
“Apa maksud pasal-pasal sialan ini?” geram Reino terlihat sangat marah.
Hari sudah berganti dan sekarang sudah hari senin. Operasi ibu Lydia pun berjalan lancar, bahkan selisih biaya rumah sakit sudah di bayar sebagian. Reino menepati janjinya untuk mengirimkan uangnya duluan. Tapi apa yang didapatnya sama sekali tidak sebanding.
Ya, semua yang dituliskan Lydia sebagai persyarata sama sekali tidak masuk akal bagi Reino. Amat sangat tidak masuk akal.
Kalau soal rahasia, dana 200 juta itu masih bisa dipahami Reino. Lalu soal pemeriksaan laboratorium dan kontrasepsi, itu juga masih bisa dipahami (walau Reino merasa itu juga tidak masuk akal). Lalu pasal soal tidak boleh punya pasangan itu juga aneh, tapi Reino tidak begitu peduli.
Satu-satunya masalah adalah Reino harus menunggu 2 minggu lagi. Itu tidak mungkin. Dia tidak ingin disuruh puasa 2 minggu lagi.
“Ya, maksudnya seperti itu Pak. Rasanya saya sudah menuliskan semuanya dengan sangat detil, bahkan sampai jam malam saya,” jawab Lydia dengan polosnya.
Nah, itu lagi. Masa sampai seusia ini Lydia masih ada jam malam? Mana cuma sampai jam 10 malam saja. Lebih tepatnya, sebelum jam 10 malam wanita itu sudah harus ada di rumah.
“Jam malam ini tidak masuk akal. Dan apa lagi ini? Aku harus menunggu 2 minggu?” teriak Reino tidak sabaran. Dia bahkan sampai melempar kertas yang dicetak Lydia ke wajah wanita itu.
“Maaf, Pak. Soalnya ibu saya memang agak ketat. Dan soal 2 minggu itu, saya hanya ingin memastikan ibu saya cukup stabil untuk bisa ditinggal sendirian.”
Operasi Liani memang sukses dan tidak ada masalah berarti. Mereka hanya perlu menunggu beberapa hari, sampai semua darah yang ada dekat tengkoraknya berhasil tersedot semua melalui selang yang masih terpasang di kepala ibunya.
Pemandangan yang agak mengerikan, tapi katanya selang itu hanya akan terpasang selama beberapa hari saja. Dan selama itu, Liani disarankan untuk tidak turun dari ranjang. Karena itu juga, Lydia memutuskan akan cuti selama beberapa hari.
Ada Kenzo sih, tapi adiknya itu kan lelaki. Pasti rasanya sungkan dan risih jika harus mengurusi ibunya yang buang air di popok.
Dan demi kesopanan, Lydia datang ke kantor untuk mengurus sendiri cutinya. Sementara Liani, dijaga oleh Erika yang kebetulan punya waktu sampai Kenzo pulang kuliah.
“Kau bisa membayar perawati untuk mengurusi ibumu,” desis Reino tidak terima usulan Lydia yang terlalu lama itu.
“Kalau seperti itu, ibu saya akan merasa curiga. Dan saya tidak mau itu terjadi. Saya tidak ingin ibu saya tahu kalau anaknya membayar biaya rumah sakitnya dengan hasil menjual diri,” jawab Lydia dengan nada yang sendu.
Reino menggeram kesal dengan jawaban Lydia, tapi rasanya tidak bisa menolak. Dia adalah lelaki yang sangat menghormati ibunya. Karena itu pula Reino tidak pernah memaksakan diri pada perempuan mana pun. Yah walau kadang Reino mengaku terkadang kasar, tapi para wanita itu toh suka perlakuan kasarnya di atas ranjang.
__ADS_1
“Fine. Tapi aku juga ingin kau mengikuti aturanku,” hardik Reino kesal sekali.
“Dan apa itu?”
“Kau harus bersedia tugas luar kota,” kali ini Reino harus sedikit memaksa.
Lydia menarik napas cukup panjang. Dia sedang memikirkan apa yang diucapkan Reino, tapi sulit untuk mengambil keputusan. Terutama karena ibunya cukup ketat.
“Asal tidak terlalu sering,” jawab Lydia setelah berpikir selama beberapa menit.
“Begitu ibumu sudah cukup sehat untuk ditinggal. Walau belum 2 minggu, kau harus melayaniku. Dan jangan harap kau bisa bohong karena aku akan memantau.”
