Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Bayinya Rindu


__ADS_3

“Apa yang terjadi?” gumam Reino dengan nada lelah.


“Mama juga tidak tahu,” Clarissa membalas dengan nada cemas. “Waktu mama tiba, Lydia udah muntah-muntah di dekat ranjang.”


Clarissa menatap menantunya yang kini sudah ditangani oleh tim dokter. Bahkan kamarnya pun sudah diganti karena Lydia merasa tidak nyaman dengan bau muntahan, pun dengan bau karbol pembersih lantai yang digunakan untuk melenyapkan bau muntahan.


“Tapi kan tadi pagi sampai siang dia baik-baik saja. Mama Liani yang tadi berjaga bilang tidak ada masalah,” cecar Reino tak bisa mengerti dengan yang namanya tiba-tiba muntah.


“Mungkin sudah waktunya Lydia mengalami mual. Atau mungkin bayinya sedang manja karena ayahnya jauh. Itu bisa saja terjadi loh.”


Reino hanya bisa mendesah pelan mendengar penjelasan sang ibu. Baginya itu semua tidak masuk akal, tapi apa yang bisa dia lakukan? Reino juga bukan dokter dan tidak bisa menjelaskan fenomena itu.


“Baiklah. Aku akan pulang pakai heli malam ini juga.”


“Ya. Pulang saja kalau memang rapatnya sudah selesai.” Clarissa mengangguk setuju sebelum mematikan teleponnya.


Perempuan paruh baya itu kini mendekat dan bertanya pada dokter yang memeriksa. Walau sudah bisa menerka apa yang terjadi, tapi dia tetap ingin bertanya. Siapa tahu saja ada hal lain yang perlu diwaspadai.


“Gak apa-apa, Bu. Sepertinya mual karena hamil saja. Saya sudah meresepkan obat anti mual dan juga obat maag, soalnya saya lihat Mbak Lydia belum makan malam. Terakhir, tolong dijaga agar tidak banyak pikiran. Soalnya itu juga bisa memicu mual pada ibu hamil.”


Clarissa hanya mengiyakan apa yang dikatakan dokter. Semuanya sesuai perkiraan, hanya saja sepertinya ada yang salah dengan sang menantu. Lydia terlihat lebih banyak melamun dengan tatapan kosong.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Clarissa bertanya sembari merapikan helaian rambut menantunya.


“Gak ada kok, Ma,” jawab Lydia terdengar sangat lemah. Membuat mertuanya prihatin.


Yang dikatakan Lydia tadi tentu saja bohong. Dia jelas saja punya banyak pikiran negatif, terutama setelah perempuan bernama Mary tadi datang.


Clarissa memang tidak bertemu perempuan itu, pun dengan Lydia yang tidak bisa bertanya banyak. Itu terjadi karena perawat yang membawakan makan malam sudah datang tepat sebelum Lydia bertanya, membuat Mary pamit pulang karena tidak ingin mengganggu.


Lydia ingin sekali bertanya soal tamunya tadi pada sang mertua, tapi dia tak tahu harus bagaimana memulai. Belum lagi tadi dia sibuk dengan muntahan dan rasa sakit di kepala.

__ADS_1


“Coba makan dulu.” Clarissa menyodorkan sesendok nasi dengan lauknya. Makanan rumah sakit yang bisanya cukup disukai Lydia, tapi kali ini tidak.


“Hmph.” Lydia bersuara seperti orang yang akan muntah dan menutup mulut dengan tangannya.


“Oh, astaga! Apakah kau ingin muntah lagi?” Clarissa segera berdiri. Dia sudah siap menuntun menantunya ke kamar mandi, tapi Lydia menolak.


“Boleh minta dibelikan minyak aromaterapi saja?” pinta Lydia masih terlihat sangat lemas.


“Tentu saja. Nanti ... “


“Biar saya saja yang belikan, Bu,” Hadi yang tadi ikut membantu proses pindah kamar menawarkan diri.


“Tentu saja. Terima kasih sebelumnya.” Clarissa mengangguk setuju. “Ah, apa ada sesuatu yang ingin Lydia titip? Siapa tahu ada ngidam sesuatu?”


“Yakin?” Clarissa kembali bertanya setelah menantunya menggeleng. “Dulu Mama ngidam roti marya ...”


