Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Tidak Mengakui


__ADS_3

Akhirnya berakhir sudah masa menginap di rumah orang tua Reino. Lydia berada di sana tepat seminggu, sesuai dengan yang dijanjikan Reino padanya. Dan Lydia mensyukuri hal ini


Hanya satu yang membuat Lydia merasa aneh. Rasanya Reino sedikit berubah. Pria itu jadi lebih banyak menghindarinya. Lydia tidak tahu ada apa, tapi itulah yang dia rasakan.


Dan rupanya bukan hanya Lydia saja yang merasa seperti itu. Tuti pun merasa kalau Reino menghindar dan makin terlihat dingin.


‘Lagi tengkar ya, Bu?’ tanya Tuti beberapa jam lalu.


Dan karena penasaran, Lydia berniat untuk mencari tahu. Apa pun yang terjadi, dia harus tahu alasan Reino menghindarinya. Lydia sama sekali tidak suka dengan keadaan ini.


“Pak, ini berkas yang harus ditanda tangani,” sahut Lydia memberikan berkasnya pada Reino.


“Taruh saja di meja,” perintah Reino tanpa mendonggak.


Reino memang sedang sibuk dengan laporan bulanan dari firma hukum Viktor. Bahkan yang empunya perusahaan sedang menunggu di sofa dengan santainya. Viktor bahkan sempat menyapa Lydia tadi.


Lydia menaruh berkasnya di atas meja dan menunggu. Walau itu bukanlah berkas yang buru-buru perlu ditanda tangani, Lydia akan menunggu.


“Kamu bisa keluar,” perintah Reino masih tanpa menatap Lydia.


“Maaf, Pak. Saya harus menunggu. Berkasnya buru-buru ingin dipakai,” jawab Lydia tanpa ragu.


Reino yang sedang kesal, langsung meletakkan pulpennya dengan suara keras. Dia akhirnya mendonggak dan menatap Lydia dengan tajam, tapi tidak membuat perempuan itu gentar.


Hadi dan Viktor yang jadi penonton pun saling melirik. Mereka bisa merasakan aura peperangan di antara dua orang itu.


“Katakan saja pada orang yang menitipimu berkas ini untuk menunda apa pun itu yang ingin dia kerjakan,” geram Reino jelas terlihat marah.


“Tidak bisa, Pak. Itu berkas yang penting,” jawab Lydia masih tegas.


Tidak ingin melihat Lydia lebih lama lagi, Reino akhirnya meraih berkas itu dan menandatanganinya dengan cepat. Dia bahkan tidak memeriksa isi berkasnya sama sekali, padahal biasanya Reino akan membacanya lebih dulu.


Setelah selesai menandatangani, Reino melempar map itu secara asal. Entah sengaja atau tidak, map itu terlempar dan mengenai wajah Lydia.


“Rei,” Viktor langsung menegur dan bangkit berdiri.


Viktor dan Hadi sudah berjalan mendekati Lydia, tapi wanita itu menaikkan sebelah tangannya. Tanda kalau dia tidak ingin dibantu sama sekali.


Lydia memungut mapnya dengan gerakan pelan. Dia merapikan isinya yang berantakan, kemudian menatap Reino dengan tajam.


“Sebenarnya salahku apa sih sampai diperlakukan seperti ini?” tanya Lydia dengan suara sedikit bergetar.

__ADS_1


Reino yang tadinya sudah menunduk lagi, kini menggennggam pulpennya dengan keras. Tidak ada yang dia katakan, tapi tangannya bergetar saking kerasnya dia menggenggam pulpen. Dan merasa tidak pantas di ruangan itu, Viktor berniat menunggu di tempat lain.


“Kurasa aku akan menunggu di luar.”


“No need. Kamu bisa tetap di dalam ruangan, Vik.”


Penolakan dari Reino itu membuat Viktor jadi salah tingkah. Itu sama saja dengan Reino enggan menjawab pertanyaan Lydia itu. Dan itu jelas saja makin membuat Lydia sakit hati.


“Fine,” seru Lydia dengan suara yang makin bergetar.


“Aku gak tahu apa salahku. Tapi kalau itu memang membuat kamu gak nyaman kerja denganku, aku bersedia resign,” lanjut Lydia terdengar lebih tegas.


“Dan kalau Pak Reino tidak mau melanjutkan kontrak yang sekarang juga tidak masalah. Akan saya pastikan untuk membayar semua utang saya, walau menghabiskan waktu seumur hidup. Saya malah lebih senang jika tidak harus melayani anda lagi,” Lydia kembali ke cara bicaranya yang lebih sopan.


