Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ekstra-Tempat Pulang


__ADS_3

“Amadeus Andersen?” Kenzo mengucapkan nama keponakannya yang kedua dengan kedua mata berkedip. “Apa kau ingin anak-anakmu jadi musisi?”


Anak kedua Reino yang berjenis kelamin lelaki, baru saja dilahirkan dan lagi-lagi Reino baru terpikirkan soal nama. Alhasil, itu sempat membuat Lydia kesal. Untung saja, nama pemberian Reino cukup bagus.


Amadeus. Diambil dari nama komposer terkenal dunia, Wolfgang Amadeus Mozart. Dengan nama anak pertama yang bernama Melody, tentu saja orang-orang akan berpikir kalau Reino ingin anaknya jadi musisi.


“Tidak. Aku hanya ingin anak-anakku punya nama dengan tema yang sama.” Reino menjelaskan dengan santai. “Karena yang pertama sudah berhubungan dengan musik, jadi yang kedua pun harus sama.”


“Tapi setidaknya tolong jangan membuat nama secara tiba-tiba.” Lydia menegur untuk yang kesekian kali. “Aku kesal karena nama yang sudah kusiapkan malah tidak jadi dipakai.”


“Kita bisa memakainya sebagai nama tengah.” Reino memberi ide.


“Sudah tidak mungkin. Aktanya sedang diurus. Lagi pula, aku tidak begitu suka nama yang panjang. Itu menyulitkan.” Lydia menolak dengan cepat.


“Yang penting anaknya sehat dan tumbuh dengan baik. Itu saja sudah cukup.” Mama Clarissa mengatakan itu, sambil menggendong cucu keduanya.


Mendengar itu, tentu saja Lydia hanya bisa mengangguk. Itu adalah hal yang pastinya sangat diinginkan semua ibu di dunia ini. Bahkan Reino pun mengharapkan hal itu.


“Dia tenang sekali ya.” Reino berbisik pelan ketika hanya tinggal mereka bertiga di dalam kamar rawat inap.


Melody sang kakak tidak dibawa ke rumah sakit. Alasannya sangat jelas. Anak itu baru berumur setahun lebih, dia tentu tidak bisa sembarangan dibiarkan tinggal lama di rumah sakit. Sekali pun itu hanya rumah sakit bersalin.

__ADS_1


Kemarin si sulung itu sudah dibawa sebentar karena dia sempat mengamuk, tapi hari ini tidak lagi. Sekali pun bayi itu mengamuk mencari ibunya, orang rumah tidak membawa karena Lydia juga akan pulang keesokan harinya.


Liani, juga hanya sempat datang sebentar saja. Itu karena si kembar sedang rewel dan tidak bisa ditinggal lama. Alhasil, hari ini hanya Kenzo dan keluarga Reino yang datang. Itu pun mereka sudah pulang.


“Ya. Dia lebih tenang dibanding Melody.” Lydia meringis ketika mengatakan itu. “Aku jadi khawatir kalau nanti dia ditindas kakaknya.”


“Deus tidak akan tertindas,” balas Reino dengan tegas. “Dia lelaki, jadi pasti bisa membela diri.”


“Tapi masalahnya dia masih bayi. Belum bisa membela diri.” Lydia mendengus kesal melihat kelakuan sang suami yang terkesan menyepelekan sesuatu.


“Tapi omong-omong, kau sungguh tidak mau punya anak lagi?” tanya Reino dengan nada hati-hati.


“Kata siapa?” Lydia jelas saja bingung mendengar itu. “Aku kan masih bisa hamil sekali lagi, kalau mau dan kalau diberikan rezeki lagi dari Tuhan.”


“IUD alias spiral?” Perempuan yang terbaring di ranjang rumah sakit itu menaikkan sebelah alisnya. Dia masih bingung kenapa sang suami berpikiran seperti itu.


“Ya itu. Itu kan untuk mencegah kehamilan.”


“Hanya mencegah kehamilan, bukan tidak bisa hamil. Tolong bedakan mana alat kontrasepsi dan mana yang sterilisasi.” Jelas saja Lydia akan memutar bola matanya karena gemas dengan pemikiran sang suami.


Sejatinya, pemasangan IUD sama saja dengan penggunaan ******. Itu sama-sama alat pencegah kehamilan, tapi bukan tidak mungkin juga kebobolan. Itu hanya untuk berjaga-jaga saja.

__ADS_1


Bukannya Lydia tidak ingin punya anak lagi, tapi untuk saat ini dua saja cukup. Memang ada yang membantunya menjaga anak, tapi bukan berarti dia ingin mencetak anak setiap tahun. Lydia ingin fokus dulu pada kedua anaknya.


“Aku kan sudah menjelaskan padamu. Kok masih ditanya lagi?” Lydia kini bertanya dengan nada yang lebih lembut.


“Aku hanya ingin lebih yakin saja. Soalnya, kalau bisa aku masih ingin punya anak lagi. Aku ingin punya banyak anak karena sendirian itu sepi.”


Lydia mendesah mendengar apa yang dikatakan sang suami. Dia mungkin tak mengerti apa yang dirasakan Reino karena dirinya punya Kenzo, jadi dia ingin memberikan yang terbaik pada sang suami.


“Karena aku operasi, kita hanya bisa punya tiga anak saja. Risikonya terlalu besar kalau lebih dari itu.” Lydia kembali mengingatkan sang suami.


“Kita bisa program anak kembar.”


“Nanti.” Pada akhirnya Lydia lelah juga memperpanjang masalah. “Nanti kita akan memikirkan itu, setidaknya setelah Deus sudah cukup besar.”


“Ya. Kurasa kau benar. Kita bisa memikirkannya nanti,” bisik Reino yang kemudian mengecup kening sang istri. “Sekarang mari fokus pada dua anak dulu.”


Lydia tersenyum karena akhirnya sang suami setuju juga. Sekarang, mereka hanya perlu mengurus dua anak dulu dan berusaha untuk bahagia bersama.


Setelah Amadeus berusia sekitar dua tahun, barulah Lydia dan Reino mencoba punya anak lagi. Mereka kemudian dikaruniai seorang anak lelaki lagi yang kemudian diberi nama Oktaf Andersen.


Lalu sekarang, keluarga bahagia itu tengah berusaha mengabadikan kelucuan Oktaf yang sudah bisa merangkak, setelah sebelumnya melakukan sesi foto keluarga. Kini Reino sudah menemukan tempat untuk pulang.

__ADS_1


***The End***


__ADS_2