Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Tantangan


__ADS_3

Reino masuk ke rumah dengan langkah sangat gusar. Dia tak segan membanting pintu mobil dan pintu kamar, walau itu berpotensi membuat Lydia terkejut. Untung saja rumah sedang kosong, jadi pria itu tak mendapat omelan dari sang mama.


Sayangnya, Reino tidak akan lolos dari omelan. Tidak ada Clarissa, maka Lydia yang akan mengomeli suaminya itu.


“Ada apa sih denganmu?” tanya Lydia menutup pintu kamar dengan lebih pelan.


“Kau bertanya ada apa dennganku?” Reino melotot dengan suara yang meninggi. “Harusnya kau menanyakan itu pada ibumu.”


“Memangnya kenapa dengan Mama? Tidak ada yang aneh dengannya.” Lydia mengedikkan bahu dengan santai, seolah tidak tahu apa yang dipikiran suaminya.


“Dia berkencan dengan Hadi,” hardik Reino dengan nada suara yang sudah sedikit lebih rendah, tapi tetap saja merasa marah.


“Lalu apa yang salah dengan itu?” tanya Lydia pura-pura bingung. “Apa Pak Hadi orang yang sudah beristri.”


“Kau tahu dia belum menikah.” Reino kembali menghardik dengan gusar. Pria itu bahkan menyugar rambutnya dengan sembarangan.


“Kalau begitu apa masalahmu?” Lydia kembali bertanya. “Jangan katakan soal usia Pak Hadi yang lebih muda 2 tahun dari Mama ya. Itu bukan hal yang patut dihebohkan.”


“Demi Tuhan! Lydia. Dia itu pengawal pribadiku.” Akhirnya Reino bersedia mengeluarkan uneg-unegnya. “Kalau dia menikah dengan Mama Liani, dia akan jadi ayah mertuaku. Tidakkah itu akan menjadi canggung?”


Lydia mengangguk pelan, tapi tidak menjawab. Perempuan yang sejak tadi berdiri itu, kini malah memilih duduk di pinggir ranjang. Setelahnya Lydia mengajak sang suami untuk duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Walau masih kesal, Reino tetap menurut. Dia duduk di sebelah istrinya dengan wajah lesu dan segera mendapat rangkulan yang membuatnya tenang seketika. Aroma Lydia saja sudah cukup menenangkan, apalagi pelukan.


“Aku tahu kau pasti akan canggung.” Lydia mulai berceramah. “Tapi masa iya kau mau menghalangi cinta orang sih? Coba kalau kau ada di posisi mereka dan katakan saja saudaramu menghalangi kita menikah. Bagaimana perasaanmu?”


“Aku akan membunuh siapa pun itu yang menghalangi,” jawab Reino tanpa ragu.


“Hei.” Lydia menepuk bibir suaminya pelan. Tidak sakit, tapi tetap membuat Reino cemberut.


“Jangan mengatakan hal sejahat itu,” hardik Lydia menunjukkan ketidaksukaannya pada kalimat kasar sang suami.


“Maaf.” Hanya itu yang bisa Reino katakan, diiringi dengan ringisan pelan. “Soalnya aku tidak suka membayangkan apa yang kau tanyakan tadi. Itu sangat tidak menyenangkan.”


“Nah, itu kau tahu jawabannya.” Lydia menjauh agar bisa menatap wajah suaminya. “Kau membayangkannya saja sudah tidak senang, bagaimana dengan Mama dan Pak Hadi yang mendengarmu mengatakan itu?”


“Terserah deh. Tapi jangan suruh aku bicara pada mereka. Aku tidak mau.” Reino pada akhirnya menyerah, tapi tetap enggan menarik ucapannya yang tadi saat di gerai es krim.


“Ya. Ya. Biar nanti aku saja yang bilang pada mereka. Nanti kalau mereka jadi menikah, kau juga bisa memindahkan Pak Hadi ke posisi lain.” Lydia memutar matanya karena gemas.


Walau gemas dan sedikit kesal dengan sifat keras kepala Reino, Lydia tetap ingin mengapresiasi kepurusan sang suami. Perempuan itu mengecup pelan sudut bibir Reino. Hanya sekilas, tapi cukup untuk memancing Reino.


“Lyd...” Reino mendesis pelan. “Kau habis sakit, jadi tolong jangan memancing.”

__ADS_1


“Memancing apa?” tanya Lydia seduktif. “Di sini tidak ada ikan loh.”


Ingin mengerjai Reino lebih jauh, Lydia sengaja memeluk lengan kekar suaminya. Perempuan itu dengan sengaja menempelkan dada ratanya di sana. Mungkin tidak akan begitu terasa, tapi jelas Reino sudah bisa membayangkan apa yang menempel di sana.


“Please. Jangan membuatku hilang kendali.”


“Apa sih?” Lydia makin menggoda dengan berbisik di dekat telinga Reino. “Aku tidak ngapa-ngapain loh.”


“Kau jelas sedang memancing gairahku,” geram Reino dalam suara rendah, sedang bersusah payah menahan diri. Dia tak ingin mencelakai Lydia dan anak mereka.


Niatnya hanya ingin mengganggu, tapi kini malah Lydia yang menginginkan keintiman. Dia tak lagi sekedar menggoda, tapi benar-benar menginginkan Reino di dalam tubuhnya.


“Lydia.” Reino terlonjak ketika sang istri beralih dan duduk di pangkuannya. Perempuan itu bahkan duduk, tepat di atas benda pusakanya yang mulai bereaksi.


“Lupakan soal Mama dan Pak Hadi.” Lydia memeluk dan berbisik di dekat telinga suaminya. “Aku menginginkanmu.”


Dengan cepat, pertahanan Reino runtuh. Tanpa membuang waktu, dia mulai menyerang sang istri, di mulai dari ceruk leher. Itu jelas membuat mereka melupakan hal yang tadi membuat mereka berdebat.


Lydia menyingkirkan urusan sang mama dan memilih fokus pada kemesraan yang tengah dia rasakan. Urusan orang tuanya, bisa diurus nanti. Toh, tidak akan ada penolakan lainnya.


Sayang sekali, tapi pemikiran Lydia salah. Rupanya dia lupa memperhitungkan Kenzo.

__ADS_1


“Aku menantangmu lomba balap motor. Langkahi dulu mayatku sebelum kau meminta ibuku.” Itu yang dikatakan Kenzo pada Hadi.


***To Be Continued***


__ADS_2