Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Case Closed


__ADS_3

“Tadi Pak Reino ngomong apa di depan semua orang?” hardik Lydia begitu sampai di ruangan bosnya itu.


Lydia tidak perlu lagi khawatir soal kamera pengawas karena Hadi dan orang-orangnya sudah membersihkan semua benda itu. Dia kini bisa melakukan apa pun dengan bebas.


“Hanya itu yang bisa kupikirkan. Atau kau mau membeberkan kontrak itu?” geram Reino marah.


Reino saat ini sudah sangat kesal gara-gara kasus tidak masuk akal ini. Tapi lihatlah Lydia kini membuat emosinya makin menjadi.


“Ya. Gak gitu juga kali, Pak. Nanti saya malah dicap yang aneh-aneh,” seru Lydia frustasi.


Yeah. Manusia dan kecurigaannya. Setelah ini pasti banyak orang yang akan mencurigai Lydia masuk ke PT. Linder karena orang dalam. Atau bisa jadi asisten Reino karena hubungan mereka. Bisa jadi Lydia malah dituduh tidur dengan Reino, walau itu tidak salah sih.


“Jadi kau ada ide lebih cemerlang menjawab pertanyaan Pak Fendi tadi?” hardik Reino benar-benar kesal.


Lydia terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan dari wakil CEO tadi. Reino pada dasarnya telah menyelamatkan dirinya.


“Maaf,” gumam Lydia pada akhirnya.


“Kurasa kau perlu dihukum,” geram Reino melangkah mendekati Lydia.


“Eh, tunggu dulu.” Lydia menaikkan kedua tangannya seolah ingin menghadang Reino.


“Pak Reino mau ngapain?” tanya Lydia terdengar sangat gugup. Dia berjalan mundur, tiap kali Reino mendekat.


“Memberimu hukuman yang pantas,” jawab Reino makin mendekat saja.


“Ini di kantor, Pak. Setelah rapat tadi pagi saya rasa tidak ….“


“Memangnya hukuman apa yang akan kuberikan padamu?” tanya Reino ketus memotong kalimat Lydia.


Langkah Lydia langsung terhenti, begitu pula dengan Reino. Lydia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu memikirkan hukuman apa yang dimaksud Reino. Bukannya hukuman yang dimaksud itu sesuatu yang mesum? Yang seperti sering Lydia baca di novel kan? Biasanya para lelaki suka memberi hukuman seperti itu?


“Sepertinya kau berpikiran mesum ya?” senyum mengejek Reino terlihat, membuat raut wajahnya terlihat seksi.


“Tidak,” hardik Lydia keras, makin membuat Reino yakin pendapatnya tadi benar.

__ADS_1


“Apa pun yang ada dipikiranmu aku akan melakukannya. Lagi pula perjanjiannya dimulai hari ini kan?” balas Reino mulai mendekat lagi.


Lydia mulai panik. Dia tahu harusnya tidak menghindar karena sesuai kata Reino, perjanjiannya dimulai hari ini. Tapi yang benar saja. Setelah rapat tadi, Reino masih ingin melakukannya di kantor? Tidak bisakah menunggu malam untuk melakukannya di hotel, sekalian menunggu dirinya siap?


“Rei, apa sih yang kau … Oh, apa aku mengganggu?”


Suara pintu terbuka disusul suara bariton yang terdengar kesal pada awalnya, membuat Lydia dan Reino menoleh. Posisi mereka yang aneh, membuat Viktor segera berbalik.


“Aku akan kembali 20 menit lagi, selesaikan dengan cepat.”


“Tunggu dulu Pak Viktor.” Lydia segera bergerak meraih lengan jas pria yang hanya berjarak 5 langkah darinya.


“Urusan saya sudah selesai, jadi anda bisa bicara dengan Pak Reino,” seru Lydia sudah hendak berlari keluar ruangan, tapi gagal.


Reino menarik siku Lydia dan menjauhkannya dari jangkauan Viktor. Pria itu terlihat sangat marah, mungkin karena hari ini gagal lagi.


“Kembali saja ke tempatmu dan mulailah bekerja,” desis Reino mendorong Lydia ke mejanya.


Lydia kesal sekali dengan kelakuan Reino itu, tapi dia tidak bisa protes. Bisa-bisa nanti dirinya jadi kena hukuman dua kali lipat lebih parah. Jadi mau tidak mau, Lydia menurut saja.


“Kurasa nanti kau harus memindahkan meja asistenmu ini ke depan,” saran Viktor pada Reino.


“Sekretarismu yang duduk di luar saja bisa jadi kasus viral seperti ini, apalagi kalau dia di dalam. Pakailah otakmu Rei.”


Viktor yang mengetuk kepalanya sendiri, membuat Reino emosi. Pria itu tidak suka dengan ide itu karena dia jadi tidak bisa sesuka hati menggarap asistennya.


