
Reino duduk di kursi kayu. Dia tengah mengamati bagaimana orang-orangnya tengah memukuli Pak Fendy. Tidak terlalu keras sesuai dengan perintah Reino, tapi cukup membuat pria itu berteriak kesakitan.
“Aku mohon hentikan ini,” pekik istri Pak Fendy yang diikat di kursi. “Dia bisa mati.”
“Istri dan anakku juga bisa mati saat kau mendorong mereka dari atas tangga,” jawab Reino jelas tanpa perlu berpikir. "Apa kau pernah memikirkan itu?"
Istri Pak Fendy langsung terdiam mendengar itu. Dia jelas tahu kalau dirinya juga bersalah dan lebih baik diam. Kalau banyak bicara dia bisa berakhir dipukuli juga. Untung saja Reino mengangkat tangan meminta anak buahnya untuk berhenti memukul.
Reino yang punya usaha pengawalan bersama dengan para sahabatnya, tentu saja tidak kesusahan mendapat tukang pukul gratis. Apalagi karena dia yang lebih banyak terlibat langsung dalam manajemennya.
Kepribadian Reino yang pemarah, memang lebih cocok dengan usaha seperti ini. Apalagi ketika dia perlu melampiaskan amarah seperti sekarang ini. Reino tinggal ikut pegawalnya saja untuk bekerja.
Pria itu menatap Pak Fendy yang juga diikat di kursi kayu. Dia menatap pria paruh baya yang sudah babak belur itu, tanpa merasa kasihan sedikit pun.
“Terlalu rakus saja sudah menjadi kesalahan, ditambah lagi istrimu mencoba membunuh istri dan anakku. Kira-kira hukuman apa yang pantas untukmu ya?” tanya Reino mencengkram rahang rekan kerjanya itu.
“Tolong. Laporkan saja ini ke polisi,” pinta Pak Fendy tak berdaya.
“Loh, gimana sih?” tanya Reino terlihat tidak suka. “Tadi katanya jangan dilaporkan. Sekarang kok malah minta dilaporkan?”
Pak Fendy tahu nasibnya akan lebih baik di penjara, dari pada di tangan Reino. Apalagi Reino adalah orang yang kebal terhadap hukum. Apapun yang kini dilakukan Reino di dalam gudang kecil ini, pasti dia tidak akan mendapatkan hukuman apapun.
“Saya mohon, Pak.” Sekali lagi Pak Fendy meminta. Jauh lebih baik harga dirinya yang hancur, dari pada semua keluarganya celaka.
Dia yang masuk penjara pun sebenarnya sudah bisa membuat keluarganya celaka, tapi setidaknya anak-anak Pak Fendy tak akan dilukai. Mereka mungkin masih bisa mencari uang sendiri nantinya.
“Sayangnya aku hanya mau mendengar yang permintaan pertama saja. Tidak dengan yang kedua.” Reino tersenyum
Reino baru saja menghempas wajah rekan kerjanya itu ketika ponselnya berbunyi. Itu adalah nada dering yang dia pasang khusus untuk keluarganya, yang berarti dia harus segera mengangkat telepon.
“Ya, Sayang?” panggil Reino segera menjauh dari TKP. Tak lupa juga dia meminta untuk membekap mulut tawanannya agar tak ada suara aneh terdengar.
“Kak Rei di mana? Kok belum balik dari kantor?” tanya Lydia dengan nada kesal.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Ini baru mau pulang. Soalbya Pak Fendy agak ngeyel,” dusta Reino dengan lancar.
Reino tentu saja tak memberitahu siapa pun soal hobinya menyiksa seseorang ketika sedang marah, termasuk soal Pak Fendy. Dia tak ingin keluarganya tahu agar tidak dilarang-larang, terutama oleh Lydia karena pria itu pasti akan langsung menurut kalau sudah istrinya yang bicara.
“Kenapa harus lama dengan Pak Fendy?” tanya Lydia kini terlihat bingung. “Bukannya tinggal diserahkan ke polisi daan Kak Viktor juga beres?”
“Ah, iya. Itu ... Tadi dia sempat mau kabur, jadi aku terpaksa sedikit memberinya pelajaran.”
“Kau memukulnya? Astaga Kak! Dia itu orang tua loh,” pekik Lydia membuat suaminya sakit telinga.
