Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Memikirkan Tawaran


__ADS_3

“Secara garis besar, keadaan Bu Liani sebenarnya cukup bagus. Masalahnya hanya satu yaitu pendarahan di bagian kepala. Dan itu butuh penanganan lebih lanjut.”


Lydia mengerjap beberapa kali mendengar pernyataan dokter. Katanya kondisi mamanya cukup bagus, tapi kenapa malah dikatakan pendarahan di kepala? Bukannya itu hal yang sangat berbahaya?


Melihat wajah bingung Lydia, dokter yang diperkirakan berumur awal 40 itu menjelaskan lebih lanjut. Katanya lokasi terjadi pendarahan itu agak jauh dari otak. Tepatnya berada lebih dekat dengan tulang tengkorak dan pendarahannya tidak terlalu banyak, tapi bukan berarti bisa dibiarkan. Takutnya gumpalan darah yang terbentuk bisa menekan ogan otak dan menimbulkan penyakit lainnya.


Intinya Liani akan dioperasi setelah keadaannya lebih stabil. Dan untuk langkah awal dia hanya diberikan obat-obatan saja dulu. Paling lama seminggu lagi kondisinya akan dicek terlebih dulu, setelah siap operasi akan dilakukan.


“Apa itu berarti kepala Mama akan botak?” tanya Liani yang sudah sadar dan tadi ikut mendengar penjelasan dokter.


“Mama gak usah mikir penampilan deh. Yang pentingkan sembuh dulu,” hardik Kenzo yang menengok dari balik laptop.


“Kenzo betul, Ma. Lagipula kata dokter mereka hanya akan membuat lubang kecil,” Lydia yang duduk di ujung ranjang, ikut menimpali sambil meringis. Dia tidak bisa membayangkan kepala sang mama nanti akan berlubang.


“Ngeri banget gak sih itu operasinya?” tanya Liani ikut mengernyit.


Siapa pun pasti akan bergidik ketika seseorang mengatakan akan melubangi tulang tengkorakmu dan mengambil darah menggumpal di sana. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Dan lagi memangnya tulang mau dilubangi pakai apa? Masa iya mau dibor.


“Operasi jangan dibayangkan, Bu. Yang namanya operasi semuanya pasti mengerikan. Namanya juga badan kita dibelah,” timpal pasien di ranjang sebelah.


Lydia hanya tersenyum saja sebagai balasan, sementara Liani malah menimpali dengan candaan lain. Inilah hal yang tidak disukai Lydia dari kamar yang dihuni lebih dari satu orang. Tapi mau apa lagi? Kemampuannya maksimal cuma kamar dengan dua orang, itu pun sebenarnya terpaksa saja.


BPJS Liani itu hanya kelas dua, tapi kamarnya penuh. Jadilah Lydia mengambil kamar kelas satu, tentu dengan tambahan biaya yang sepertinya akan banyak. Apalagi jika operasi nanti.


“Pakai BPJS aja, Bu. Operasi di kepala pasti makan biaya banyak,” celoteh ibu yang di ranjang sebelah.


“Masalahnya gak tahu ditanggung atau gak, Bu. Saya sementara cari tahu dulu,” jawab Lydia sesopan mungkin.


“Kak. Gak pulang saja dulu? Besok harus masuk kerja kan?” tanya Kenzo sebelum ibu tadi berbicara lagi. Dia tahu kakanya tidak suka dengan orang kepo, apalagi yang tidka dikenal.

__ADS_1


“Iya, Nak. Kamu pulang saja dulu. Bos kamu kan galak,” Liani segera mengiyakan.


“Emang kerja di mana?” tanya si Ibu Kepo.


“Perusahaan manufaktur, Bu,” jawab Lydia masih sopan, tapi enggan menyebut nama perusahaannya. Setelahnya dia segera pamit, meninggalkan Kenzo untuk bermalam.


Sebelum benar-benar pulang ke rumah, Lydia singgah di bagian administrasi rumah sakit. Niatnya sih untuk mencari tahu biaya operasi dan apakah ter-cover BPJS atau tidak.


Sayangnya, tidak ada lagi orang di bagian administrasi. Untungnya, ada seorang perawat yang kebetulan lewat dan bisa ditanyai. Jawaban perawati itu langsung membuat tulang Lydia ngilu semua.


