
“Silakan Pak. Ini berkasnya.” Lydia menyerahkan map pada Pak Fendy.
“Aduh maaf merepotkan,” gumam Pak Fendy dengan senyum semringah. “Harusnya gak usah Bu Lydia yang bawa lah. Saya jadi gak enak.”
“Gak apa-apa kok, Pak. Kebetulan kan saya mau jalan ke arah sini.” Lydia mengulas senyum lebar.
“Sekali lagi makasih ya.” Pak Fendy makin semringah saja.
Lydia pun segera berlalu dari ruangan wakil dari suaminya itu, masih dengan senyuman palsunya. Setelah keluar dari ruangan, dia langsung kehilangan senyumnya dan digantikan dengan ekspresi mencemooh.
Bagaimana tidak. Kelakuan wakil CEO perusahaan itu keterlaluan. Entah apa yang dia inginkan, tapi ini jelas tindakan kriminal. Untung saja Reino tahu solusi yang cukup bagus, setelah diberitahu soal berkas yang tak karuan itu.
“Dasar bego. Dia pikir gak bakal ada yang tahu soal lembaran kosong itu,” gumam Lydia sambil mencuci tangannya di wastafel yang ada di toilet.
“Sibuk banget ya, Mbak?” Istri Pak Fendy yang baru keluar dari bilik toilet menyapa. “Sampai menggerutu gitu.”
“He ... he ... he ... kedengaran ya, Bu?” Lydia hanya bisa meringis pelan.
“Sedikit. Memangnya kenapa? Dimarahin sama atasan ya?”
Lydia tidka langsung menjawab pertanyaan itu. Dia terlebih dulu merenung, apakah aman bercerita pada perempuan paruh baya yang tak dikenalnya ini, atau tidak. Dia memang tak mengenali istri Pak Fendy.
“Bukan dimarahin sih, Bu.” Lydia akhirnya memutuskan untuk bercerita saja. “Ada yang mau mencoba buat menipu bos besar.”
“Oh, ya?”
“Iya. Masa dia nyelipin kertas kosong buat di tanda tangan di antara berkas lain,” jawab Lydia dengan polosnya.
Entah apa yang membuat Lydia kali ini begitu polos mengatakan semuanya. Mungkin karena dia berpikir perempuan di depannya ini orang luar yang kebetulan ada keperluan di Linder.
“Oh, gitu ya?” gumam istri Pak Fendy merasa sedikit canggung. Sedikit banyak dia bisa menduga apa yang dimaksud Lydia.
Lydia sebenarnya masih ingin menceritakan beberapa hal, tapi kantung kemihnya sudah tak bisa bertahan. Dia perlu segera menuntaskan hajat, sebelum kembali bekerja lagi.
Setelah selesai, Lydia yang berniat turun ke lantai bawah, memilih menggunakan tangga darurat. Alasannya hanya karena tangga lebih dekat dengan tangga darurat. Namun siapa sangka itu akan menjadi salah satu hari sial Lydia.
Tadinya Lydia yang mendengar ada suara langkah kaki dan suara pintu terbuka ingin berbalik. Namun bekum juga benar-benar menoleh melihat siapa yang datang, bahu Lydia sudah di dorong.
“Eh?” Lydia sempat bergumam, tepat pada saat merasakan dorongan itu.
__ADS_1
***
“Lydia belum kembali?” tanya Reino setelah merasa kalau istrinya pergi terlalu lama.
“Tadi sepertinya Mbak Lydia sempat bilang ingin ke toilet,” Hadi segera menjawab.
“Tapi ini sudah terlalu lama,” balas Reino yang sejujurnya merasa amat gelisah. “Coba dicek.”
Tanpa banyak bicara, Hadi keluar dari ruangan. Lelaki itu bertanya pada Ika, tanpa perlu mengecek ke toilet dan dia kembali ke ruangan Reino dengan cepat.
“Katanya Mbak Lydia sendiri yang mengantar dokumennya ke ruangan Pak Fendy. Setelah itu baru mau ke toilet.”
“Aku menyuruhmu untuk mengecek, Hadi. Bukan bertanya pada Ika. Apa kau tiba-tiba menjadi bodoh?” tanya Reino geram sekali melihat kelakuan asistennya itu.
“Baik, Pak. Akan segera saya periksa.”
Hadi bergegas ke arah toilet. Dia baru saja sampai, ketika melihat seseorang yang tidak begitu dia kenali membuka pintu darurat. Karena orang itu terlihat mencurigakan, Hadi memutuskan memeriksa ke arah tangga lebih dahulu. Siapa sangka dia malah melihat Lydia di dorong.
“Mbak Lydia,” Hadi memekik.
