
Diluar dugaan Lydia, proses pemulihan ibunya cukup cepat. Selang di kepala Liani bahkan sudah dilepas sebelum satu minggu karena memang darahnya tidak banyak. Dan setelahnya, Liani sudah bisa beraktifitas seperti biasa dan boleh pulang dalam waktu dekat.
Itu tentunya kabar buruk bagi Lydia karena itu berarti dia sudah harus kembali ke kantor senin ini. Dan itu berarti perjanjian mereka sudah akan berjalan. Tiba-tiba saja Lydia berharap dia datang bulan saja agar bisa menghindar.
Tapi itu jelas tidak mungkin karena Lydia baru selesai bulanan 2 hari lalu. Mau berbohong pun Lydia takut kalau Reino meminta bukti. Karena itu disinilah Lydia sekarang, berdiri di depan gedung kantornya dengan helaan napas panjang.
“Kamu bisa, Lyd,” gumamnya melangkah masuk.
Suasana aneh terasa begitu Lydia masuk ke lobi kantor. Rasanya hampir semua orang menatapnya sambil berbisik. Ada yang memandang penuh tanya, ada juga yang menuduh.
“Lydia,” panggil salah seorang sekretaris yang menghuni lantai teratas. Mereka sedang sama-sama mengantri untuk naik lift.
“Selamat pagi, Mbak Maya,” jawab Lydia dengan senyum mengembang.
“Kamu bisa tertawa seperti ini karena belum lihat berita pagi ya?” tanya perempuan yang bernama Maya tadi.
“Hah? Berita apa?” tanya Lydia jelas bingung.
Pertanyaan Lydia tidak dijawab secara verbal, tapi dia malah disodorkan ponsel. Dan kedua mata Lydia membulat sempurna melihat judul berita yang terlihat di ponsel itu.
‘Karyawan pabrik makanan diduga telah dipaksa melayani atasan yang baru-baru ini menjadi superhero bagi para wanita.’
Tangan Lydia sontak mengambil ponsel rekan kerjanya itu, kemudian membaca beritanya dengan cepat. Sesuai dengan perkiraan Lydia, superhero yang dimaksud adalah bosnya.
Dan isi beritanya kurang lebih tentang seorang mantan sekretaris Reino dilecehkan dan dipaksa melayani bosnya, dia takut melapor karena diancam dan baru berani mengungkap ke teman dekat yang kemudian jadi viral di media sosial.
“Dasar perempuan ular. Padahal dia yang selalu menggoda Pak Reino, tapi sekarang ngaku dipaksa. Dia kira gak ada kali anak lantai lima yang gak ngelihat waktu dia menggoda bos kita,” seru Maya begitu mereka sudah di lift.
“Thalita ya?” tanya Lydia tidak sadar dengan kerumunan orang yang menguping disekitar mereka.
__ADS_1
“Siapa lagi, Lyd?” gerutu Maya jelas merasa kesal.
“Dari awal dia masuk banyak dari kita yang tugas di lantai lima jadi risih. Bukan hanya Pak Reino saja yang digoda loh, Pak Wakil juga tuh,” Maya tak segan membicarakan atasan langsungnya.
“Serius?” tanya Lydia tidak percaya.
“Ya. Makanya aku jadi agak risih karena jadinya orang-orang berpikir semua sekretaris perempuan bisa dipakai. Termasuk kamu,” Maya berdecih keras sekali.
Lydia membulatkan mata tak percaya. Maya kemudian mengedikkan dagu, meminta Lydia membaca artikel yang belum dia selesai baca. Dan begitu selesai dia langsung naik darah.
Thalita menyebut kalau wanita yang ditolong Reino dari klien mesum adalah asisten pribadi pria itu saat ini (yang adalah Lydia). Dan katanya asisten pribadi itu yang jadi penyebab Thalita dipecat. Dia bahkan menyebutkan kalau Lydia sekarang mainan kesayangan bos.
Lydia tidak bisa marah disebut mainan kesayangan bos karena sesungguhnya dengan perjanjian itu, dia memang mainan baru Reino. Mungkin bukan kesayangan, tapi tetap saja.
