
“Pak. Kami sudah berhasil melacak lokasi mobil itu dari pantauan CCTV,” beritahu Hadi setelah dia menerima laporan.
Reino tidak memberi tanggapan karena tahu Hadi belum selesai bicara. Dia menunggu, sambil melirik pengawal merangkap asistennya itu dengan mata menyipit tajam.
“Lokasinya kurang lebih hampir tiga jam perjalanan darat. Untuk menghemat waktu, kami sudah meminta heli. Sekitar dua puluh lima menit lagi sudah siap di heli pad yang ada di atas pabrik.”
“Dua puluh lima menit?” teriak Reino makin marah saja. “Bisa lebih lama dari itu?”
“Maaf, Pak. Butuh persiapan untuk menerbangkan helikopter, dua puluh lima menit adalah waktu yang sangat cepat.”
“Brengsek.”
Reino menendang tempat sampah yang ada di dekatnya, membuat isinya berantakan. Seberantakkan dirinya sendiri.
Sejak melihat sendiri kejadian penculikan Lydia, Reino memang terlihat berantakan. Bukan hanya penampilannya, tapi juga emosinya. Apalagi dia dibuat menunggu cukup lama sampai akhirnya Hadi menemukan posisi wanita itu.
Dan yang paling membuat Reino marah adalah karena dia masih harus menunggu lagi. Padahal dia sudah lelah menunggu berjam-jam tanpa melakukan apa pun.
Reino mencoba untuk membantu apa pun yang bisa dia lakukan untuk mempercepat pencarian, tapi itu malah membuatnya makin emosi. Jadi dengan terpaksa, dia hanya bisa diam menunggu.
Sebenarnya Reino juga tahu waktu 25 menit itu cukup cepat, tapi tetap saja. Dia tidak bisa hanya duduk menunggu tanpa kepastian. Apalagi mereka masih harus menempuh jarak sekian kilo dengan heli dan pastinya akan dilanjut dengan perjalanan darat lagi.
Helikopter yang membawanya nanti, pasti tidak bisa mendarat terlalu dekat dengan lokasi Lydia. Para penculik itu bisa curiga dan belum tentu juga ada ruang untuk mendarat.
“Berapa lama perjalanan darat ke titik?” tanya Reino dengan mata terpejam.
“Kalau tidak ada halangan 30 menit. Saya juga sudah meminta anak-anak yang berada di sekitar lokasi untuk lebih dulu memata-matai lokasi.”
Reino mengumpat keras. Itu artinya masih ada waktu paling cepat satu setengah jam agar bisa sampai di lokasi yang ditentukan. Reino tidak bisa diam saja selama itu.
Teringat sesuatu, Reino beranjak ke ruangan pribadinya. Di sana ada brankas kecil tempat dia meletakkan beberapa barang berharga.
Dengan cekatan, Reino menekan pin dan membuka pintu brankas itu. Apa yang dicari Reino berada di tumpukan yang paling atas. Itu adalah pistol kesayangannya.
Ya. Pistol. Tipenya adalah Glock 17.
__ADS_1
Benda berbahaya itu dikeluarkan Reino dengan kasual, seolah sudah sering menggunakannya. Dia memeriksa peluru dan kondisi benda itu.
“Anda akan membawa senjata api?” tanya Hadi yang menyusul masuk.
“Apa kau bodoh? Tentu saja aku butuh alat perlindungan diri,” gertak Reino menyelipkan pistolnya ke celana.
“Kalau begitu kita sudah bisa bersiap ke atap pabrik, Pak. Helikopternya sedang menuju ke sini.”
Hadi bersyukur sekali ada satu heli yang sudah stand by dan tinggal diterbangkan saja. Setidaknya itu akan membuat kemarahan Reino sedikit surut.
Dan dalam tiga puluh menit berikutnya, Reino sudah mendarat kembali. Dia bahkan sudah duduk di mobil yang telah disiapkan sebelumnya.
“Hanya ada sekitar 3 orang yang sedang mengawasi lokasi Mbak Lydia. Ditambah dengan kita yang ada di dalam mobil artinya 5 orang,” jelas Hadi mengenai situasi terkini.
“Lalu aku bukan orang?” tanya Reino tidak suka dirinya tidak dihitung.