“Ugh.” Lagi-lagi Lydia tiba-tiba saja ingin muntah. Itu membuat Clarissa dan juga Hadi buru-buru mencari kantongan.


“Saya lebih baik mencari minyak aromaterapi saja. Apa ada mer ...”


“Sudahlah Hadi. Pergi saja sana. Merek apapun boleh.” Clarissa akhirnya mengusir pria yang tangannya masih dibebat itu untuk segera pergi mencari apa yang diminta Lydia.


“Kalau begitu saya ... permisi sebentar.” Kening Hadi mengernyit melihat nona mudanya kembali muntah saat mendengar kata merek disebut.


Hadi merasakan keanehan dan merasa perlu untuk melapor pada atasannya. Walau ini hanya dugaan sementara, tapi sepertinya Lydia punya sedikit masalah dengan entah apa itu.


“Kau meneleponku karena alasan tidak jelas begitu?” tanya Reino dengan nada marah. Dia sedang lelah dan benar-benar tidak ingin diganggu.


Mata dan tubuh Reino perlu istirahat, sebelum dia terbang menggunakan heli dalam 30 menit lagi. Setelah seharian kerja, kemarin menjaga Lydia dan kini harus kembali lagi menjaga sang istri, bohong kalau Reino tidak lelah. Apalagi ada kejadian berturut-turut.


“Soalnya Pak Reino kan biasa curigaan, jadi saya hanya ingin menyampaikan saja. Nyonya Muda gelagatnya aneh.”

__ADS_1


Reino mendesah mendengar penuturan asistennya itu. Mau tidak mau nalurinya pun tersentil.


“Ada yang mengunjunginya?” tanya Reino sambil memijat pangkal hidung.


“Beberapa orang rekan kantor, tapi setelahnya Nyonya Muda masih baik-baik saja,” jawab Hadi masih mengingat dengan jelas.


“Setelah itu saya turun makan malam di warteg terdekat karena kurang suka dengan makanan rumah sakit. Mungkin sekitar 30 menit. Saya naik bersamaan dengan Nyonya Clarissa dan Nyonya Lydia sudah muntah-muntah.”


“Coba cari tahu apa ada yang menjenguk setelah itu. Kalau tidak ada coba lihat riwayat pesan atau telepon Lydia.” Reino memberi perintah dan Hadi segera mengiyakan.


Setelah selesai dengan Hadi, Reino langsung beralih menelpon istrinya. Mungkin saja Lydia mau mengatakan sesuatu padanya, atau sesuai dugaan sang mama, bayi mereka mungkin saja rindu.


“Tidak masuk akal. Dia bahkan belum punya bentuk sempurna, bagaimana bisa punya perasaan?” gerutu Reino benar-benar merasa konyol.


“Kadang bukan bayinya yang rindu, Pak. Ibunya juga bisa rindu loh.”


Suara celetukan dari sopir membuat Reino mendelik tajam. Dia tak suka ada yang mengguruinya seperti itu. Tentu saja tatapan Reino saja sudah cukup membuat sopirnya diam, tapi Reino tetap menutup sekat yang ada di tengah.


“Shit. Kenapa tidak diangkat sih?” gumam Reino setelah beberapa kali menelepon, namun tak mendapatkan jawaban.


Reino mencoba menelepon sekali lagi, sebelum dia tiba di lantai teratas tempat heli menunggu. Namun yang terjadi sama saja. Lydia tak menjawab, bahkan tak membaca pesan.


Pria blasteran itu baru akan mengumpat lagi, tepat pada saat pesan dari Hadi masuk. Pesan yang dikirimkan adalah potongan video CCTV rumah sakit, diikuiti dengan pesan singkat.


[Hadi: Saya sepertinya sudah tahu penyebab Nyonya Lydia seperti itu.]


Penasaran, Reino langsung membuka video itu. Dia tak peduli dengan heli yang sedang menunggunya untuk naik. Reino lebih butuh melihat potongan video itu agar bisa tahu apa yang terjadi.


“Sialan.”


Reino langsung mengumpat begitu mengerti apa yang dimaksud asistennya tadi. Dia mengenali orang yang mengunjungi sang istri.

__ADS_1


“Mau apa lagi sih perempuan brengsek itu?”


***To Be Continued***


__ADS_2