
“Kau tidak akan ke mana-mana.”
Desisan marah Reino itu membuat Lydia tersentak. Untuk apa juga pria itu marah?
“Tapi Pak, ibu saya sedang-”
“Kau pikir saya peduli dengan kebohongan tidak masuk akalmu itu? Kau hanya ingin menghindariku kan?”
“Demi Tuhan, Pak. Ibu saya barusan mengalami kecelakaan,” teriak Lydia frustasi. Apa sih yang dipikirkan atasannya ini? Seterobsesi itukah pria di depannya ini pada tubuh kurusnya atau gimana?
Reino terdiam mendengar penuturan asistennya barusan. Kebohongan soal orang tua yang kecelakaan adalah sesuatu yang fatal dan Reino tidak suka hal itu. Tapi dia juga tidak ingin langsung mengambil keputusan karena berita ini belum jelas.
“Kau hanya akan pergi jika aku mengizinkan. Kau pikir kantor ini lelucon?” tanya Reino dengan nada datar.
“Tapi ini nyata, Pak.”
Lydia yang panik langsung maju dan menunjukkan ponselnya pada Reino. Di sana memang ada pesan teks yang menunjukkan seseorang mengirim pesan soal keadaan ibu Lydia, tapi nomornya tidak dikenal. Dan itu membuat Reino curiga.
Bukan. Reino bukan curiga pada Lydia, tapi pada pengirim pesan itu. Sudah dari zaman dulu orang-orang sering menipu dengan modus serupa ini. Dan Reino merasa perlu hati-hati karena bisa saja ini rentenir yang kali lalu.
“Apa kau tidak tahu banyak modus penipuan seperti ini?” tanya Reino dengan tatapan tajam.
Awalnya Lydia bingung dengan pertanyaan Reino, tapi setelah berpikir sesaaat dia pun sadar. Nomor yang mengeriminya pesan itu memang tidak dikenali. Itu membuatnya jadi bingung.
“Tapi minimal saya perlu mencari tahu dulu, Pak,” balas Lydia terlihat lebih tenang.
“Akan kuminta Hadi melakukannya,” seru Reino sembari memindahkan perhatiannya ke ponsel.
Lydia bisa melihat tangan pria yang lentik itu, menari lincah di atas layar ponsel. Tidak ingin tinggal diam Lydia mencoba untuk menghubungi ibuny, tapi tidak berhasil. Dia kemudian segera beralih untuk mengubungi adiknya. Untungnya Kenzo yang sedang tidak kuliah bisa pergi memeriksa ke rumah sakit yang dimaksud.
__ADS_1
Walau sudah ada adiknya yang memeriksa, Lydia tetap merasa tidak tenang. Dia tetap berusaha menelepon sang ibu, tidak lagi peduli dengan pekerjaannya. Untungnya Reino tidak terlalu peduli.
“Maaf, Pak saya rasa saya benar-benar harus izin pulang. Adik saya sudah pergi untuk menginformasikan kalau itu memang Mama,” seru Lydia panik. Tanpa peduli dengan tatapan heran Reino, Lydia mulai berkemas.
“Bagaimana adikmu bisa mengetahuinya secepat itu?” tanya Reino bingung. Hadi saja belum memberi kabar.
“Kebetulan dia ada di sekitar rumah sakit yang disebut di chat tadi. Maaf, Pak saya buru-buru. Nanti akan saya buat surat izinnya,” seru Lydia berlalu pergi.
Itu semua bersamaan dengan pesan masuk dari Hadi. Kepala pengawal Reino itu mengabari kalau chat yang diterima Lydia sepertinya benar terjadi.
“Sialan.” Sekarang Lydia pasti makin tidak mau menerima ajakannya.
***
“Kenzo?” teriak Lydia begitu melihat adiknya duduk di depan ruangan IGD.
“Kak?”
“Katanya Mama kecelakaan. Mobilnya hancur setengah,” bisik Kenzo dengan suara serak.
Lydia tercekat. Napasnya seolah tercuri entah ke mana, dadanya sesak dan matanya terasa panas. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi sang ibu, jika mobilnya saja seperti itu. Pastinya kondisi Liani akan lebih parah lagi kan.
