
“Dasar manusia mesum gila,” terik Lydia memukulkan bantal ke kepala ranjang.
Lydia sudah melakukan hal ini sejak sejam lalu. Dia sempat berhenti sebentar, tapi begitu teringat Reino lagi dia kembali jadi histeris. Rupanya efek melihat otot Reino terlalu besar dan tidak bisa ditanggung oleh pikiran polos Lydia. Padahal mereka sudah pernah tidur bersama.
“Lydia?” Liani mengetuk pintu anaknya. “Kamu kenapa?”
“Gak apa-apa, Ma,” teriak Lydia dari dalam kamar.
Ugh. Ini sangat memalukan baginya. Padahal ini bukan pertama kalinya Lydia melihat pria yang setengah telanjang, tapi tetap saja ini berbeda. Apalagi jika Lydia kembali mengingat kejadia ketika dia menghabiskan malam dengan Reino. Itu membuatnya memerah.
“Ya, udah kalau gitu buka pintunya. Ini ada kiriman buat kamu,” Lydia bisa mendengar teriakannya ibunya dari luar.
“Hah? Kiriman?” tanya Lydia dengan nada bingung ketika pintu kamarnya sudah terbuka.
Liani tidak mengatakan apa pun, tapi dia langsung menyodorkan kotak besar yang tadi ditaruhnya di lantai. Kotak hitam besar yang dihias dengan pita cantik itu membuat Lydia membulatkan matanya.
“Kamu punya pacar?” tanya Liani dengan mata menyipit.
“Gak. Gebetan aja gak punya,” jawab Lydia jujur. Reino tentu tidak bisa disamakan dengan gebetan.
“Secret admire mungkin.”
Lydia memutar bola matanya dengan gemas. Mana ada perempuan rata sepertinya punya pengagum rahasia? Dia kan bukan Thalita yang cantik dan seksi.
Tapi walau merendah seperti itu, Lydia juga penasaran dengan kotak yang terlihat mewah itu. Dan karena rasa penasaran itu, Lydia mengangkat kotak itu dan mengguncangnya.
“Apa sih ini? Sepertinya agak besar.”
Lydia menaruh kotaknya di atas meja dan membuka kotaknya dengan perlahan. Isinya tak langsung kelihatan karena tertutup selembar kertas putih dan dilem dengan lilin berwarna pink, lalu distempel dengan motif bunga mawar. Lydia membukanya dengan hati-hati agar lilinnya tidak rusak.
“Wow.”
Lydia menatap isinya dengan takjub. Rasanya baru kemarin dia melihat ada selebgram yang memakai tas bermerk itu dan memujinya dan benda yang sama kini ada di hadapannya. Bahkan model dan warnanya juga sama.
“Wow,” ulang Lydia benar-benar kagum. Pasalnya harga tas itu tidak main-main.
__ADS_1
“Ini asli bukan sih?” tanya Lydia mengangkat tasnya dengan hati-hati. Mengabaikan kartu ucapan yang terjatuh ke dalam kotak.
Lydia membolak bali tas dengan logo dari merk ternama itu. Dia terlalu terpukau dengan tas tangan itu. Bukan karena dia pencinta tas, tapi karena memang sangat cantik.
“Oh ada sertifikat dan kartu ucapan,” Lydia akhirnya beralih pada dua kartu di dasar kotak.
Serifikat dengan bahasa yang tidak dimengerti Lydia itu jelas menunjukkan kalau tas nya asli. Tapi masalahnya, siapa yang mengirimkan barang semahal ini? Lydia segera beralih pada kartu ucapan dan membaliknya untuk membaca tulisan di sana.
“Bercintalah denganku,” baca Lydia dengan kening berkerut.
“Sinting,” hardik Lydia melempar kartu itu kembali ke dalam kotak. Tanpa perlu ditanya lagi, Lydia amat sangat yakin siapa pengirimnya.
***
Hari ini, Reino sengaja datang lebih cepat ke kantor. Dia bahkan sudah duduk cantik di dalam ruangannya, padahal Thalita dan Lydia belum datang. Lebih tepatnya masih amat sangat sedikit yang datang di jam Reino tadi datang. Dia sengaja datang lebih awal agar bisa melihat reaksi Lydia atas hadiahnya.