Pria itu langsung menarik mundur orang yang mendorng Lydia dengan keras, tanpa memperhatikan siapa itu. Fokusnya sekarang adalah menyelamat istri dari bosnya.
Hadi berusaha menarik Lydia sekuat tenaga, membawa perempuan itu dalam dekapannya. Pria itu juga berusaha untuk membalikkan tubuhnya agar punggungnya saja yang membentur lantai, namun terlambat. Bahu Hadi membentur lantai di pertengahan tangga dengan keras.
“Arg ... sialan,” maki Hadi kesakitan.
Pria itu mengegliat kesakitan, merasakan bahunya mungkin sudah patah. Lebih baik dari pada Reino yang menghukum karena gagal menyelamatkan Lydia.
“Mbak Lydia?” Hadi mendesis pelan dengan kening mengernyit. Bahunya benar-benar terasa sakit.
“Mbak Lydia gak apa-apa?” tanya Hadi yang kini matanya memejam menahan sakit.
“Mbak Lydia?” Hadi memanggil sekali lagi karena tidak ada yang menyahut. Pria itu menunduk dan mendapati Lydia tak sadarkan.
“Oh, sialan. Aku bisa kena damprat.”
“Astaga! Ada apa ini?” Seorang cleaning service datang tepat tepat pada saat Hadi baru mau merogoh kantong mencari ponsel.
“Panggilkan ambulan dan beritahu Pak Reino kalau Mbak Lydia terjatuh di tangga.” Hadi langsung memberi perintah.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, cleaning service tadi langsung menjalankan perintah. Tak lupa pula dia memanggil seseorang untuk menolong Hadi dan Lydia.
Dan ketika Reino tahu, dia langsung panik. Pria blasteran itu bahkan berlarian ke arah tangga darurat.
“Apa yang terjadi?” bentak Reino membubarkan kerumunan di tangga.
“Tadi Mbak Lydia didorong seseorang. Maaf saya tidak sempat melihat wajahnya, karena saya terlebih dahulu menyelamatkan Mbak Lydia,” jelas Hadi sebaik mungkin, tentu sambil memegang bahu kirinya yang makin sakit.
Reino mendengar penjelasan asistennya sambil memeriksa kondisi sang istri. Dia juga mendengar kalau seseorang telah memanggil ambulans dari rumah sakit terdekat. Kebetulan memang ada rumah sakit tak jauh dari kantor.
“Berani-beraninya dia menyerang isteiju,” geram Reino masih memperhatikan Lydia.
“Kau.” Reino menunjuk seorang karyawannya yang datang menonton.
“Laporkan hal ini pada satpam. Suruh mereka menutup semua akses keluar dan masuk sekarang juga dan minta periksa CCTV,” Reino memberi perintah.
“Pastikan tidak ada yang bisa keluar dan masuk dari gedung ini tanpa izinku, siapapun itu. Mau itu karyawan, OB, petinggi perusahaan, bahkan tamu.” Reino melirik semua karyawan yang ada di sana dengan tatapan marah.
Dia pun tak lagi tinggal diam. Reino membopong sang istri yang terkulai lemah. Hadi yang masih kesakitan pun memaksakan diri untuk bangkit dan mengikuti atasannya yang sepertinya sudah ingin pergi.
“Ada satu orang saja yang melanggar, maka nyawa taruhannya.” Reino memberikan ancaman sebelum benar-benar pergi. Dia tak akan menunggu ambulans dan akan membawa Lydia menggunakan mobil pribadi.
Dan jika ada yang mendorong istrinya dengan sengaja, tentu Reino tak akan tinggal diam. Bahkan sekalipun itu tidak sengaja, dia tetap akan menghukumnya dengan cara paling kejam.
***
“Apa maksudmu aku tidak boleh keluar?” pekik istri Pak Fendy ketika mobilnya ditahan dan tak diizinkan keluar parkiran.
“Maaf Bu. Ini perintah atasan.”
“Suami saya juga atasan kamu. Mau cari gara-gara ya?” hardik perempuan paruh baya itu makin kesal.
“Maah, Bu. Kali ini perintah langsung dari Pak Reino. Kalau gak dipatuh kami bisa mati.”
“Itu hanya ancaman dasar bodoh,” istri Pak Fendy masih membentak, tapi tetap kembali ke area parkiran.
Kening perempuan itu berkerut dan dia menjadi gelisah. Dia tak bisa tinggal lebih lama di gedung ini dan harus segera ke notaris untuk mengurus surat, dengan demikian dia bisa lolos dari masalah.
“Aduh, semoga tadi wajahku tidak kelihatan.”
__ADS_1
***To Be Continued***