Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Menghilang


__ADS_3

“Ma. Lydia mana?” Reino bertanya dengan wajah khawatir ketika tidak menemukan sang istri di kamar.


Saat ini Reino dan Lydia memang tinggal di rumah orang tua Reino. Ini atas permintaan Lydia yang merasa tidak bisa menjalani kehamilan tanpa bantuan orang berpengalaman.


Bisa saja sih Lydia menginap di rumah sang mama, tapi dia tak ingin merepotkan. Sudah banyak yang diurus Liani dan Lydia enggan menambah beban lagi. Lain halnya dengan orang tua Reino yang punya banyak dayang-dayang.


“Lah, kenapa kamu bertanya pada Mama? Bukannya Lydia ikut ke kantor?” Clarissa mengertukan kening melihat putra semata wayangnya yang panik bukan main.


Reino segera meninggalkan sang mama. Dia tak lagi menjawab teriakan Clarissa dan hanya bisa memikirkan soal Lydia. Kini Reino meyesal telah membentak istrinya.


“Hei, apa kau di rumah?” tanya Reino pada adik iparnya yang baru saja mengangkat telepon, sementara dirinya sibuk menyalakan mobil.


“Ya. Ada apa?”


“Apa Lydia ada di sana?”


“Tidak a ... untuk apa kau bertanya?” tanya Kenzo penuh kecurigaan. “Kalian tidak bertengkar kan? Kau tidak membuatku kakakku menangis kan?”


“Nanti kujelaskan.” Reino dengan terpaksa mengatakan itu sebelum menutup telepon. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya dengan resiko dihajar sang adik ipar.


Dihajar sih tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika Lydia yang emosi meminta cerai lagi dan Kenzo mendukung keputusan kakaknya itu. Kalau sudah seperti itu akan sangat rumit pastinya.


“Hadi, cari tahu di mana posisi Lydia.” Reino memberi perintah ketika telponnya sudah diangkat oleh sang asisten merangkap pengawal, sementara fokusnya tetap ke jalanan.


“Hah? Apa beliau tidak di rumah?”


“Lakukan saja perintahku dan jangan banyak tanya,” geram Reino kesal sekali.


Saking kesalnya, Reino bahkan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Dia merasa kalau Hadi sekarang pasti menertawakan dirinya.


“Ini semua gara-gara Lydia. Ngapain juga sih dia pakai acara ngambek segala,” geram Reino enggan sekali mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Kemacetan membuat emosi Reino makin memuncak. Pria blasteran itu tak henti-hentinya menekan klakson dengan energi berlebihan, bahkan sampai memukul kemudi mobil mewahnya. Untung saja tak lama kemudian telepon dari Hadi mengalihkan perhatiannya.


“Menurut satpam kantor, Nyonya Muda masih belum meninggalkan kantor.” Hadi memilih untuk berbicara super sopan ketika Reino merasa marah seperti ini.


“Saya juga sudah bertanya pada sopir yang standby untuk beliau dan dia masih di kantor menunggu.”


“Aku akan segera ke sana. Pastikan saja keberadaannya dan jangan biarkan dia pergi.” Reino kembali memutus telpon secara sepihak.


***


Setelah sejam terjebak macet, akhirnya Reino sampai di kantor. Dia langsung disambut oleh Hadi dan seorang satpam begitu sampai. Kunci mobilnya pun dititipkan pada satpam untuk diparkir.


“Bagaimana kau bisa sampai lebih dulu dariku?” tanya Reino melirik Hadi dengan kesal.


“Tadi saya mampir dulu ke tempat lain yang tidak terlalu jauh dari sini dan kebetulan saya naik motor,” jawab Hadi terlihat seperti biasanya. “Dan Nyonya Lydia belum ditemukan.”


“Apa maksudnya itu?” Reino berhenti ketika dia sudah di depan lift. “Bukankah kalian bilang dia belum keluar kantor?”


“Memang belum, Pak. Kami sudah mencari ke seluruh ruangan. Saya juga sudah memeriksa mesin absen dan Nyonya Lydia belum absen pulang.”


