
“Siapa?”
Lydia bisa mendengar suara perempuan ketika pintu kamar hotelnya terbuka. Itu adalah Mary. Lydia sangat yakin akan hal itu karena dia sudah menghapal suaranya dengan baik. Mungkin karena dia terus kepikiran.
“Kau?” Mary terlihat terkejut saat melihat Lydia. “Untuk apa kau ke sini?”
Diluar dugaan Mary terlihat marah. Itu membuat Lyida makin yakin kalau suaminya ada di dalam kamar hotel itu.
“Aku ke sini mencari seseorang,” gumam Lydia pelan.
“Dia tidak ada di sini. Sebaiknya kau pergi,” hardik Mary tak berniat membuka pintu lebih lebar dari sejengkal. Perempuan itu bahkan tidak mau keluar.
Walau menyangkal, tapi jawaban itu sudah menjelaskan semuanya. Mary yang awalnya tidak tahu siapa Lydia, kini tiba-tiba bersikap defensif. Itu artinya perempuan itu mengenali Lydia sebagai ancaman dan satu-satunya orang yang bisa memberitahu Mary hanya Reino.
“Aku bahkan belum mengatakan siapa yang kucari. Kenapa kau begitu ketus?” tanya Lydia dengan ekspresi mengejek.
Walau Lydia tadi sempat merasa lesu, tapi kini tidak lagi. Dia merasa keputusannya datang ke sini sudah benar. Walau kesannya tidang anggun karena langsung datang melabrak, tapi setidaknya dia tidak bar-bar.
“Aku sekarang tahu kalau ternyata kau yang merebut Reino dariku setahun lalu,” ucap Mary seolah dia yang terluka.
“Maaf, tapi dia sendiri ketika memintaku menjadi istrinya.” Lydia melipat tangan di depan dadanya yang masih belum ada perubahan.
“Lagi pula, kalau itu memang anak Reino, kenapa dulu kau menghilang begitu saja? Kenapa tidak langsung memberitahu Reino?”
Hadi menoleh dengan wajah terkejut begitu mendengar pernyataan sang nyonya muda. Dia tak pernah menceritakan apapun dan Hadi yakin sang tuan pun belum bercerita. Jadi bagaimana bisa Lydia tahu?
“Itu ... itu karena ... “ Mary terbata.
“Kau tidka tahu kalau itu anak Reino atau bukan kan?” tanya Lydia merasa di atas angin karena tebakannya benar.
Ketika melihat wajah pucat Mary, Lydia tahu dia benar. Saat itu Mary tak yakin anak yang dikandungnya adalah anak Reino atau bukan. Entah sekarang bagaimana. Karena itu Lydia ingin mencari tahu.
“Sekarang menyingkir, karenna aku perlu mencari suamiku.”
Lydia memberi peringatan, tapi rupanya Mary masih cukup bingung. Merasa akann buang-buang waktu saja jika menunggu Mary, akhirnya Lydia menerobos masuk. Dia bahkan tak ragu mendorong pintu dengan keras dan menyenggol tubuh perempuan itu.
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan?” pekik Mary tidak terima dengan perlakuan itu. Dia mau menarik lengan Lydia, tapi Hadi menghalangi.
Mata Lydia menyapu setiap sudut ruangan. Sekali lihat juga dia bisa tahu kalau di sini habis terjadi pertengkaran. Ruangan yang tidak luas, membuat Lydia dengan mudah melihat barang berserakan.
“Di mana Reino?” Lydia kembali bertanya.
“Sudah kubilang dia tak ada di sini,” pekik Mary meronta dari cengkraman Hadi.
Hadi hanya menggunakan satu tangan, tapi kekuatannya membuat perempuan itu tak bisa banyak bergerak. Walau agak kasihan dengan Pak Hadi, Lydia bersyukur dia mengajak pria itu.
“Baiklah. Kalau kau tidak mau mengaku biar kucari sendiri.”
“Kenapa kau kepala batu sekali sih?” tanya Mary berteriak cukup keras, membuat Hadi perlu menutup pintu yang masih terbuka yang masih bisa dia jangkau dengan kaki.
Lydia tidak mempedulikan Mary. Dia mulai mencari keberadaan Reino, dimulai dari lemari pakaian.
Lemarinya tidak besar, tapi jelas bisa menyembunyikan orang. Tak lupa, Lydia juga memeriksa tong sampah. Siapa tahu ada sisa ****** yang bisa dijadikan barang bukti untuk mencecar sang suami. Tidak menemukan apa-apa, Lydia beralih ke kamar mandi.
