memang dia yang mengurusi soal utang-utang itu.
“Maaf ya, Nak. Padahal sebagai orang tua, harusnya Mama yang menjamin hidup kamu. Tapi sekarang malah Mama dikeluarkan dari kantor karena sudah terlalu lama gak masuk.”
“Ya. Gak apa-apa Ma. Toh Mama juga dikeluarkan karena kantor tidak bisa memberikan cuti terlalu lama. Itu bukan salah Mama. Lagian kan Lydia sudah dewasa, sudah sewajarnya ikut membiayai rumah tangga. ”
Liani tersenyum mendengar penuturan anak sulungnya itu. Tidak terasa anaknya sudah sedewasa ini dan itu membuat Liani jadi terharu.
“Rasanya Mama gak pernah siap untuk lepasin kamu jadi istri orang deh,” gumam Liani sambil mengusap sudut matanya.
“Mama apa-apaan sih. Aku kan masih dua empat. Masih muda banget.”
“Tetap saja, Lyd. Jodoh kan siapa yang tahu.”
Lydia meringis mendengar kalimat ibunya itu. Andai Liani tahu kalau secara hukum statusnya sudah janda, Lydia yakin ibunya itu pasti akan pingsan. Tapi tentu saja dia tidak akan mengatakannya.
__ADS_1
Liani pun membiarkan anaknya kembali bekerja, agar cepat selesai dan cepat istirahat. Dan yeah, Lydia membawa pulang beberapa pekerjaan. Terutama soal mengevaluasi kinerja tiap sales marketing, sampai dengan ketua tim mereka.
Itu pekerjaan yang cukup mudah, tapi sangat memakan waktu. Mudah karena Lydia hanya perlu melihat catatan penjualan dan makan waktu karena sales marketing di kantornya itu banyak. Untung saja Lydia tidak harus memeriksa tiap cabang se Indonesia.
Dan untung saja kemarin Lydia berhasil menolak Reino dengan alasan tak masuk akal, tapi besok dia tak bisa menolak lagi. Reino bahkan sudah memintanya datang ke apartemennya sepagi mungkin dan sudah menjadwalkan tugas ke luar kota.
Lydia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya nanti. Satu sesi singkat saja sudah membuat Lydia kewalahan, apalagi kalau Reino meminta lebih.
“Mungkin aku harus menyetok karet pengaman dan pil,” gumam Lydia serius.
Ah, satu lagi. Lydia tiba-tiba saja teringat omongan Viktor padanya kemarin siang. Tidak ada yang aneh dari kalimat itu, tapi entah kenapa Lydia kepikiran.
Andaikata saja dia tiba-tiba hamil, apa yang akan terjadi? Apa Reino juga tidak akan bertanggung jawab?
“Astaga Lydia. Jangan pikirkan hal-hal aneh. Itu tidak akan terjadi karena kau menggunakan pengaman ganda,” seru Lydia meyakinkan dirinya sendiri.
Ya. Lydia amat percaya diri bisa menjaga komitmen untuk memakai pengaman ganda, tapi nyatanya Lydia kecolongan.
Reino benar-benar menagih janji Lydia untuk morning **** esok paginya. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Dan kali kedua, Lydia yang kurang tidur dan kecapekan tidak lagi memperhatikan apa pun. Terutama pagi ini Reino sama sekali tidak menahan diri. Pria itu benar-benar mengeluarkan semua tenanganya untuk memompa Lydia.
“Ada apa, Bu?” tanya Ribka yang merupakan asistennya.
“Ehm, kamu ada pembalut gak?” tanya Lydia dengan ringisan tak nyaman.
Lydia baru saja sampai nyaris pukul delapan pagi, tapi rasa tidak nyaman langsung menyerbunya. Rasanya ada yang aneh di bagian bawah tubuhnya.
Awalnya Lydia mengira itu hanya sekedar keputihan, tapi kemudian dia tersadar kalau Reino tidak memakai pengaman dan keluar di dalam. Pastinya apa yang dia rasakan saat ini pastilah sisa-sisa cairan pria itu yang keluar lagi kan? Cairan seperti itu tidak mungkin semuanya tinggal di dalam kan?
Itu benar-benar tidak nyaman.
Lydia langsung terburu ke kamar mandi setelah mendapat apa yang dia inginkan. Sudah agak terlambat sebenarnya karena ****** ***** Lydia sudah terlanjur basah. Sangat basah malahan.
“Astaga apa yang harus kulakukan? Mana aku gak bawa dalaman baru lagi,” geram Lydia di dalam bilik toilet.
__ADS_1
Mau tidak mau, Lydia terpaka meminta Ribka membelikan dalaman. Merek apa saja yang penting ukurannya pas dan bisa disegerakan. Dan karena itu, Lydia jadi lama berada dalam toilet.
“Apa kau ingin dipecat? Sudah hampir 15 menit sejak aku sampai di kantor dan kau masih belum sampai juga?” teriak Reino dari balik sambungan telepon.
“Maaf, Pak. Karena satu dan lain hal, saya tertahan di toilet.”
“Dan semua itu gara-gara kamu Polar Bear sialan. Bahkan bokongku merah karena kamu pukuli,” lanjut Lydia dalam hati.
“Kau pikir aku peduli dengan alasan tak masuk akalmu?” Reino masih betah berteriak, membuat Lydia perlu menjauhkan ponselnya dari telinga.
Sekarang Lydia menyesali kebiasaannya membawa ponsel ke toilet. Andaikata ponselnya tadi ditinggal di tas atau di meja, Lydia pasti tidak perlu mendengar ocehan Reino.
“Pak. Anda seharusnya lebih pengertian dong. Ini kan juga karena anda tadi keluar di dalam, kalau tidak ****** ***** saya tidak akan basah sampai perlu diganti.”
“Apa katamu?” tanya Reino dengan intonasi suara yang lebih rendah.
Lydia langsung menepuk mulut kurang ajarnya itu. Kenapa juga dia bisa menyuarakan isi pikirannya seperti itu? Mana ini lagi di toilet lagi. Bagaimana kalau ada yang dengar?
“Kau ada di bilik toilet sebelah mana?”
“Hah?” suara Reino menyentak Lydia. Rasanya suara itu tidak lagi berasal dari ponselnya.
“Aku tanya kau di bilik toilet yang mana?” geram Reino cukup keras, membuat Lydia menyadari kalau suara itu berasal dari luar.
“Pak Reino ada di toilet perempuan?” pekik Lydia tidak habis pikir.
“Oh, kau di sini rupanya.”
Lydia mendengar suara ketukan pintu dan juga bisa melihat bayangan dari celah di bagian bawah pintu. Mau apa lelaki itu masuk ke toilet perempuan? Bagaimana kalau ada yang lihat?
“Bukan pintunya Lydia. Atau akan kudobrak.”
“Pak Reino mau apa?” tanya Lydia sebelum membuka pintu.
__ADS_1
“Tentu saja membersihkan bagian bawahmu, Sayang.”
***To Be Continued***