“What?” seru Reino kaget mendengar itu.


“Permisi,” seru Lydia tidak menanggapi seruan penuh tanya Reino barusan.


Lydia berjalan keluar dengan langkah ttegas, bahkan dia membanting pintu dengan cukup keras. Sampai-sampai semua orang yang ada di ruangan Reino terkejut.


“Ada apa sih dengan kalian?” tanya Viktor begitu rasa terkejutnya sudah hilang.


Reino tidak menjawab pertanyaan itu. Dia menghela napas, sambil memikirkan kalimat yang dilontarkan Lydia barusan. Reino sama sekali tidak menyangka Lydia lebih memilih membatalkan kontrak dan membayar utangnya, apalagi sampai resign. Ide itu langsung membuat kepala Reino sakit.


“Dia menangis?” tanya Reino menatap Viktor penuh tanya.


“Nyaris menangis, Pak. Tapi mungkin sekarang sudah menangis keras di toilet,” Hadi yang menjawab pertanyaan itu, diikuti dengan anggukan kepala Viktor.


“Oh, ****. Harusnya aku tidak peduli padanya,” geram Reino merasa dirinya makin aneh.


Reino baru saja merasa amat sangat tidak suka dengan fakta kalau Lydia menangis karenanya. Dan bagi Reino, ini adalah hal yang sangat aneh. Dari beberapa hari lalu Reino sudah merasa dirinya aneh.


Pertama. Reino tiba-tiba merasa kalau Lydia cantik dan seksi. Lalu tadi saat mendengar suara Lydia yang bergetar, Reino rasanya sakit hati sendiri. Belum lagi ditambah dia yang syok karena Lydia mau resign dan membatalkan kontrak.


Semuanya aneh dan Reino tidak paham dan terbiasa dengan semua ini. Reino ingin menolak semua yang dia rasakan saat ini. Karena baginya ini tidak masuk akal.


“Apa yang aneh dengan kau yang peduli pada pacarmu?” tanya Viktor membuyarkan lamunan Reino.


“Kau tahu kalau kami tidak benar-benar pacaran,” hardik Reino kesal setengah mati, tapi juga hatinya terasa aneh saat mengucapkan itu.


“Oh, ya? Saya pikir anda berdua sudah mulai pacaran sungguhan,” seru Hadi terlihat sedikit bingung.

__ADS_1


“Apa maksud kata-katamu itu?” geram Reino marah. Dia juga tidak tahu kenapa bisa marah.


“Selama tinggal di rumah utama, anda berdua benar-benar terlihat seperti pasangan sungguhan,” jawab Hadi tanpa berkedip.


“Itu karena ada Mama dan Papa di sana. Kau lupa? Kami pura-pura menikah,” hardik Reino makin kesal.


“Tidak, Pak. Saya yakin itu bukan akting semata.”


“Lalu apa?”


“Cinta, Rei,” jawab Hadi terlihat menahan senyumnya. “Kurasa kau jatuh cinta pada Lydia.”


“Kapan kalian pernah lihat seorang Reino Andersen jatuh cinta pada perempuan?” tantang Reino makin kesal.


Reino tidak terima dirinya disebut seperti itu. Baginya cinta itu hanyalah untuk sekumpulan orang bodoh yang mudah terperdaya. Dan Reino tidak akan mau jadi budak cinta.


“Barusan. Aku baru saja menyadari kalau kau jatuh cinta pada Lydia ketika tadi dia ada di dalam sini. Caramu menatapnya terlihat berbeda.”


Kalimat dari Viktor yang disetujui oleh Hadi itu, membuat Reino bergidik. Perasaan caranya menatap Lydia biasa saja tadi. Dia bahkan cenderung marah.


“Aku tidak seperti itu.”


“Anda seperti itu, Pak. Wajah anda terlihat marah, tapi tidak dengan tatapan anda..”


“Kau terlihat begitu memujanya. Bahkan waktu Lydia bilang mau resign kau langsung panik,” tambah Viktor dengan senyum penuh arti.


“Kalian semua gila,” hardik Reino keras.


“Kalau kau tidak mau mengakui perasaanmu sih gak masalah ya. Tapi hati-hati, nanti ada yang mengambilnya darimu,” balas Viktor terlihat sangat tenang.


“Aku tidak peduli itu.”


“Yakin?”


“Amat sangat yakin.”


“Artinya kau tidak keberatan dia pacaran dengan orang lain kan?” tanya Vviktor untuk lebih meyakinkan.


“Untuk apa aku keberatan?”


“Kalau begitu, Lydia boleh buatku saja ya,” seru Viktor dengan senyum lebar.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2