
Lydia menatap ponselnya dengan tatapan nanar. Lima belas menit lalu Kenzo mengirim pesan yang baru dia baca. Katanya salah satu sahabat Lydia datang untuk membantu menjaga ibunya dan adiknya itu pamit untuk ke kampus.
Dan baru saja, Lydia mendapat chat dari Cinta. Sahabatnya itu melaporkan apa saja yang dikatakan dokter ketika mengunjungi ibunya 5 menit lalu. Katanya Liani sudah siap untuk dioperasi. Paling lama 3 hari lagi.
“Kalian pikir aku akan membiarkan ini begitu saja? Aku tidak terima karyawanku direndahkan segitunya.”
Lamunan Lydia buyar begitu mendengar teriakan Reino. Dia bisa melihat kalau Polar Bear, meneriaki klien mereka di depan polisi yang sedang bertugas. Sementara tiga orang lelaki berusaha menahannya agar tidak mengamuk.
Ya. Reino Andersen dan Lydia, besera kliennya dibawa ke kantor polisi karena keributan yang mereka timbulkan. Lebih tepatnya klien mereka yang menelepon polisi, setelah mendapat bogem mentah tepat di bagian mata.
“Pak,” panggil Lydia yang duduk di sebelah Reino.
“Tolong tenanglah agar semua ini cepat selesai. Kita masih punya jadwal yang lain,” pinta Lydia terlihat lelah.
“Apa kau gila? Kau mau membiarkan pria tua bau tanah ini lolos begitu saja?” teriak Reino masih sangat marah.
“Mana mungkin saya membiarkannya,” keluh Lydia karena Reino tidak mendengar kalimatnya dengan baik.
“Saya hanya meminta anda untuk tenang. Sudah ada pengacara kita yang mengurusi ini dan akan lebih cepat selesai kalau pengacara kita yang berbicara dari pada Pak Reino. Ingat, Pak. Kita punya jadwal lain.”
Reino kemudian mengentakkan tubuhnya untuk membebaskan diri dari orang-orang yang sedari tadi memeganginya. Dia akhirnya duduk, walau dengan wajah merah karena menahan amarah.
“Awas saja kau. Aku pasti akan menuntutmu.”
Padahal Reino sudah mau duduk tenang, tapi pria tua kurang ajar tadi kembali memprovokasi. Reino jadinya kembali berdiri lagi, hendak menghajar pria itu. Dan ini membuat kepala Lydia makin sakit saja.
***
“Apa kau pikir aku menggajimu untuk menjual diri pada rekan bisnisku?” teriak Reino pada Thalita.
Lydia dan Reino baru saja sampai di kantor mereka beberapa menit lalu dan pria itu langsung menghakimi Thalita. Bahkan dia tidak mau repot-repot meminta wanita itu masuk ke ruangannya agar teriakan membahana Reino tidak terdengar ke mana-mana.
“Atau jangan-jangan kamu menjual rahasia perusahaan di atas ranjang para bedebah itu?”
__ADS_1
“Ti... Tidak, Pak. Saya hanya....”
“Hanya apa brengsek?” teriak Reino tidak sabaran.
Ditanyai balik seperti itu, Thalita malah tidak menjawab. Dia juga tadi tidak menjawab ketika tiba-tiba Reino bertanya soal dirinya yang biasa ‘dibeli’ oleh perusahaan saingan mapun rekan. Itu mengindikasikan kalau Thalita memang bisa ‘dibeli’ jasanya di atas ranjang dan menguatkan kecurigaan Reino kalau sekretarisnya itu menjual rahasia perusahaan.
“Pergi sekarang juga dari sini. Dan jangan harap kau akan lolos dari semua ini. Pastikan kau mengurus ini Vik.” Reino menunjuki pria yang berdiri di belakangnya.
Vik aka Viktor, mengangkat kedua tangannya. Bukan sebagai tanda menyerah, tapi untuk menenangkan klien sekaligus sahabatnya itu. Perusahaan hukum milik Viktor, memang bekerjasama dengan Reino untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum tentunya.
“Tenanglah Rei. Jangan terus-terusan marah-marah. Aku akan menyelesaikan semua ini dengan baik. Oke.” Viktor mengatakan semua ini sambil melirik Lydia yang baru akan duduk di mejanya.
“Sejak kapan kau berbagi ruangan dengan orang lain?” tanya Vik sok penasaran, walau dia sudah bisa menebak. “Dan bukankah ini perempuan yang kau seret pergi beberapa hari lalu dari cafe kita?”
