
Demi apa pun juga, Lydia tidak pernah berpikir kalau dirinya akan mengalami hal yang seperti di film-film. Apalagi dirinya ini hanyalah rakyat jelata. Dia sama sekali bukan orang kaya atau orang terkenal.
Jadi ketika dia tiba-tiba dibekap dan dibawa masuk ke dalam mobil, Lydia sungguh terkejut dan tidak percaya.kenapa harus dirinya yang jadi korban penculikan?
“Pak. Saya ini hanya orang biasa saja. Bukan orang kaya atau terkenal,” pekik Lydia sedikit gemetar.
Yeah. Siapa pun pasti akan merasa takut dan gemetaran disituasi seperti ini kan? Apalagi pria-pria yang menculiknya ini berwajah seram. Hanya orang tidak waras yang tidak merasa takut.
“Pak. Sumpah, saya inibukan siapa-siapa yang pantas diculika,” seru Lydia sudah ingin menangis.
“Bos. Kita gak salah nyulik orang kan?” salah seorang penculik itu bertanya.
“Mana. Coba kulihat ulang dulu fotonya,” si Bos menjawab, seraya mengeluarkan ponselnya.
Si Bos ini membuka aplikasi pesan dan melihat ulang foto yang dikirimkan padanya. Itu adalah foto Lydia yang terlihat bergandengan dengan Reino saat di Jogja tempo hari. Pria yang dipanggil Bos itu kemudian memperbesar bagian wajah Lydia dan menyamakannya dengan wajah Lydia.
“Sudah benar kok. Kita gak salah, itu sudah benar pacarnya Reino Andersen.”
Lydia langsung mengernyit mendengar hal itu. Kemarahan yang tadinya sudah surut dan digantikan oleh ketakutan, kini muncul lagi. Gara-gara Polar Bear sialan itu, Lydia kini kena sial.
“Bos ini salah paham. Saya bukan pacarnya Reino Andersen. Saya cuma karyawan,” pekik Lydia kesal.
“Karyawan mana yang digandeng sama bos? Kalau mau bohong yang bener dong, Mbak. Apalagi kalian tinggal serumah,” jawab Si Bos juga terlihat sebal.
“I mean… Kami sudah putus. Baru tadi pagi putusnya,” jawab Lydia mulai panik lagi.
Dari pada kemarahannya pada Reino, Lydia jauh lebih peduli dengan nyawanya. Walau dia kurus, rata dan tidak cantik, tapi tetap saja ginjalnya bisa dijual kan? Lydia tidak mau jadi korban penjualan organ ilegal.
“Bos. Serius nih, Bos. Kami udah putus tadi pagi,” seru Lydia memelas.
“Berisik amat sih. Kalau sudah putus tadi kenapa dia ada di lokasi kejadian?”
“Itu kan tempat umum Bos,” jawab Lydia mulai terisak.
Lengan dan tungkai kurus Lydia berusaha memberontak dari pegangan dua orang pria berbadan besar, tapi jelas tenaganya kalah. Justru pergelangan tangannya yang sakit karena dicengkram terlalu erat. Ribut ba
“Itu mulurnya disumpal aja deh. Ribut banget.”
“Hmph.”
__ADS_1
Lydia menggerutu merasakan kain yang menyumpal mulutnya agak bau. Dia ingin protes, tapi jelas sekali suaranya tidak keluar. Hanya terdengar suara geraman dan teriakan tertahan.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Lydia selain pasrah. Dan karena targetnya adalah Reino, Lydia hanya bisa berharap pria itu bersedia untuk menolongnya. Dia masih ingin hidup lebih lama.
***
“Apa maksudnya ini? Kenapa tidak ada yang mengawal Lydia?” teriak Reino pada Hadi dan beberapa pengawal lainnya.
Mereka semua sudah kembali ke kantor Reino. Dan sudah berkali-kali pula Reino menelepon ponsel Lydia tanpa ada respon.
“Maaf, Pak. Tapi Pak Reino tidak pernah memberi perintah seperti itu,” jawab Hadi tenang.
“Apa aku harus memberi perintah lagi? Tanpa diberitahu pun harusnya kalian sudah bertindak sendiri. Dia….”
“Bu Lydia bukan siapa-siapa anda, Pak. Kami tidak wajib melindungi orang di luar keluarga anda,” jawab Hadi ketika Reino tidak bisa menemukan kata-katanya.