“Kamu… udah lihat Mama?” tanya Lydia terbata.
Walau dia syok, Lydia berusaha untuk tegar. Setidaknya harus ada satu orang yang bisa berpikir dengan kepala yang lebih jernih. Dan itu jelas bukan Kezo sang adik. Mau tidak mau, harus Lydia yang melakukannya.
“Aku hanya lihat sekilas tadi waktu Mama dibawa entah ke mana untuk diperiksa,” jawab Kenzo dengan tangis yang sudah berhenti.
“Terus administrasinya?”
__ADS_1
“Tadi aku sudah urus sih. Tapi waktu dimintaiin DP, aku terpaksa gesek kartu Mama yang ada di aku,” jawab Kenzo tertunduk.
“Ya udah. Biar kakak cari tahu dulu ke dalam ya. Kamu tunggu aja di sini,” pinta Lydia mengusap lengan adiknya dengan lembut.
Lydia berusaha berjalan dengan langkah tegar ke arah ruang IGD, walau pikirannya bercabang ke mana-mana. Padahal rasanya baru beberapa jam sejak Lydia keluar dari rumah, tapi sudah ada saja hal buruk yang terjadi. Rasanya sama seperti yang terjadi dengan almarhum ayahnya dulu. Dan andaikata ibunya juga seperti itu, Lydia rasanya tidak siap. Setidaknya jangan sekarang.
“Maaf,” seru Lydia ketiba tiba di depan meja besar di IGD. Di sana duduk perawat yang bertugas di ruangan IGD yang tidak terlalu ramai ini.
“Bisa dibantu, Mbak?”
“Anu, pasien yang atas nama Liani Kusuma?” tanya Lydia hati-hati. Dia belum siap mendengar apa pun yang dikatakan perawat nanti.
“Ah, yang kecelakaan ya. Bentar Mbak ya.”
Tatapan Lydia mengikuti gerakan perawat tadi. Dia terlihat sementara membuka data di komputer dan mencocokkan dengan berkas yang ada di tangannya. Dia benar-benar takut mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Ibunya masih sementara diperiksa, Mbak. Untuk pemeriksaan awal, tidak ada luka luar yang serius. Tapi nanti setelah hasil dari radiologi keluar baru dibicarakan dengan dokter lagi ya.”
Lydia mengangguk dengan perasaan sedikit lega. Ya, hanya sedikit karena masih ada pemeriksaan yang belum dijalani. Ini semua belum pasti.
Saat Lydia kembali ke tempat adiknya, di sana ada polisi yang sedanh berbicara dengan Kenzo. Dan begitu dia mendekat, Lidya bisa mendengar kronologis kejadiannya. Tentu setelah diperkenalkan sebagai keluarga korban kecelakaan.
Dari pantaun CCTV, mobil tua Liani ditabrak dari arah kiri oleh mobil minibus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobilnya memanng hancur setengah, tapi Liani tidak mendapat luka serius karena yang ditabrak adalah bagian penumpangnya. Bagian pengemudi, nyaris tak ada kerusakan.
“Untungnya tidak ada kendaraan dari arah berlawanan dan mobilnya tidak terbalik, kalau tidak nyawa ibu anda mungkin tak tertolong,” jelas polisi itu.
“Untuk pelakunya sudah berhasil kami tangkap dan sedang diintrogasi. Tapi pihak mereka meminta lewat jalur kekeluargaan saja,” Pak polisinya meringis setelah mengatakan itu.
Lydia juga meringis mendengarnya, apalagi Kenzo. Mana ada orang yang mau memakai jalur kekeluargaan kalau keadaannya parah begini? Lydia bisa menebak kalau yanng dia hadapi adalah orang kaya atau pejabat.
__ADS_1
Tapi perlu diingat. Lydia pun bukan malaikat yang bisa memaafkan dengan mudah, walau keluaganya diberi uang. Ini menyangkut nyawa dan itu jelaslah bukan hal sepele. Setidaknya mereka harus bertanggung jawab meski hanya sedikit saja. Dan walau susah Lydia akan mengusahakannya.
***To Be Continued***