Reino mengumpat, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain mencari lagi. Dimulai dari ruangan Lydia, sampai ke lantai satu namun tidak ditemukan. Bahkan dia sudah mencari sampai ke toilet, namun tidak menemukan petunjun apapun.


“Dia tidak mengangkat teleponnya,” gumam Hadi yang membuat Reino mendesah.


Sekali lagi Reino mencoba menelepon sang istri. Dia sudah melakukan itu berkali-kali dan tak ada jawaban. Karena itu dia menyuruh Hadi yang menelepon. Siapa tahu saja Lydia sedang tidak mau mengangkat teleponnya, namun ternyata tidak bisa juga.


“Saya sudah menggunakan ponsel Pak Satpam, tapi tidak diangkat juga,” Hadi kembali memberitahu.


Reino mendesah dan memilih untuk kembali naik ke lantai lima. Di sana barulah dia mengingat kalau masih ada satu tempat yang belum diperiksa.


“Kita belum memeriksa kantorku kan?” Reino bertanya sambil melangkah dengan lebih cepat.

__ADS_1


“Ah, iya. Kita melewatkan tempat itu.”


Reino membuka pintu ruangannya dengan kasar, sementara Hadi langsung masuk dan menyalakan lampu. Sejauh mata memandang, ruangan itu kosong.


“Lydia,” panggil Reino berharap mendapatkan jawaban. Namun sayangnya tidak ada.


“Lydia.” Reino kembali mencari, ke setiap sudut yang sebenarnya bisa dijangkau oleh matanya. Namun dia berkeras mencari dengan teliti, sampai ke kolong meja kerjanya.


“Lydia.” Panggilan itu kembali terdengar saat Reino membuka.


Tangannya yang kekar mencari saklar lampu dan setelah menekannya,akhirnya Reino bisa menghembuskan napas lega. Bukan karena Lydia sudah ketemu, tapi karena ranjang yang ada di dalam berantakan.


Lebih tepatnya, selimutnya terjatuh ke sisi ranjang yang tidak bisa dilihat Reino dari pintu. Namun dia amat sangat yakin kalau Lydia ada di sana. Karena itu dia mengusir Hadi yang sudah akan masuk memeriksa ke dalam.


“Sayang,” gumam Reino menemukan sang istri tertidur di lantai kamar dengan selimut melilit tubuhnya yang masih kurus. “Hei, kok tidur di sini sih?”


Walau pipinya sudah ditepuk pelan, Lydia tidak juga bangun. Dia hanya sedikit menggeliat mengganti posisi dan kembali tertidur dengan nyaman. Itu membuat Reino harus mengangkat sang istri ke atas ranjang.


“Apa sih yang kau lakukan di sini?” Reino bergumam, sambil memandangi kekacauan yang dibuat sang istri.


Tisu yang tergulung menjadi gumpalan bola adalah hal yang paling banyak dilihat oleh Reino. Tak perlu diberitahu pun dia tahu kalau sang istri habis menangis.


Hal berikut yang membuat Reino tertarik adalah ponsel sang istri yang terus berdenting. Dia jadi tergelitik untuk membaca pesan bertubi yang masuk karena kebetulan mengetahui password ponsel Lydia.


Di ruang grup chat dengan sahabatnya, Lydia menumpahkan segala kerisauan dan kekesalannya. Tentu saja Reino membaca itu semua. Walau pesan yang sudah terlewati sudah sangat banyak, tapi dia membacanya dengan pelan.


“Jadi dia begini karena aku lebih memilih puasa?” gumam Reino dengan mata membulat. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.


“Yang benar saja. Masa gara-gara hal seperti ini saja overthinking sih?” tanya Reino sebelum memilih berselancar di dunia maya untuk mencari tahu.


Dari berselancar dunia maya itulah Reino akhirnya tahu kalau ibu hamil memang suka overthinking. Selain itu dia juga mulai mencari tahu hal-hal lain. Biar bagaimanapun Reino harus tahu beberapa hal, biar nanti bisa menangani istrinya.

__ADS_1


“Mulai besok, aku berjanji akan mengurusimu dengan lebih baik lagi,” gumamnya pelan, kemudian mengecup pipi Lydia dengan pelan.


***To Be Continued***


__ADS_2