“Kalau operasi karena kecelakaan sih setahu saya tidak ditanggung. Dan untuk bedah syaraf di tengkorak kepala, kisarannya saya kurang tahu sih. Tapi sepertinya diatas 50 juta.”


Bagus sekali. Utangnya di Reino belum lunas dan sekarang dia harus mencari uang puluhan juta lagi untuk biaya operasi. Belum dengan biaya selisih kamar yang mungkin juga tidak sedikit. Apalagi kalau pemulihannya lama.


Sekarang kepala Lydia serasa mau meledak. Bagaimana mana dia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Dia sama sekali tidak punya solusi.


[Vanessa Cerewet: Bagaimana Tante Liani? Sudah sadar?]


[Lydia Rata: Sudah sadar sih, tapi ada pendarahan di kepalanya. Katanya harus dioperasi dan biayanya sangat mahal.]


[Erika Bego: Semahal apa? Aku masih punya sedikit simpanan. Kau bisa pinjam kalau mau.]


[Cinta Gila: Apa mau coba cek harga rumah sakit lain? Siapa tahu lebih murah.]


Ide Cinta sebenarnya tidak buruk, tapi akan lebih makan waktu. Kata dokter kan ibunya tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Lagipula Lydia kan kerja dan Kenzo kuliah. Siapa yang akan pergi mencari.


[Lydia Rata: Tetap saja mahal, Ta. Soalnya gak ditanggung BPJS. Belum kalau nanti pemulihannya lama.]


[Lydia Rata: Dan untuk pindah rumah sakit juga sepertinya susah.]

__ADS_1


[Erika Bego: Sekarang aku ada 100. Kutransferin saja deh.]


[Lydia Rata: Gak usah, Ka. Aku tahu kamu juga pasti butuh.]


“Mbak, sudah sampai,” driver taksi online yang ditumpangiya, menyadarkan Lydia yang lebih banyak melamun.


“Oh, iya makasih, Pak.” Lydia langsung turun karena biayanya sudah dibayar lewat aplikasi.


Perempuan kurus itu masuk ke rumahnya dan langsung mengunci pagar juga pintu rumah. Lydia juga memastikan semua jendela tertutup rapat, setelahnya tentu saja Lydia berjalan ke kamarnya. Hari sudah malam dan dia juga butuh istirahat.


Raut kelelahan terlihat jelas di wajah Lydia. Inginnya sih segera mandi dan tidur, tapi rasanya tak bisa. Dia masih merasa tidak tenang sekali memikirkan biaya yang mungkin akan dia keluarkan.


Tawaran Erika memang menggiurkan, tapi dia juga tidak bisa mengambilnya. Sahabatnya itu juga sedang dalam keadaan yang tidak baik. Tabungan 100 juta pasti diperlukan untuk jaga-jaga.


“Apa aku kerja sambilan saja ya? Tapi apa?” gumam Lydia terlihat benar-benar frustasi.


Merasa pikirannya jenuh, Lydia akhirnya memutuskan untuk pergi mandi. Dan karena merasa perlu mandi air hangat, dia memasak air panas sepanci penuh. Itu perlu dilakukan karena tidak ada pemanas di rumah mereka. Pun dengan pendingin ruangan yang hanya satu, dibagi untuk dua kamar.


Lydia merogoh kantong celana kain yang hari ini dia gunakan. Niatnya sih ingin mengosongkan kantongnya sebelum dimasukkan ke keranjang cucian. Namun ada yang menarik perhatian Lydia.


Sepotong kertas tebal yang sudah lecek terjatuh dari kantong Lydia. Bisa saja itu hanya sampah biasa, tapi dia memeriksa ulang sebelum membuangnya. Rupanya itu adalah kartu ucapan dari buket bunga mawar raksasa yang ditolaknya tadi.


“Aku sayang padamu. So let’s have ***,” Lydia membaca kembali tulisan di kertas yang sudah kusut itu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


Bahkan kata-kata itu masih terus berulang di kepalanya, bahkan sampai Lydia selesai mandi. Kertas yang awalnya ditaruh di atas nakas itu, kini berada di tangan kurus Lydia. Dia kembali meresapi kalimat yang tertulis di sana dan memikirkan tawaran Reino.


Lydia menghembuskan napas lelah. Haruskah dia menerima tawaran Reino dan meminta imbalan tambahan?


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2