Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Pernyataan Ambigu


__ADS_3

Tiba-tiba saja, rapat direksi diadakan. Dalam waktu satu jam setelah perdebatan di lantai lima tadi, seluruh penghuni lantai itu sudah duduk di meja rapat. Berikut para sekretaris atau asisten pribadi masing-masing. Agenda rapat hari ini tentu untuk membahas kelakuan CEO, sekaligus anak pemilik perusahaan.


Lydia amat sangat bersyukur karena mantan mertuanya sudah menetap di Denmark dan tidak diikutkan rapat. Alasannya sederhana, di sana hari masih malam dan semua orang pastinya masih tidur. Kalau mereka sampai ikut, masalahnya akan menjadi makin pelik.


Masalah kali ini sudah sangat pelik, jadi tidak perlu lagi ditambahkan masalah lain. Terutama fakta soal Lydia dan Reino yang adalah suami istri. Atau tepatnya mantan suami istri


“Jadi bisa jelaskan kenapa bisa ada masalah seperti ini Reino?” tanya Pak Fendi yang terlihat paling tenang. Mungkin karena usianya yang sudah matang, membuat pria itu senantiasa tenang.


“Saya rasa semua orang jelas tahu kalau saya korban di sini,” jawab Reino terdengar santai.


“Tapi yang terlihat di videonya kamu cukup menikmati,” balas Pak Fendi santai saja.


Yeah, potongan video yang dikirim ke ponsel Pak Fendi sudah ditonton beberapa orang. Termasuk Reino, Lydia, Pak Fendi dan direktur keuangan. Sangat vulgar dan kasar, tapi jelas tidak ada pemaksaan.


“Tentu saja saya menikmati. Kalau disuguhi sesuatu seperti itu pasti semua pria akan menikmati kan?” tanya Reino melirik direktur produksi yang langsung menunduk.


“Dia memutar balikkan fakta agar ulahnya yang menjual rahasia perusahaan bisa ditutupi dengan berita tak masuk akal itu.”


Orang-orang mulai ribut mendengar fakta itu. Lydia yang menjabat sebagai asisten Reino saja tidak tahu hal itu. Lydia pikir kalimat Reino waktu itu hanyalah bualan belaka, tapi rupanya tidak.


Gara-gara kejadian pemecatan itu, Reino memutuskan untuk menyelidiki Thalita. Wanita itu rupanya bukan hanya menjual diri pada saingan perusahaan, tapi juga menjual beberapa rahasia perusahaan.


Termasuk produk penyedap rasa sehat yang terbuat dari jamur. Itu membuat perusahaan batal mengeluarkan produk itu dan membuat perusahaan merugi. Itu juga salah satu data keuangan yang Lydia benahi akhir tahun lalu.


Lydia terbelalak mendengar penjelasan Pak Hadi dan Reino. Dirinya yang sebagai asisten pribadi Reino yang tidak tahu apa-apa terasa memalukan. Padahal itu adalah urusan kantor juga. Dia harus membicarakan ini dengam Reino.


“Oke. Memang tidak terlihat ada pemaksaan, tapi ada kekerasan fisik. Itu tetap bisa menjatuhkan nama perusahaan kita,” lanjut Pak Fendi yang menjadi moderator secara sukarela.

__ADS_1


“Lagipula apa-apaan itu? Masa dilakukan di kantor?” Direktur keuangan ikut menyela.


“Pertama jelas perusahaan kita dalam hal ini saya, dijebak. Dari zaman ayah saya merintis usaha, tidak pernah ada kamera pengawas tuh di ruangan yang saya tempati. Bahkan di ruangan kalian pun tak ada,” Reino mengelilingi ruangan rapat dengan telunjuknya dan wajah sedingin es.


“Dan video tadi lokasinya di ruang privat saya. Jelas tidak mungkin ada kamera pengawas, apalagi posisinya aneh begitu. Dan itu ruang pribadi saya, mau ngapain di situ kan urusan saya.”


Lydia yang berdiri tak jauh di belakang Reino mengangguk. Untuk apa juga orang menaruh kamera pengawas di ruangan pribadi. Itu kan biasanya ruangan yang dipakai untuk istirahat. Dan setahu Lydia, memang tidak ada kamera pengawas di ruangan para bos.


