
“Coba katakan padaku, bagaimana kau bisa pacaran dengan Pak Reino? Dan sudah sampai mana hubungan kalian?” tanya Kiara saat jam makan siang.
Kebetulan saja hari ini Reino ada janji makan siang dengan klien. Dia ingin membawa Lydia, tapi batal karena tidak mau kejadian yang kemarin terulang lagi.
Kiara yang kebetulan mendengar percakapan itu langsung meleleh. Dia menganggap Reino pria gentle dan rumor yang beredar mungkin saja salah. Karena itu saat jam makan siang, dia menarik Lydia dan mengusir Revan. Katanya ini pembicaraan perempuan.
“Itu terjadi begitu saja,” jawab Lydia asal.
“Astaga kau ini. Kan pasti ada prosesnya gitu. Pas pendekatan gimana, terus nembaknya gimana. Cerita dong,” desak Kiara mendesak.
Lydia jadi bingung harus menjawab apa. Hubungannya dengan Reino kan hanya pura-pura saja karena sudah Polar Bear itu bisa dibilang menyelamatkannya saat rapat beberapa waktu lalu.
“Ya, tapi emang begitu. Terjadi begitu saja,” Lydia kembali mengulang narasinya.
“Begitu saja gimana?” Revan yang tidak bisa tidak bergabung dengan meja Lydia bertanya.
“Ih, apaan sih? Kan udah dibilangin kalau ini pembicaraan perempuan. Kok malah gabung sih?” tanya Kiara terlihat kesal.
“Ya emang kenapa? Kan gak ada larangan lelaki mendengar pembicaraan perempuan,” balas Revan ngeyel.
Sebenarnya Revan bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Kiara dan dia juga penasaran. Penasaran bagaimana bisa perempuan yang dia sukai berakhir dengan pria lain. Juga penasaran apakah Lydia pernah disentuh oleh Reino.
Bukannya Revan merendahkan perempuan yang sudah tidak perawan atau ingin ambil kesempatan, tapi dia hanya ingin tahu saja. Setidaknya dia bisa menjauh jika memang hubungan Lydia dan Reino sudah sejauh itu. Karena pastinya mereka serius jika memang sudah sejauh itu.
“So? Apa sih yang kalian bicarakan?” tanya Revan berusaha memancing.
“Argh, nyebelin banget sih kamu, Van. Nanti Lydia gak mau bilang apa-apa lagi kalau kamu ada di sini,” geram Kiara kesal.
Kiara masih ingin menanyakan hal yang agak privat. Dan mana mungkin seorang wanita mau bercerita soal hubungan ranjangnya pada seorang pria.
Katakanlah Kiara mesum karena terlalu ingin tahu. Tapi ini kan demi masa depan. Toh tidak ada salahnya belajar teori dulu.
“Aku tadi sudah menjawabmu, Ra. Dan memang itu yang terjadi,” timpal Lydia merasa bersyukur ada Revan. Setidaknya Kiara tidak akan menanyakan hal aneh.
“Aku mau tahu detailnya, Lyd. Tidak mungkin kan seorang Reino Andersen tiba-tiba datang padamu dan menyatakan cinta. Pasti ada pendahuluannya dulu.”
__ADS_1
“Tapi memang begitulah adanya.”
Bukan Lydia yang menjawab, tapi seseorang yang berdiri di belakangnya. Dan orang itu membuat Kiara menganga.
“Pak Viktor?”
“Boleh aku gabung duduk di sini?” tanya Viktor sembari duduk di sebelah Lydia.
“Anda sudah duduk, Pak,” jawab Revan dengam wajah yang ditekuk. Dia tidak suka kehadiran Viktor.
Viktor hanya tertawa saja mendengar jawaban Revan. Pria yang datang dengan nampan berisi mi goreng itu, langsung menyendok makananya dengan lahap. Sebotol cola menjadi pendamping mi goreng Viktor hari ini.
“Apa kalian penasaran bagaimana Reino dan Lydia bisa jadi pasangan?” tiba-tiba saja Viktor bertanya.
“Apa Pak Viktor tahu?” tanya Kiara dengan mata berbinar.
Bisa melihat Viktor Miller yang tampan dari jarak dekat saja sudah merupakan sebuah anugerah, apalagi bisa mengajaknya bicara. Ini jelas kesempatan yang tidak akan Kiara lewatkan.