“Fine,” jawab Lydia diikuti dengan hembusan napas lelah. Lelah dengan kemauan Reino yang terlalu banyak.
Tapi walau permintaan Reino banyak, Lydia mewajarkan hal itu. Biar bagaimanapun, utang Lydia tidaklah sedikit.
“Satu lagi. Soal kontrasepsi-“
Reino mengumpat kasar. Sesungguhnya dia kurang suka memakai karet, tapi mau tidak mau harus melakukannya. Selama ini Reino memang pakai karet pengaman, tapi kadang dia sengaja melupakannya dan selalu aman-aman saja. Jadi nanti dia akan melakukan hal yang sama pada Lydia.
“Satu lagi,” seru Reino baru teringat satu hal. “Selama kita bercinta, kau harus menerima segala perlakuanku. Dan selalu mematuhi perintahku.”
Lydia menelan liurnya. Walau samar, dia masih bisa mengingat malam yang dihabiskannya bersama Reino kala itu. Pria itu kasar di atas ranjang, tapi sepertinya saat itu Lydia cukup menikmati. Walau esok paginya dia kesusahan.
Dan karena ini bukan kali pertama Lydia, harusnya tidak masalah kan? Setidaknya itu yang dikatakan Vanessa dan Erika.
“Asalkan besoknya saya tidak kesakitan seperti yang kali lalu,” jawab Lydia pada akhirnya.
Sesungguhnya Lydia merasa malu membahas ini semua, apalagi bahasa Reino cukup vulgar. Tapi dia juga tidak bisa menghindar.
“Kau kesakitan?” balas Reino dengan pertanyaan dengan kening berkerut.
__ADS_1
“Tentu saja saya kesakitan, terutama karena itu kali pertama.”
“Tapi kau tidak berdarah.”
“Tidak berdarah bukan berarti tidak perawan, Pak. Bagian itunya perempuan ada beberapa jenis dan ada yang tidak langsung berdarah saat pertama,” jelas Lydia secepat mungkin.
Astaga. Ini benar-benar pembahasan yang memalukan bagi Lydia dan dia ingin segera mengakhirinya. Namun ini sangat susah karena kesepakatan belum tercapai, tapi sepertinya makin jauh.
Dan kini Reino yang memikirkan ucapan Lydia barusan, membuat durasi pembicaraan ini pastinya akan lama.
“Kau tidak melakukan operasi pada va .... “
“Tentu saja tidak,” potong Lydia dengan cepat. “Operasi ibu saya saja harus utang, mana ada uang untuk operasi yang lain.”
Reino mengangguk membenarkan hal itu. Lebih tepatnya, Lydia yang punya segudang utang tidak mungkin menghamburkan uang dengan hal tak berguna seperti itu. Setidaknya itu yang diyakini Reino.
“Fine. Perbaiki isi perjanjian yang kau buat dan tambahkan persyaratan dan penawaranku dengan jelas. Setelah itu cetak 2 rangkap dan tempelkan materai.”
Lydia tidak perlu diperintah dua kali untuk melakukan itu. Tidak perlu juga didikte apa saja yang harus dia tulis dalam perjanjiannya. Dia sudah cukup terbiasa bekerja dengan Reino, apalagi setelah Thalia dipecat.
“Ngomong-ngomong, Pak. Apa anda tidak berniat mencari sekretaris baru? Saya agak kewalahan menghandle semuanya,” keluh Lydia pada Reino.
Sejak Thalita tidak ada, pekerjaan Lydia di kantor jadi bertambah banyak. Jika ditambah pekerjaannya mengasuh Reino, bisa-bisa dia mati kelelahan. Lydia butuh bantuan untuk urusan kantor.
“Cari yang lelaki saja,” jawab Reino tanpa menatap Lydia. Dia sudah mulai kembali fokus dengan pekerjaannya.
Lydia juga tidak menjawab lagi dan kembali fokus pada surat perjanjian yang hendak dia ketik ulang. Tapi belum juga Lydia benar-benar mulai, dia teringat pada perkataan Reino tadi.
Kali pertamanya tidur bersama pria yang adalah Reino, Lydia tidak berdarah. Apakah itu berarti kali keduanya nanti akan terasa seperti waktu masih perawan? Lydia mengumpat dalam hati memikirkan rasa sakinya.
***To Be Continued***
__ADS_1