Lydia menaikkan kedua alisnya mendengar pertanyaan terakhir dari pengacara sekaligus sahabat bosnnya itu. Seingat Lydia, hanya satu kali dia diseret keluar dari cafe oleh Reino. Tapi masalahnya, bagaimana bisa Viktor tahu?
Perasaannya baru hari ini Lydia bertemu muka dengan Viktor. Dan baru hari ini pula dia tahu kalau pengacara kantor mereka ternyata bersahabat dengan Reino.
.
“Kau pun pernah memakai pelacur itu kan?” tanya Viktor dengan kekehan riang. Dia senang mengerjai Reino.
“Sialan. Keluar sekarang atau aku juga akan menghajarmu.”
Karena Reino sudah mengambil papan namanya yang di atas meja, mau tidak mau Viktor harus keluar. Papan itu cukup sakit jika menimpa kepala seseorang.
“Buatkan jus timun untuk bosmu biar tekanan darahnya turun,” pinta Viktor pada Lydia dengan senyum mengembang, membuat Lydia ikut tersenyum.
“Pergilah sekarang sialan,” teriak Reino makin marah saja.
Merasa dirinya juga ikut diusir, Lydia berdiri dari kursinya dan menuju ke pintu. Namun belum juga tangannya menyentuh gagang pintu, Reino sudah menahannya.
“Kau mau kemana?”
__ADS_1
“Oh, saya hanya ingin membuatkan minuman dingin untuk Pak Reino,” dusta Lydia begitu sadar dirinya tidak diusir.
“Cokelat panas saja,” seru Reino mulai terlihat tenang.
Lydia hanya mengangguk sebagai jawaban dan segera pergi ke arah pantry. Dan sesuai dugaan, sudah ada beberapa orang yang menunggu Lydia keluar dari ruangan Reino. Mereka adalah para sekretaris dari para petinggi Linder dan menempati lantai yang sama dengan Reino. Semua orang kepo soal Thalita.
Merasa tidak ada yang perlu ditutupi, Lydia mengatakan semuanya. Tentu saja sambil membuatkan Reino cokelat hangat premium. Premium karena bubuk cokelatnya impor, begitu pula dengan marshmallow yang menjadi topping. Lydia bercerita dengan singkat padat dan jelas karena perlu mengantar minuman dengan cepat.
“Silakan, Pak.” Lydia menaruh cangkir cokelatnya di atas meja Reino, tepat di depannya.
Sekilas, Lydia bisa melihat kepalan tangan Reino berwarna merah. Sepertinya setelah memukul klien tadi, barusan Reino memukul tembok. Ada kerusakan pada wallpaper dinding yang dekat dengan jendela.
“Ini enak,” gumam Reino dengan ekspresi wajah yang lebih baik.
“Saya membuatnya sesuai instruksi yang pernah diajarkan sekretaris anda,” jawab Lydia terlihat bingung.
“Tapi ini rasanya lebih enak dari yang biasanya ***** itu buat,” geram Reino mulai terlihat marah lagi. Emosi pria itu betul-betul tidak stabil.
Lydia bingung dengan tanggapan Polar Bear soal cokelat yang dibuatnya. Padahal takarannya sama saja dengan yang pernah diajarkan Thalita beberapa waktu lalu. Bagaimana rasanya bisa berbeda?
Tapi sekarang, bukan itu yang menjadi prioritas utama Lydia saat ini. Dia tidak peduli dengan rasa cokelat hangat yang dibuatnya. Lydia hanya peduli dengan ibunya.
“Apa jadwalku berikutnya?” tanya Reino setelah menghabiskan segelas cokelat, berikut marshmallow yang masih belum meleleh sempurna.
Lydia tidak menanggapi pertanyaan Reino karena dirinya sibuk berpikir. Dia bahkan belum beranjak dari depan meja Reino. Lydia fokus berpikir, sambil menatap wajah pria di depannya dengan lekat.
“Lydia?” panggil Reino terlihat kesal.
“Maaf, Pak. Sebelum menyampaikan jadwal selanjutnya, boleh saya menyampaikan hal lain?” tanya Lydia terlihat amat sangat gugup.
“Ini menyangkut tawaran anda beberapa waktu yang lalu,” tambah Lydia dengan cepat.
***To Be Continued***
__ADS_1