
Lydia tidak tahu dia dibawa ke mana. Matanya tidak ditutup, tapi otaknya tidak bisa mengingat jalan mana saja yang dia lalui. Intinya dia dibawa cukup jauh. Mungkin sekitar dua jam lebih perjalanan. Itu pun tempat mereka berhenti hanyalah rumah kecil yang tidak berpenghuni. Ponsel Lydia juga diambil dan sekarang hari sudah malam.
Berulang kali Lydia membasahi bibirnya yang kering. Dia sedari tadi tidak diberikan minum, apalagi makan. Tubuh Lydia yang tidak makan sedari siang sekarang menjadi lemas dan perutnya terasa mual. Udara ruangan yang agak panas pun membuatnya makin dehidrasi.
“Pak. Apa gak ada makanan atau minuman? Saya bisa sakit kalau dibiarkan kelaparan,” seru Lydia dengan suara lemah.
Orang yang menjaga Lydia hanya melirik sinis, kemudian kembali menatap ponselnya. Dari suaranya sih, sepertinya orang itu sedang bermain game. Lydia ingin sekali merebut ponsel orang itu, tapi jelas itu mustahil. Tangan dan kakinya diikat.
Lebih spesifiknya, Lydia dikurung dalam sebuah kamar. Tadi setelah tangan dan kakinya terikat, dia dibaringkan di atas sebuah kasur lipat. Lydia cukup mensyukuri hal itu karena dia merasa sedikit lebih nyaman.
“Pak,” panggil Lydia lirih. Dia masih belum mau menyerah.
Lydia biasanya jarang terlambat makan jadi dia tidak tahu bagaimana rasanya sakit maag atau asam lambung naik, tapi kini dia merasakannya. Padahal sebelumnya Lydia tidak pernah bermasalah dengan perutnya.
“Pak,” teriak Lydia sekeras mungkin.
“Apaan sih? Ribut banget,” hardik lelaki besar yang menjaganya.
“Gak ada makanan atau minuman? Soalnya perut saya sakit banget,” pinta Lydia dengan wajah memelas.
“Udah diam saja. Sebentar lagi Bos Besar datang,” jawab lelaki itu dengan wajah kesal.
“Kalau begitu tolong katakan padanya, tolong bawakan aku nasi goreng merah,” pinta Lydia kini dengan wajah lebih berbinar.
Entah apa yang terjadi, sepertinya rasa takut Lydia mulai menghilang. Mungkin karena lapar atau mungkin dia cukup yakin Reino akan menolongnya? Lydia juga tidak tahu. Yah, walau lebih masuk akal karena dia kelaparan.
“Hei, kau ini tawanan. Jangan minta yang aneh-aneh,” hardik pria yang menjaganya.
Lydia mendesah pelan. Dia sungguh tidak kuat lagi jika tidak diberi makan atau apa pun itu. Ini sungguh keadaan yang sangat jarang terjadi, jadi Lydia juga tidak tahu harus apa.
Dan baru juga Lydia baru mau mencoba untuk memohon lagi, pintu kamar yang sedari menutup itu, kini membuka. Seorang pria yang terlihat memakai kemeja putih dan celana bahan hitam masuk.
“Bagaimana keadaan?” tanya pria itu menatap Lydia penuh selidik.
“Aman, Bos,” jawab pria yang menjaga Lydia, melupakan soal makanan yang sempat diminta tawanannya itu.
“Sama sekali tidak aman karena saya kelaparan dan kehausan,” seru Lydia berusaha beranjak duduk.
__ADS_1
“Kelaparan dan kehausan?” tanya pria yang baru masuk itu dengan nada sinis dan tawa menghina.
Pria yang masih rapi walau hari sudah malam itu kembali menatap Lydia dengan seksama. Dia meringis pelan, sebelum meminta lelaki seram yang menjaga Lydia pergi ke luar kamar.
“Kamu itu tawanan di sini. Dibiarkan hidup saja seharusnya kamu bersyukur loh,” seru pria itu mendekati Lydia , ketika hanya ada mereka berdua di dalam kamar.
“Kalau begitu biar saya beri tahu satu informasi penting,” seru Lydia berharap orang yang terlihat lebih berotak ini percaya padanya.
“Saya bukan pacarnya Reino Andersen. Kami memang pacaran, tapi hanya pura-pura,” terang Lydia berusaha untuk meyakinkan pria di depannya itu.
“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? Memangnya mana ada pacar pura-pura yang terlihat mesra begitu. Hm?”
“Itu hanya kamuflase, Pak. Lagi pula kami sudah putus tadi pagi.”
Lelaki tadi mendengkus kasar. Dia mengungkit dagu Lydia yang terduduk di atas kasur lipat yang digelar di lantai dengan ujung sepatunya, membuat Lydia mengernyit tidak suka.
