Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Di Tempat Umum


__ADS_3

“Kita ke restoran?” Lydia bertanya dengan kedua alis terangkat naik.


“Ya. Apa kau tidak suka tempat yang kupilih?” tanya Reino agak panik melihat raut wajah istrinya yang terlihat tidak suka.


“Gak sih. Aku suka, cuma kenapa tiba-tiba? Padahal biasanya juga makan di rumah saja.” Lydia menoleh melihat sang suami.


“Aku hanya sedang ingin saja, Sayang. Sesekali kan tidak apa-apa kalau aku memanjakan istri.”


Lydia menatap suaminya dengan mata yang menyipit. Dia merasa aneh dengan kelakuan Reino hari ini, tapi sudahlah. Soal makan malam di luar jelas bukan sesuatu yang aneh.


“Tunggu sebentar, biar kubukakan pintu.” Reino menahan istrinya yang akan turun dari mobil.


Walau merasa aneh, tapi Lydia membiarkan suaminya. Dia tentu saja merasa senang kalau diperlakukan istimewa seperti ini, apalagi Reino bukan orang yang romantis.


“Baiklah.” Lydia memeluk lengan suaminya dengan erat. “Kau ini kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi romantis? Mencurigakan.”


“Astaga! Kenapa hari ini kau terus mengatakan itu?” Reino memutar bola matanya karena merasa gemas.


“Ya karena memang aku merasa aneh. Kau tiba-tiba memintaku tidak ke kantor.” Lydia mulai menjelaskan.


“Di kantor pun kau tidak keberatan aku menempel padamu, padahal biasanya kau tidak suka ada yang mengganggu kerjamu. Lalu sekarang kau tiba-tiba romantis. Itu aneh.”


Reino mendesah pelan. Dia jadi serba salah, padahal hanya sedang mencoba untuk menjadi suami yang baik dan romantis.


Lelaki itu ingin mengutuk hormon kehamilan, tapi setelah dipikir-pikir, itu berlebihan. Biar bagaimana, Lydia sedang hamil anaknya. Masa iya sedari dalam perut anak itu sudah dikutuk karena membuat hormon ibunya tidak stabil?


“Terserah saja kau ingin mengatakan apa, tapi aku melakukan ini untukmu. Kemarin kau bilang aku tidak romantis, maka hari ini aku mencoba untuk romantis. Terserah kau mau terima atau tidak.”

__ADS_1


Tatapan Lydia kembali menyipit mendengar suaminya itu. Jujur saja, Lydia agak takut kalau sifat playboy suaminya akan kambuh lagi. Makanya belakangan dia jadi curigaan. Apalagi, banyak suami selingkuh setelah istrinya melahirkan. Wajar kan kalau Lydia khawatir.


“Baiklah.” Lydia mendesah pelan. “Kali ini aku akan percaya saja padamu.” Pada akhirnya hanya itu yang bisa Lydia katakan.


“Tunggu dulu.” Reino tiba-tiba menghentikan langkah, padahal mereka sudah hampir sampai di ruangan yang lelaki itu pesan.


“Kau tidak percaya padaku?” tanya Reino agak terkejut dengan fakta itu.


“Kau mau aku jujur?” Lydia mendonggak menatap suaminya.


Reino tak menjawab dan hanya mengangguk saja. Dia juga tidak begitu suka dengan balasan sang istri, tapi dia ingin mendengar dulu.


“Kau dulu itu playboy. Suka melompat dari satu ranjang ke ranjang lain.” Lydia mulai menjelaskan. “Bukan tidak mungkin kau tiba-tiba bosan dengan tubuh rataku dan pergi mencari pemuas yang lain.”


Reino mengedipkan matanya beberapa kali untuk mencerna kalimat sang istri. Kalau mau jujur, dia merasa kecewa dengan pemikiran Lydia itu. Namun, Reino juga tidak bisa menyalahkan sang istri. Dirinya dulu memang terlalu brengsek. Wajar kalau Lydia khawatir.


Lydia pasrah saja ketika tangannya ditarik dengan lembut. Dia mengikuti sang suami untuk memasuki ruang VIP yang sudah disiapkan khusus untuk mereka dan Lydia langsung terkejut begitu pintu terbuka.


Mereka tadi mendatangi restoran fine dining. Lalu kini di ruang VIP, Lydia melihat hamparan kelopak bunga bertebaran di lantai. Ruangannya remang-remang, tapi semua terlihat jelas.


Di tengah ruangan ada meja yang hanya muat untuk dua orang. Dilengkapi dengan tiga batang lilin dan setangkai bunga mawar.


“Apa ini?” tanya Lydia antara bahagia dan terkejut.


“Kejutan romantis untukmu.” Reino berbisik kemudian mengecup pipi sang istri.


Lydia menatap Reino dengan kening yang sedikit berkerut. Ini mengharukan, tapi juga sedikit aneh. Sekali lagi, Reino bukan pria romantis.

__ADS_1


Tahu dengan kebingungan sang istri, Reiono mengajak Lydia untuk duduk lebih dulu. Setelahnya, lelaki itu memilih untuk berlutut di depan istrinya.


“Aku melakukan ini karena kau mengeluh aku tidak romantis.” Reino mulai menjelaskan. “Awalnya seperti itu, tapi sekarang aku ingin melakukannya karena hal lain.”


Lydia makin heran saja dengan pengakuan suaminya. Dia tentu masih bingung, tapi tetap mendengarkan.


“Aku ingin menunjukkan padamu kalau aku tidak akan pernah bosan denganmu,” gumam Reino terlihat sangat serius. “Kau perempuan paling luar biasa dalam hidupku.”


“Aku mungkin duku brengsek, tapi itu karena aku belum bertemu dan benar-benar mengenalimu,” sambung Reino ketika melihat kedua alis sang istri terangkat naik.


“Katakan saja kalau kau merasa kita cocok di ranjang.” Lydia mencibir suaminya.


“Ya. Itu salah satunya.” Reino mengangguk, tak menampik perkataan Lydia. “Tapi setelah mengenalmu lebih jauh, kau memang luar biasa.”


Mendengar itu, Lydia menggigit bibir bawahnya. Demi apa pun, dia hanya perempuan biasa yang tidak kebal dari yang namanya gombalan. Jelas saja dia akan dengan mudah luluh pada Reino si raja gombal.


“Kau membuatku ingin menerkammu sekarang juga,” bisik Lydia tampak mulai bergairah.


Reino tertawa mendengar yang dikatakan sang istri. Lelaki itu pun langsung berdiri dan melepas jasnya.


“Kalau kau mau, kita bisa melakukannya di sini.” Reino menyarankan dengan nada seduktif.


“Yang benar saja. Ini di tempat umum.” Lydia memutar bola matanya dengan gemas. “Bagaimana kalau ada pelayan yang masuk?”


“Itu hal yang mudah, Sayang.” Reino kini menunduk dan menyandarkan tangan pada sandaran kursi Lydia. Mengungkung perempuan itu dengan kedua tangannya.


“Aku tinggal meminta pelayan untuk tidak masuk dan mengunci ruangan ini,” bisik Reino begitu seduktif, tepat di telinga Lydia.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2