Reino tadi memang tidak bisa menemukan kata-kata tepat untuk memberitahu kalau Lydia itu penting baginya. Lydia bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah partner kerja. Hanya istri pura-pura di depan kedua orang tuanya. Dan kini Reino menyesal telah menceraikan Lydia. Kini Reino menyesal karena dia tidak menyadari perasaannya sendiri.
Ya. Setelah berhari-hari bingung dan tadi pagi menyangkal, kini Reino baru mau mengakui perasaannya. Setelah dia melihat Lydia diculik dengan mata kepala sendiri, barulah Reino mau mengakuinya. Itu pun tidak langsung.
Pada awalnya Reino hanya merasa kalut dan panik. Itu masih wajar karena Lydia adalah orang yang dikenalnya. Tapi setelah lebih dipikirkan lagi, Reino menjadi takut. Takut kehilangan. Dan perasaan itu hanya bisa terjadi karena Reino punya perasaan pada Lydia.
“Ini semua gara-gara kau. Padahal kau ada di sana, tapi sama sekali tidak melakukan apa pun,” hardik Reino ingin menyalahkan siapa pun.
“Sorry. Tapi saat itu aku terlalu kaget,” jawab Viktor jujur.
“Terlalu kaget? Kau itu pengacara terkenal. Masa iya masalah hukum yang seperti ini bisa membuatmu kaget?” hardik Reino tidak terima dengan penjelasan Viktor.
“Rei. Ini bukan film yang pengacaranya bisa selalu tenang. Lagian di Indonesia penculikan terang-terangan seperti itu sangat jarang sekali terjadi,” jawab Viktor menjelaskan dengan logis.
Tapi dasar Reino sudah panik. Dia tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Yang dia tahu hanyalah menemukan Lydia dalam keadaan selamat, bagaimanapun caranya.
“Temukan dia. Secepat mungkin,” desis Reino pada Hadi.
“Kami sedang mengusahakannya, Pak.”
“Apa kau mencurigai seseorang?” tanya Viktor berniat membantu.
“Kau pikir aku akan diam saja kalau aku tahu pelakunya?” tanya Reino dengan mata melotot.
__ADS_1
Viktor baru saja ingin menjawab, tapi ponsel Reino berdering. Saat ini dia sedang tidak mood, tapi Reino tetap mengangkat telepon dari Kaisar. Biar bagaimanapun sahabatnya itu tadi sempat membantu.
“Ada apa Kai?”
“Erika bertanya padaku. Apa benar Lydia yang jadi korban penculikan di lobi apartemen beberapa jam lalu?”
“Ya. Sialan dan berhentilah bertanya. Aku sedang berusaha mencarinya.”
“Lalu apa yang akan kau katakan pada orang tuanya?” tanya Kai dengan ******* napas lelah.
“Itu bukan urusanku.”
“Yang benar saja Rei. Dia itu pasti diculik karena kau. Masa iya kau lepas tangan begitu saja.”
“Aku tidak lepas tangan brengsek. Dan kenapa bisa karena aku?” hardik Reino makin kesal saja.
“Lydia itu hanya orang biasa saja, Rei. Siapa yang mau menculiknya? Ini pasti terjadi karena dia berhubungan denganmu,” jelas Kaisar ikutan merasa kesal.
Reino sudah ingin mengumpat, tapi batal. Sisa akal sehatnya membenarkan apa yang dikatakan Kaisar. Lydia hanya orang bisa yang tidak mungkin tiba-tiba jadi korban penculikan. Tapi kalimat Kaisar tadi juga mengingatkan Reino pada sesuatu dan segera mematikan telepon secara sepihak.
“Coba periksa rentenir yang dulu mendatangi Lydia,” perintah Reino pada Hadi.
“Lydia pernah didatangi rentenir?” tanya Viktor yang tidak ditanggapi Reino karena teleponnya berbunyi lagi.
Kening Reino berkerut melihat nama ibunya tertulis di sana. Itu membuat Reino wajib mengangkat teleponnya, itu pun setelah mengatur napas beberapa kali.
“Sayang. Kamu dan Lydia bisa ikut makan malam kan?” tanya Clarissa lembut.
“Dan kalian harus ikut ya. Soalnya kalian mau Mama kenalin sama teman baik Mama,” lanjut Clarissa sebelum Reino bisa menjawab.
“Reino gak bisa janji, Ma,” jawab Reino lesu.
“Why?”
Reino tidak langsung menjawab. Dia perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum benar-benar menceritakannya pada ibunya.
“Lydia diculik, Ma,” akhirnya Reino memutuskan untuk bercerita.
***To Be Continued***
__ADS_1