“Kalau nanti anakmu memukulmu apa kau mau?” Lydia kembali bersuara nyaris tanpa jeda. Dia marah dengan kelakuan sang suami.
“Tidak.” Reino hanya bisa menjawab lirih.
“Sudah lepasakan saja dia dan bawa ke kantor polisi. Gak usah melakukan hal aneh,” hardik Lydia bagai ultimatum untuk Reino.
“Setelahnya baru belikan aku ramen. Anakmu sedang ingin makan ramen dan harus kau yang membelinya.”
“Ramen?”
“Shit.” Reino langsung saja memaki ketika teleponnya sudah putus.
“Kalian jaga mereka sampai Viktor datang. Awas saja kalau sampai ada yang lolos ya,” ancam Reino bergegas lari keluar dari gudang tempatnya menawan Pak Fendy.
Pria blasteran itu segera menaiki mobilnya, sambil memegang ponsel. Pertama-tama dia perlu menelepon Viktor untuk membereskan masalahnya.
“Kau di mana?” tanya Reino memotong salam sang sahabat.
“Aku baru saja sampai di rumah. Kenapa?”
“Datanglah ke kawasan pergudangan yang biasa dan bereskan Pak Fendy untukku. Laporkan dia dan istrinya ke polis dengan tuduhan penipuan dan percobaan pembunuhan. Detilnya kau bisa bertanya pada Hadi.”
“Tunggu penipuan dan percobaan pembunuhan? Kau tidak salah?” pekik Viktor jelas terkejut dengan hal yang baru dikatakan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Dengar, Bung. Aku tidak punya waktu menjelaskan. Sekarang kau hanya perlu memberitahuku tempat beli ramen yang enak.”
“Hah?”
***
“Kenapa lama sekali?” tanya Lydia ketika melihat suaminya masuk ke kamar rawat inap.
“Iya. Tadi aku sempat diskusi dengan Viktor dulu.” Mau tidak mau Reino mengorbankan sahabatnya. Lagi pula itu kan tidak sepenuhnya salah. Dia tadi memang berbicara dengan Viktor dalam waktu cukup lama.
“Mana ramenku?” tanya Lydia sudah merengek.
“Ini.” Reino menjulurkan kantongan yang dipegangnya. “Karena aku tidak tahu kau mau yang kuah atau kering, jadi aku beli keduanya.”
“Tumben pintar. Aku emang lagi mau dry ramen.” Lydia tersenyum puas.
“Mana Mama? Kenapa kau sendiri?” Reino baru menyadari kalau tak ada yang menemani istrinya.
“Tadi Mama pergi dengan Pak Hadi untuk beli makanan di kantin. Mungkin mereka sekalian makan di sana.” Lydia mengedikkan bahu, lalu mulai mengendus bau ramen pesanannya.
“Fyi, yang kumaksud itu adalah mamaku. Mama Clarissa sudah pulang duluan dan baru akan datang lagi besok,” Lydia memberitahu. Reino hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Omong-omong soal Hadi, dia lupa kalau belum memberitahu Hadi soal Viktor, tapi harusnya asisten merangkap pengawalnya itu sudah mengerti. Namun karena Reino butuh kopi, dia memilih menelepon Hadi.
Bisa saja sih Reino memesan melalui aplikasi, tapi dia terlalu malas untuk itu. Lebih praktis membiarkan Hadi yang melakukannya, sekalian dia ingin menanyakan perkembangan laporannya. Baru beberapa jam sejak Reino menghubungi Viktor, tapi dia sudah tak sabaran.
“Hadi belikan ... “
“Oh, maaf. Hadi sedang ke toilet dan meninggalkan ponselnya padaku. Apa ada yang perlu disampaikan?”
Kening Reino berkerut mendengar suara perempuan yang mengangkat telepon. Bukan suara bariton yang biasa dia dengar.
Bukannya tadi katanya Hadi pergi dengan mertuanya untuk membeli makanan? Masa iya Liani yang mengangkat telepon Hadi. Mereka kan tidak seakrab itu sampai bisa saling mengangkatkan telepon.
__ADS_1
“Mama Liani?” tanya Reino ragu-ragu.
***To Be Continued***