Merasa hal yang dikatakan Reino cukup masuk akal, para direksi pun mulai mengangguk setuju.


Tapi walau mereka sudah setuju kalau ini jebakan, beberapa orang masih tidak setuju dengan kelakuan Reino. Terutama mereka yang sudah senior. Dan karena ini sudah ketahuan publik, Reino harus segera melakukan klarifikasi dengan bukti jelas.


Lydia menatap puas pada para direksi. Setidaknya masalah yang termasuk berat ini sudah ada titik terangnya. Nanti tinggal urusan kuasa hukum dan tim PR yang harus bekerja keras meredam masalah ini.


Kening Lydia berkerut ketika matanya menangkap gelagat aneh salah satu orang. Sepertinya orang itu tidak begitu senang karena masalah ini selesai dengan cukup mudah. Hanya sebentar saja sih tapi Lydia menangkap perubahan ekspresi itu. Perlukah Lydia melaporkan hal ini pada Reino?


“Lalu bagaimana dengan asistenmu itu?” tiba-tiba Pak Fendi bertanya lagi.


“Ada masalah dengannya?” tanya Reino dengan mata menyipit tidak suka.


“Oh, tadi videonya lupa diperlihatkan ya?”


Mata Lydia langsung melotot mendengar penuturan Pak Fendi. Dia langsung jadi gugup, apalagi karena kini semua mata tertuju padanya. Ruangan yang seharusnya dingin itu, tetap membuat sebutir keringat muncul di kening Lydia.


“Video seperti apa? Apa dia juga penggoda yang dengan suka rela membuka kakinya?” tanya direktur pemasaran dengan senyum mengejeknya.


“Sayangnya tidak seperti itu,” jawab Pak Fendi dengan senyum tipis, membuat perempuan akhir 30 itu berdecih kesal.

__ADS_1


“Justru sepertinya yang dipaksa adalah Lydia,” lanjutnya menatap Lydia dengan lekat. “Apa benar seperti itu?”


Lydia mengerjapkan mata beberapa kali. Dia yang tidak siap ditanya seperti itu, gelgapan ketika ditanya. Mulutnya sudah terbuka, tapi nyaris takk ada suara yang keluar.


“Saya...”


“Gak apa-apa Lydia katakan saja apa ancaman Reino saat dia memaksa untuk menciummu.”


Seketika ruangan itu jadi ribut ketika Pak Fendi mengucapkan itu. Semua orang berbisik dan menatap Lydia dengan pandangan ingin tahu.


Suasana itu jelas membuat Lydia merasa tersudut. Dia ingin membela diri, tapi tidak tahu apa yang harus dia katakan. Rasanya tidak ada kata-kata yang bisa dia gunakan untuk membalas, tanpa membongkar perjanjian mereka.


Lydia mengutuk video tak bersuara itu dan terutama mengutuk Thalita. Kalau bukan karena perempuan kegatelan itu, Lydia pasti tidak akan terjebak di situasi sulit ini. Lagi pula kenapa pula bisa ada kamera pengawas juga di ruangan kerja?


“Lucu sekali pertanyaan itu,” jawab Reino terkekeh.


Semua orang di dalam ruang rapat melongo mendengar suara tawa renyah Reino. Lelaki yang bahkan tak pernah tersenyum itu kini malah tertawa geli? Mereka tidak salah dengar kan?


Semua orang saja bingung, apalagi Lydia. Kening Lydia sudah berkerut, mengantisipasi apa yang hendak dikatakan Reino dan membantahnya jika bisa.


“Kami hanya marahan biasa saja kok,” seru Reino dengan sudut bibir tertarik naik


Jawaban ambigu Reino membuat beberapa orang mengernyit. Para asisten dan sekretaris pun menoleh pada Lydia dengan tatapan penuh tanya. Apalagi dengan senyuman yang amat sangat jarang terlihat itu.


“Saya dan Lydia sedang marahan. Tapi karena merasa tidak bersalah, saya memaksa untuk menciumnya. Emang salah ya kalau saya berciuman dengan pacar sendiri?”


Bukan hanya Lydia yang kaget dengan perkataan itu. Seluruh ruangan pun dibuat kaget dengan pernyataan Reino itu.

__ADS_1


‘Apa yang dikatakan Polar Bear ini?” teriak Lydia dalam hati.


***To Be Continued***


__ADS_2