“Berhenti,” Mary memekik dengan sangat keras. “Jangan masuk ke sana.”
Kamar mandinya juga tidak besar. Hanya ada toilet duduk, disertai dengan bathtub yang tertutup oleh tirai. Tentu saja tirai itu juga disibak Lydia dengan kasar.
Bukan Reino yang Lydia temukan di sana, tapi seorang anak kecil. Mungkin itu anak Mary karena bocah itu terlihat seperti anak umur 1 tahun dan sedang meringkung di ujung bathtub.
“Jangan ganggu dia. Aku mohon.” Lydia bisa mendengar pekikan Mary.
Mendengar pekikan sang ibu, anak yang tadi menunduk sambil memegang kepala itu tersentak. Dia mendonggak dan menatap Lydia dengan mata merah dan air mata berderai.
“Hai, anak ganteng.” Lydia mengabaikan permintaan Mary.
“Kumohon tinggalkan dia sendirian.” Suara Mary kembali terdengar, kali inu disertai isak tangis. Sayangnya Lydia tidak mau tahu.
“Tante mau bertanya sesuatu boleh?” tanya Lydia selembut mungkin.
Anak itu menatap Lydia beberapa saat. Dia tak mempedulikan teriakan sang ibu karena sedang sibuk menyelidiki Lydia, sebelum akhirnya mengangguk.
__ADS_1
“Tante mau tanya, tadi ada Om tinggi dan galak datang atau tidak?” Lydia tak tahu apa pertanyaannya dimengerti, namun anak itu mengangguk sebagai jawaban.
“Apa om itu bertengkar dengan mama? Dia memarahi mama?” Anak itu kembali mengangguk menjawab pertanyaan Lydia.
“Apa orangnya seperti ini?” Kali ini Lydia memperlihatkan foto Reino yang ada di ponselnya.
Berbeda dengan yang sebelumnya, anak itu langsung cemberut melihat foto Reino. Dia bahkan sudah siap menangis. Untung saja Lydia menangkap kalau anak itu takut pada Reino. Itu sudah cukup menjawab pertanyaannya dan membuat Lydia berjalan keluar dari kamar mandi.
“Lepaskan dia,” gumam Lydia pada Oak Hadi.
Mary langsung melesat ke kamar mandi begitu dia bebas dari cengkraman Hadi. Lydia yang tidak menemukan Reino pun langsung memilih untuk kembali ke rumah sakit saja.
Inginnya sih Lydia langsung pulang ke rumah ibunya saja, tapi dia tak bisa. Ada mama Clarissa yang mungkin mengkhawatirkannya di rumah sakit saat ini.
“Halo, Ma.” Lydia akhirnya mengangkat telepon dari sang ibu mertua, setelah sejak tadi dia menolaknya.
“Astaga Lydia! Kamu di mana, Nak? Kok tiba-tiba hilang sih?”
“Aku sedang jalan-jalan sebentar, Ma. Mama gak usah khawatir. Aku akan kembali sebentar lagi,” jawab Lydia dengan nada datar.
“Kalian pasti bertengkar kan?” tanya Clarissa didahului dengan hembusan napas lega. “Reino baru saja tiba dengan wajah masam.”
“Kami tidak apa-apa, tapi mungkin butuh waktu untuk bicara berdua,” jawab Lydia memandangi pemandangan dari jendela mobil.
“Ya, sudah. Kalau begitu cepatlah pulang.” Setelah mengatakan itu, Clarissa menutup telepon.
Lydia meremas ponselnya dengan kedua tangan. Dia mengingat bocah yang tadi ditemuinya, bahkan sampai ke detil terkecil yang ada di wajah bocah lelaki pendiam itu. Itu membuat hati Lydia sedikit lega.
“Dia bukan anak Reino,” bisiknya sangat pelan.
Entahlah, Lydia juga tak yakin. Namun itu yang dikatakan hatinya saat melihat anak itu. Tak ada kemiripan dengan Reino, pun dengan Mary.
Walau anak itu jelas tak mirip siapapun, tapi Lydia masih memikirkannya. Bisa saja kan anak itu malah mirip kakeknya Reino atau keluarga Andersen lainnya. Sayangnya pemikiran itu harus terhenti ketika dia sudah tiba lagi di rumah sakit, terutama ketika menghadapi sang suami.
“Akhirnya kau kembali juga?” geram Reino berusaha menahan amarah.
__ADS_1
***To Be Continued***