Yes. Reino akhirnya memutuskan untuk mendekati Lydia denganc ara yang lebih halus. Dia akan membelikan semua hal yang biasanya disukai oleh wanita untuk asistennya itu.
“Sebentar lagi seharusnya dia datang,” gumam Reino menatap jam tangannya.
“Astaga.”
Suara pekikan Lydia terdengar begitu pintu ruangan terbuka, persis setelah Reino selesai menghitung mundur. Tapi kening Polar Bear itu malah berkerut melihat panampilan asistennya. Wanita itu tidak menggunakan tas yang dia berikan. Sebaliknya, dia membawa kantongan besar berwarna hitam.
“Apa yang kau bawa?” tanya Reino menyipt curiga. Dia tidak suka dengan apa yang sedang dipikirkannya.
“Apa yang membuat Pak Reino datang sepagi ini?” tanya Lydia sekedar berbasa-basi saja.
Lydia sesungguhnya tidak peduli Reino mau datang jam berapa. Tadi dia hanya kaget saja karena pria itu datang lebih cepat dan duduk tanpa bicara. Itu saja.
“Tidak penting alasanku datang cepat. Aku cuma mau tahu apa kantongan besar yang kau bawa itu,” desis Reino mulai marah karena pertanyaannya diabaikan.
Lydia juga tidak langsung menjawab. Dia terlebih dahulu meletakkan barang-barangnya, kemudian membawa kantongan yang dia bawa ke hadapan Reino. Lebih tepatnya menaruh benda itu di atas meja.
“Apa ini?” tanya Reino dengan nada yang jelas-jelas marah.
__ADS_1
“Walau tidak ada namanya, tapi saya tahu anda yang mengirimkan ini. Jadi saya kembalikan kepada anda. Dan tolong jangan kirim hal seperti ini lagi ke rumah saya,” balas Lydia setelah menarik napas panjang. Dan kini dia menahan napasnya.
Tatapan Reino yang kini makin menyipit membuat Lydia sedikit ketakutan. Mata birunya tidak lagi terlihat indah karena ditutupi oleh amarah, tapi wajahnya tetap sangat nyaman dipandang. Benar-benar terlalu tampan.
“Kenapa mengembalikannya? Bukannya kau mengincar tas ini?”
“Saya tidak mengincarnya,” jawab Lydia dengan refleks dan bingung. Bagaimana Polar Bear ini bisa menyimpulkan hal seperti itu?
“Aku lihat kau memperhatikan tas ini di ponselmu,” hardik Reino yang cukup membuat Lydia terkejut.
Lydia menghembuskan napas sepelan mungkin dan berusaha agar tidak menekan dadanya dengan tangan. Walau aura Reino sangat menyeramkan, tapi Lydia berusaha untuk tidak terlihat gemetaran. Reino akan makin menindasnya jika dia terlihat lemah.
“Yang saya lihat adalah orang yang menggunakan tasnya. Dan saya sama sekali bukan pengoleksi tas,” jelas Lydia.
“Apa kau penyuka sesama jenis?” kini Reinomengerutkan kening. Amarahnya terlihat sudah sedikit menghilang.
“Maksudnya?”
“Kau bilang hanya melihat orang yang memakai tasnya.”
“Dan kenapa anda langsung menyimpulkan kalau saya suka perempuan? Memangnya perempuan tidak boleh menghargai keindahan yang diciptakan Tuhan?” balas Lydia dengan pertanyaan. Dia tidak habis pikir dengan pikiran absurd Reino.
“Ok. Kau tidak suka.”
Reino hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Lydia mengartikan itu sebagai persetujuan dan merasa lega karennya. Sayangnya Lydia hanya tidak tahu saja kalau isi pikiran Reino malah sebaliknya, sampai dia pulang ke rumah.
“Lyd. Ada kirima buat kamu nih.” Liani meneriaki putrinya tepat setelah Lydia baru selesai cuci piring.
“Hah?”
“Katannya harus kamu sendiri yang tanda tangan tanda terimanya.” Liani menyodorkan tablet yang digunakan sebagai tempat tanda tangan.
Lydia langsung mengambil benda pipih itu, kemudian membaca terlebih dulu isi tanda terima yang dimaksud. Dan matanya langsung membulat ketika menemukan logo toko perhiasan internasional yang harganya selangit di sana.
***To Be Continued***
__ADS_1