“Tahu lah,” jawab Viktor santai.
“Pak Viktor,” Lydia segera menegur karena takut pria itu mengatakan hal yang tidak seharusnya.
“Suatu hari tiba-tiba saja Reino datang padaku dan mengatakan ingin serius dengan seseorang,” jawab Viktor yang nyaris membuat Lydia jantungan.
“Lalu?” tanya Kiara antusias.
“Ya gitu deh. Tiba-tiba saja mereka pacaran.” Viktor mengedikkan bahu dan membuat Kiara mendesah tidak puas dengan jawaban itu.
“Aku ingat saat aku, Reino dan seorang teman datang ke café. Kami tidak sengaja bertemu Lydia dan Reino segera jadi posesif. Padahal awalnya aku pikir Reino tidak serius berpacaran dengan Lydia.”
Lydia memgingat kejadian yang diceritakan Viktor. Itu saat dia ditinggalkan sendirian di tengah jalan. Padahal waktu itu Lydia sudah pura-pura tidak mengenal Reino dan Viktor.
“Berhentilah membicarakan urusan orang lain, Pak,” keluh Lydia terlihat sedikit kesal.
“Habisnya mau gimana lagi. Reino paling asyik dikerjaiin,” jawab Viktor tertawa kecil.
__ADS_1
Lydia menghembuskan napas lelah. Setelah tadi berhadapan dengan Polar Bear Mesum, kini dia harus menghadapi si jahil Viktor. Bahkan meja mereka saat ini sudah jadi tontonan. Ini membuat Lydia stres. Dia kurang suka jadi pusat perhatian, apalagi jika disertai dengan gosip aneh.
“Lyd. Ponselmu berdering tuh,” seru Revan menunjuk ponsel yang diletakkan Lydia di atas meja.
“Oh, kau masih berhubungan dengannya?” tanya Viktor melihat nama yang tertera di layar persegi itu.
“Saya mohon diamlah, Pak. Dan maaf aku harus pergi mengangkat telepon ini dulu.”
Kalimat terakhir Lydia ditujukan pada kedua temannya. Mereka berdua mengiyakan saja tanpa bertanya lebih lanjut. Toh suasana di kantin memang agak bising untuk mengangkat telepon.
“Halo, Ma,” sapa Lydia begitu sampai di tangga darurat. Ini adalah satu-satunya tempat yang cukup aman dan dekat.
“Sayang. Kamu ada di mana? Mama telepon Reino sedari tadi gak diangkat,” tanya suara yang ada di seberang sana.
“Oh, Pa… Maksudnya Reino sedang ada meeting dengan klien, Ma. Lydia sendiri lagi ada di kantor sih,” jawab Lydia disertai ringisan.
“Emang kamu masih kerja, Lyd?”
“He… he… he…. Iya, Ma. Soalnya bosan kalau di rumah terus.”
Lydia memang tertawa, tapi sesungguhnya dia sedang panik. Ditelepon oleh mamanya Reino selalu membuatnya panik. Apalagi status perceraiannya yang disembunyikan dari kedua mantan mertuanya itu.
Dua orang itu orang yang baik. Lydia jadi tidak tega karena harus membohongi mereka dari pertama kali bertemu. Apalagi Mama Clarissa yang sangat perhatian.
“Kira-kira Reino bisa pulang cepat gak ya, Lyd? Soalnya Mama dan Papa pengen makan siang dengan kalian berdua,” sahut Clarissa dengan nada yang sedikit manja.
“Nanti coba saya tanyakan sama asistennya ya, Ma. Eh, tapi tunggu dulu. Tadi Mama bilang apa?”
Rasanya tadi Clarissa mengatakan sesuatu yang janggal, tapi Lydia tidak terlalu memperhatikan dengan baik.
“Mama pengen makan siang dengan kalian berdua, Sayang. Kebetulan Mama dan Papa sudah ada di Indonesia sekarang, bahkan kami sedang ada di kantor saat ini.”
“What,” pekik Lydia cukup keras.
“Kami sedang ada di kantornya Linder, Lyd. Kamu masih kerja di divisi keuangan?”
__ADS_1
Oh, My God. Kedatangan mantan mertuanya itu ke kantor adalah hal terakhir yang diinginkan Lydia saat ini.
***To Be Continued***