“Anda adalah orang yang harus kami lindungi. Pak Reino tidak seharusnya ikut dalam misi ini.”
“Aku yang akan menyelamatkan Lydia apa pun yang terjadi,” seru Reino tegas dan tidak ingin dibantah sedikit pun.
“Rudi Wibisono datang ke lokasi, Pak. Sepertinya dia dalang penculikan ini.”
“Siapa itu?” tanya Reino dengan kening berkerut. Dia sama sekali tidak mengenali nama yang disebut asistennya.
“Sepertinya ini suami dari perempuan yang pernah ribut di kantor dan lobi apartemen. Kalau tidak salah Pak Reino juga pernah menolak proposal kerja samanya.”
Bukannya mengenali orang yang diceritakan Hadi, Reino malah makin bingung. Memangnya ada kejadian seperti itu?
“Itu loh, Pak. Yang melakukan permohonan investasi untuk produk makanan kucing mereka.”
“Yang ingin numpang di salah satu pabrikku untuk mengolah makanan kucingnya?” tanya Reino dengan wajah yang makin mengernyit.
“Sinting,” umpat Reino ketika Hadi mengangguk.
Mana mungkin Reino meloloskan ide gila seperti itu. Masa iya pengolahan makanan untuk manusia mau dicampur dengan makanan hewan?
__ADS_1
Belum lagi idenya yang memakai ayam tiren untuk salah satu bahan. Katanya untuk menghemat ongkos produksi.
Reino tidak bisa memungkiri masih ada oknum jahat yang berpikir menggunakan bahan tidak sehat, tapi masa iya mengajukan proposal investasi isinya seperti itu? Perusahaan mana pun pasti akan menolaknya.
Walau hanya makanan untuk hewan, Reino merasa itu tidak pantas.
“Kita sudah sampai, Pak.” Hadi memberitahu dan mendahului Reino turun dari mobil.
Mereka turun agak jauh dari lokasi yang dimaksud. Rupanya lokasinya itu cukup terpencil. Bukan hanya rumah tempat Lydia disekap yang tidak berpenghuni, tapi nyaris satu kompleks itu belum berpenghuni.
Sepertinya itu kompleks perumahan baru di lahan yang baru dibuka juga. Masih ada beberapa bagian yang belum dibangun sama sekali. Atau mungkin ini kompleks perumahan gagal.
Reino bergerak pelan mengikuti Hadi dan dua orang lainnya. Dia sudah ingin berlari pada Lydia, tapi dia juga tahu kalau dirinya harus hati-hati.
Bisa saja kan nanti Lydia diapa-apakan kalau misal Reino gegabah. Dan Reino tidak mau itu terjadi.
Awalnya semua baik-baik saja. Mereka mengawasi rumah itu selama beberapa menit dan tahu kalau penunggunya hanya empat orang saja. Lima ditambah dengan Rudi Wibisono.
Reino dkk menang jumlah, tapi mereka harus hati-hati karena Lydia dijadikan sandera.
Semua berubah ketika suara Lydia yang lantang terdengar di langit malam yang sunyi. Itu jelas membuat kesabaran Reino terkikis.
Reino langsung menerjang begitu saja, diikuti dengan Hadi yang mengumpat. Kejutan ini tentu membuat orang-orang yang berjaga terkejut dan hendak menyerang Reino, tapi rupanya para pengawal yang dibawanya sangat kompeten.
Hadi berhasil menahan serangan tinju yang sudah hampir mengenai wajah atasannya. Bersama dengan empat orang lain yang dibawanya, mereka melawan para penculik.
Reino meninggalkan para pengawalnya dan segera memeriksa seisi rumah. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Reino menemukan pintu yang terkunci dan segera menembaki bagian kuncinya.
“LYDIA.”
Dan ketika Reino berhasil masuk dia langsung murka melihat keadaan kekasihnya.
Lydia yang pakaiannya sudah robek, terbaring di lantai dengan kaki terikat dan Rudi Wibisono berlutut di depan Lydia dengan celana yang sudah sedikit melorot. Air mata Lydia langsung memantik amarah Reino.
“Sialan,” umpat Reino sembari menodongkan pistolnya.
__ADS_1
***To Be Continued***