Tapi untuk alasan Thalita dipecat, Lydia tidak terima. Perempuan itu dipecat karena menjajakan diri ke mana-mana dan itu bukan salah Lydia.
“Excuse me? Apa ini tidak keterlaluan?” desis Lydia kesal sekali.
Sebenarnya ada alasan kenapa Maya sengaja mengatakan semua ini di tempat umum. Dia tidak ingin rekan sekantornya yang lain mencap sekretaris para bos yang berkantor di lantai lima sama dengan Thalita. Itu jelas merugikan karena dia tidak seperti itu.
Mereka masih ingin mengobrol, tapi lift sudah sampai di lantai lima. Lydia mengembalikan ponsel Maya dan mereka keluar bersamaan, meninggalkan kumpulan orang kepo yang ikut naik sampai lantai lima, walau mereka tidak ada urusan di sana.
“Mana Reino?”
Belum juga dua orang itu sampai di ruangan masing-masing, mereka sudah dihadang. Bukan hanya dihadang satu orang, tapi beberapa orang. Dari para direktur sampai wakil CEO berkerumun di dekat lift.
“Anu, Pak. Saya juga baru datang dan belum ke ruangan,” jawab Lydia takut-takut.
“Sebagai mainan barunya Reino masa kamu tidak tahu?” hardik direktur keuangan yang merupakan seorang perempuan paruh baya.
__ADS_1
“Maaf, tapi saya manusia, Bu. Saya bukan boneka yang bisa dimainkan,” jawab Lydia sopan dan tanpa emosi berlebihan.
“Dasar kamu perempuan murahan kurang ajar. Mentang-mentang disayang sama anak pemilik perusahaan, kamu berani sekali sama direktur? Gak takut dipecat?” kali ini direktur pemasaran yang bersuara. Masih perempuan, tapi lebih muda.
Lydia menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Dia tidak bisa membantah terlalu banyak karena pada dasaranya dia memang mainan Reino. Sementara Maya, sudah melarikan diri dari lokasi itu.
“Dasar ******. Wajahnya saja polos, tapi kelakuannya persis seperti ****** yang satunya lagi,” desis salah satu direktur lelaki. Kalau tidak salah pria itu dari bagian produksi.
“Jaga bicaramu kalau tidak mau dipecat.”
Suara bariton Reino yang selalu terdengar dingin, membuat semua orang menoleh ke arah lift yang terbuka. Reino berdiri tepat di pintu lift, sementara Hadi mengikuti di belakangnya.
“Reino,” Pak Wakil CEO maju mendekat.
“Saat pembukaan pasar nanti, saham kita pasti akan anjlok. Kamu harus memberikan klarifikasi soal berita tidak jelas itu,” sahut Pak Wakil tenang. Rasanya memang hanya pria tua itu yang tenang.
“Itu jelas adalah tuduhan yang tak berdasar, Pak Fendi. Buktinya pun tak ada,” Reino sangat tenang dan datar seperti biasanya.
“Tapi buktinya ada Reino. Apa kamu lupa di ruanganmu ada kamera pengawas?” tanya Pak Fendi masih tenang saja.
“Apa maksudnya dengan kamera pengawas? Tidak ada kamera diruanganku,” geram Reino marah. Dan yang dikatakannya itu memang fakta. Seharusnya tak ada kamera di sana.
“Lalu dari mana mereka bisa mendapatkan video?” tanya Pak Fendi terlihat bingung. “Pihak kepolisian sudah menghubungiku karena kamu tidak bisa dihubungi.”
“Apa?”
Bukan hanya Reino saja yang terkejut mendengar itu, tapi nyaris semua orang di sana ikut terkejut. Termasuk Lydia yang wajahnya sudah menjadi pucat pasi.
Lydia menoleh menatap Reino yang juga menatapnya. Jika ada video, itu berarti hubungan mereka yang sebenarnya bisa saja terbongkar. Dan itu artinya akan ada adegan berciuman mereka nantinya kan?
__ADS_1
Oh, sialan. Kenapa malah jadi seperti ini? Apa yang harus dikatakan Lydia pada ibunya nanti. Lalu apa yang harus dikatakannya pada semua orang kantor? Dasar Thalita sialan.
***To Be Continued***