Tapi Reino juga tidak bisa membantah karena apa yang dikatakan pengacara, sekaligus sahabatnya itu benar. Disaat seperti ini akan lebih rentan gosip tak benar tersebar dan Reino tidak suka itu.


“Akan kuurus nanti. Sekarang apa maumu?” tanya Reino ketus pada Viktor.


“Tentu saja aku ingin membahas soal kasus absurd mu itu. Bisa-bisanya kau dituntut oleh komnas perempuan? Yang benar saja.”


“Bisa dipastikan asistenmu ini akan segera ditelepon perwakilan mereka.” Viktor menunjuk ke arah Lydia yang menguping.


Lydia langsung tersentak begitu Reino melirih padanya. Dengan sangat kikuk Lydia pura-pura sibuk.

__ADS_1


Dan tidak sampai lima menit kemudian, kata-kata Viktor jadi kenyataan. Lydia benar-benar mendapat telepon dari Komnas Perempuan. Atau lebih tepatnya dikunjungi oleh mereka.


“Siapa?” tanya Lydia lewat interkom yang tersambung dengan resepsionis.


Lydia menatap Viktor yang masih betah duduk berdiskusi dengan Reino untuk meminta pendapat. Dan tentu saja Viktor langsung mengangguk. Akan lebih mencurigakan jika Lydia menolak ajakan pertemuan itu. Karenanya disinilah dia, berada di ruang tamu untuk menyapa tamunya.1


“Selamat pagi. Perkenalkan saya Lydia dan ini pengacara perusahaan kami,” Lydia menyalami dua orang perempuan di depannya.


Viktor juga melakukan hal yang sama, tapi kehadirannya tidak disambut dengan baik. Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu sudah bisa memprediksi, tapi tetap ingin mendampingi Lydia. Ini harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa perusahaan juga peduli dengan karyawannya.


“Senang berkenalan dengan anda berdua, tapi bisa kita bicara berdua saja?” tanya wanita yang lebih tua pada Lydia.


Lydia yang tidak bisa mengambil keputusan, melirik Viktor sekilas. Dan karena pria itu mengangguk, Lydia juga segera mengiyakan. Viktor berpamitan dengan janji akan kembali lagi nanti.


“Baik, Mbak Lydia. Kita langsung pada intinya saja ya,” perempuan yang lebih tua memulai.


“Kami mendengar berita yang beredar baru-baru ini yang menyatakan pemimpin perusahaan ini mengeksploitasi karyawannya. Terutama sekretaris dan asisten pribadinya, yaitu kamu. Apa itu benar?”


“Saya tidak tahu anda sekalian mendengar ini dari mana, tapi itu tidak benar.”


Berbeda dengan dua orang di depannya, Lydia memutuskan bicara formal. Dia juga menyunggingkan senyum terbaiknya untuk meyakinkan dua orang itu.


“Mbak, Lydia. Kami datang ke sini untuk melindungi kamu. Jadi ngomong saja gak apa-apa,” kali ini perempuan yang lebih muda yang bersuara.


“Tapi sungguh tidak ada yang seperti itu,” jawab Lydia dengan nada lebih tegas.


“Mbak Thalita sudah memberi kami salinan videonya. Dan itu jelas tindak pemaksaan, Mbak. Dan ada unsur kekerasan juga,” wanita yang lebih tua kembali berbicara.


“Soal Thalita. Dia itu kriminal, Bu. Dia menjual data perusahaan pada saingan kami dengan cara mendekati beberapa pimpinan. Dia memviralkan hal ini agar tidak dituntut,” jelas Lydia tidak berniat menutupi apa pun.


“Lalu soal anggapan anda sekalian soal pemaksaan. Memang ada pemaksaan, tapi itu tidak seperti yang anda berdua bayangkan.”


“Saya dan atasan saya berpacaran dan tidak terima dengan kehadiran Thalita yang terus menggoda pacar orang. Dia memaksa mencium saya untuk membuktikan kalau dia tidak salah, itu saja.”


Pada akhirnya Lydia menggunakan alasan yang dikarang Reino tadi saat dirapat. Dia sudah tidak punya alasan lain untuk diutarakan pada dua orang yang mengernyit tak suka dengan penjelasannya.

__ADS_1


Dua perempuan itu masih ingin mendebat, tapi Lydia yang sedang banyak pekerjaan menolak berdebat. Toh itu hanya sekedar ciuman juga, dia sama sekali tidak lecet atau apa. Lagian dia dengan sukarela menjual dirinya pada Reino dengan perjanjian, jadi tidak ada hak asasi yang dilanggar. Case closed, setidaknya itu harapan Lydia.


***To Be Continued***


__ADS_2