Sepatu lelaki itu terlihat mahal sih, tapi tetap saja itu sepatu. Entah sudah ada berapa banyak debu, kuman dan bakteri yang bersarang di sana. Dan itu membuat Lydia teringat dengan kain berbau busuk yang menyumpal mulutnya tadi. Benar-benar bikin mual.
“Jangan muntah di sepatuku,” perintah pria itu, ketika melihat Lydia terlihat ingin muntah.
Dengan susah payah, Lydia menahan keinginannya untuk muntah. Dan setelah berhasil, dia segera menjauhkan wajahnya dari sepatu pria itu. Tapi tentu saja tidak mudah karena pria itu tidak mau melepaskannya dengan mudah.
Lydia melotot marah pada pria yang sampai saat ini belum memperkenalkan diri, atau sekedar memberi tahu motifnya menculik Lydia. Dia juga ingin sekali bersumpah serapah, tapi tidak bisa. Lydia merasa akan muntah begitu dia membuka mulut.
“Yah, mau bagaimana juga tidak ada masalah sih. Toh yang kuinginkan hanya menghancurkan pria sombong itu,” pria tadi akhirnya menurunkan kakinya kembali ke lantai.
“Sudah saya bilang, saya tidak ada hubungan dengan Reino,” jawab Lydia berusaha keras menahan perasaan ingin muntah.
“Dan sudah kubilang aku tidak percaya padamu,” jawab pria itu dengan dengkusan kasar. “Dan karena waktunya mungkin tidak banyak, aku akan mengeksekusimu sekarang juga.”
“Bapak mau apa?” tanya Lydia mulai panik.
“Menurutmu?” tanya pria itu, sembari melepas dasi yang masih terikat di lehernya.
Lydia makin terlihat panik ketika melihat pria itu mulai melepas ikat pinggangnya. Refleks saja, Lydia beringsut mundur. Namun sayangnya yang di belakang Lydia itu adalah tembok.
“Salahkan Reino atas apa yang akan menimpa dirimu,” gumam pria itu kini berlutut di atas kasur.
__ADS_1
“Memangnya apa yang Reino lakukan sampai anda mau balas dendam melalui saya?” tanya Lydia mencoba untuk mengulur waktu.
Mengulur waktu pun sebenarnya percuma saja. Saat ini tidak akan ada seorang pun yang bisa membantunya, tapi Lydia masih berharap bisa kabur entah dengan cara apa.
“Kamu mau tahu apa yang dia lakukan padaku?” tanya pria itu terlihat sangat marah. “Gara-gara dia, istriku menuntut cerai.”
Kening Lydia langsung berketut mendengar fakta itu. Apa hubungannya?
“Mereka selingkuh dan istriku menuntut cerai. Sudah agak lama sih, tapi tetap saja. Apalagi sebulan lalu dia menolak mendanai perusahaanku.”
Oke. Lydia sudah bisa sedikit mengerti soal istri pria di depannya. Tapi soal menolak mendanai? Itu tidak masuk akal bagi Lydia. Jika apa yang ditawarkan pria di depannya ini tidak menguntungkan, siapa juga yang mau mendanai?
“Persetan dengan alasan tidak masuk akalnya. Tidak masuk akal dia meniduri istriku tanpa tahu kalau dia sudah bersuami.”
Pria itu kini mencengkran dagu Lydia dengan keras, hanya untuk menghempaskannya dengan kasar.
“Dan apa katanya? Penawaranku tidak menguntungkan? Cih... Uangnya kan banyak, hilang satu milyar juga tidak masalah.”
Lydia menghembusakan napas pelan. Dia yakin lelaki di depannya ini pasti sudah gila. Masa uang satu milyar dibilang tidak masalah jika hilang?
“Pak, tolong tangannya,” pinta Lydia panik ketika melihat tangan pria itu berlama-lama di kerah kemejanya.
“Kenapa? Takut?” tanya pria itu dengan senyum mengejek. “Sebagai pacar Reino Andersen kau pasti sudah tidur dengannya kan?”
“KYAAA...”
Begitu selesai mengatakan kalimat tadi, pria itu langsung merobek kemeja Lydia. Dan entah mendapat kekuatan dari mana, Lydia yang sudah lemas itu bisa berteriak sangat keras.
“Berteriak saja. Toh tidak akan ada yang mendengarmu. Dan ketika Reino datang, kau mungkin sudah hamil anakku. Dengan begitu dia akan kehilangan perempuan yang dia cintai.”
Lydia baru saja menggeleng pelan ketika dia bisa mendengar suara ribut dari luar. Seperti ada suara perkelahian dan juga... senjata api?
“Sialan,” geram pria itu marah. “Kita tidak punya waktu.”
Pria itu mendorong kasar Lydia sampai terbaring dan buru-buru membuka kancing celananya. Tapi belum juga terbuka, suara desingan memenuhi gendang telinga Lydia dan itu berasal dari pintu. Hanya sebentar kemudian pintu ruangan terbuka lebar, diikuti dengan suara berdebum.
“LYDIA.”
__ADS_1
***To Be Continued***