Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ekstra-Lahiran


__ADS_3

“Bagaimana rasanya jadi seorang ibu?” Erika menanyakan hal itu pada Lydia.


“Luar biasa,” jawab perempuan yang baru saja melahirkan beberapa minggu lalu itu. “Ternyata cukup menyenangkan.”


“Cukup menyenangkan?” tanya Cinta dengan mata melotot. “Memangnya anakmu tidak pernah terbangun tengah malam? Tidak pernah rewel?"


“Rewel.” Lydia mengangguk pelan, sambil melihat anaknya yang baru saja tertidur itu. “Tapi kan banyak yang bantuin.”


“Yeah, the power of money. Ada pengasuhnya.” Vanessa memutar bola matanya karena gemas.


Lydia tertawa cukup keras. Yang dikatakan Vanessa itu memang tidak salah. Reino memang menyewa pengasuh untuk membantu Lydia mengurus Melody. Ada juga mama mertua baik hati yang mau membantu dan Reino juga cukup siaga.


Bisa dikatakan hidup Lydia benar-benar nyaman. Dia benar-benar hanya menyusui putrinya dan membantu memakaikan baju. Selebihnya akan dilakukan pengasuh atau mama mertua.


“Kalau kau kewalahan, coba ambil pengasuh. Punya dua bayi pasti lebih repot.” Lydia memberi saran pada Cinta.


“Tidak. Aku akan mengurus anakku sendiri. Lebih baik uangnya disimpan untuk biaya pendidikan nanti, lagi pula mertuaku dan mamaku membantu.” Perempuan yang punya dua anak kembar itu memberi tahu.


“Mungkin saran itu lebih cocok untuk Erika. Bisnisnya kan sudah mulai bagus lagi.” Vanessa menunjuk ke arah orang yang dia maksud.


“Masalahnya, harus punya anak dulu baru bisa sewa pengasuh. Aku belum punya.” Erika mengatakan itu dengan nada santai, seolah bukan apa-apa.

__ADS_1


Keempat sahabat itu kemudian tertawa pelan menanggapi Erika. Sesuatu hal yang sebenarnya tidak patut ditertawakan, tapi mereka masih bisa menganggap itu lelucon dan Erika tidak marah.


Sudah lewat hampir sebulan sejak Lydia melahirkan dan nyaris tiap minggu para sahabatnya menjenguk. Katanya itu karena Melody terlihat begitu menggemaskan dan montok.


Hari ini mereka datang lagi karena kebetulan saja hari libur. Sayangnya, Reino tidak libur dan malah pergi dinas keluar kota.


Lydia awalnya agak khawatir, tapi karena suaminya sering video call untuk melihat Melody, dia tidak begitu khawatir lagi. Setidaknya dia tahu suaminya lebih senang menghabiskan waktu dengan menelepon anaknya.


“Bagaimana dengan mamamu? Bukankah dia juga sudah hampir melahirkan?” Vanessa kembali bertanya.


“Ya. Dia mungkin akan melahirkan bulan depan. Aku lupa tanggal persisnya, tapi intinya awal bulan depan.”


“Pasti mamamu jadi cemas. Secara, usianya tidak muda lagi dan dia hamil kembar. Pasti berat.” Erika meringis membayangkan kalau nanti dia mungkin saja akan seperti itu.


“Iya. Makanya setelah berdiskusi dengan Reino, aku mengirimkan ART dan juga nanti akan mengirimkan pengasuh untuk bayinya. Kuharap nanti Kenzo juga bisa membantu,” jawab Lydia dengan helaan napas panjang.


“Anak-anak sepertinya tahu apa? Apalagi dia lelaki. Mana mau mengurus bayi.” Cinta langsung memutar bola matanya dengan gemas.


“Jangan salah loh. Justru Kenzo yang paling bersemangat. Dia bahkan lebih sering membaca buku parenting dari pada mama dan Pak Hadi,” jawab Lydia disertai dengan senyum geli. Dia sungguh tak habis pikir adiknya bisa seantusias itu.


“Kau masih memanggilnya Pak Hadi? Tidak ganti nama panggilan?” tanya Vanessa penasaran.

__ADS_1


“Tidak. Soalnya sudah kebiasaan, lagi pula anggap saja itu singkatan dari bapak.” Lydia mengedikkan bahunya dengan santai.


Lydia juga sudah membicarakan hal itu dengan mama dan Hadi. Mereka berdua tidak keberatan dengan panggilan apa pun. Bahkan Reino saja masih memanggil Hadi hanya dengan nama saja.


Sejujurnya, Lydia masih ingin banyak bicara dengan para sahabatnya. Sayang sekali, Reino yang harusnya pulang besok pagi, tiba-tiba saja muncul dan mengusir semua orang.


“Aku mau quality time dengan keluargaku.” Itu yang dijadikan alasan dan membuat semua orang terlihat cemberut.


“Akhirnya aku bisa memeluk Tuan Putriku.” Reino mengambil putrinya yang baru saja terbangun dan siap menyusui itu.


“Kau belum mandi, Kak Rei.” Lydia segera menegur sang suami.


“Ck. Benar juga.” Dengan raut wajah kecewa, Reino kembali meletakkan putrinya di ranjang.


Reino sudah bergegas pergi mencari baju ganti, ketika ponsel Lydia berdering nyaring. Tentu saja itu membuat yang empunya ponsel batal mengangkat putrinya dari ranjang bayi.


“Ya, Ken. Ada apa?” Lydia mengangkat telepon dari sang adik.


“Kak. Mama sepertinya kontraksi,” pekik Kenzo dengan panik dari seberang sambungan telepon. “Dia mau melahirkan.”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2