
“Mama. Pak Hadi.” Lydia memanggil dengan tatapan kaget luar biasa. “Apa yang kalian lakukan berdua di sini?”
“Lydia?” Liani refleks menarik tangannya yang digenggam oleh Hadi, menggunakan tangan yang tidak terluka.
“Pak Reino dan Mbak Lydia kok ada di sini?” Kini giliran Hadi yang bertanya dengan nada canggung.
Dilihat seperti bagaimanapun, dua orang yang tengah duduk dan terlihat canggung itu sedang berkencan. Masalahnya sekarang adalah sejak kapan 2 orang itu berkencan.
Hal lainnya yang membuat Reino tercengang adalah kenapa harus mertuanya bersama Hadi. Demi Tuhan, Hadi itu pengawal pribadinya. Pegawai Reino Andersen dan ini hal yang sama sekali tidak lucu.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Reino bertanya setelah keterkejutannya sedikit hilang.
“Kami ... kami kebetulan bertemu.” Liani yang menjawab dengan sangat gugup. “Aku tiba-tiba ingin makan es krim dan melihat Pak Hadi, jadi kamu duduk bersama.”
“Tiba-tiba ingin makan es krim?” tanya Lydia dengan kedua alis menjungkit naik.
“Mama tidak sedang hamil kan?” Lydia kembali bertanya setelah ibunya mengangguk.
“Jangan gila.”
“Itu tidak mungkin.”
“Tidak.”
Jawaban beruntun yang nyaris diucapkan bersamaan itu membuat Lydia tersentak. Dia cukup terkejut ketika 3 orang yang dikenalnya memekik nyaris bersamaan. Kalau sang ibu dan Hadi sih masih bisa dimengerti, tapi Reino?
“Mama ini sudah tua, Lyd. Gak mungkin hamil lagi.”
“Oh ya? Istri rekan kerjaku ada yang hamil di usia 42 tahun.” Lydia beranjak duduk di sebelah sang mama. “Mama baru 45 kan? Masih bisa lah, asal belum menopuse.”
__ADS_1
Reino yang penasaran, ikut menjatuhkan bokongnya di kursi tepat di sebelah Hadi. Namun berbeda dengan sang istri yang terlihat ceria, pria itu terlihat marah.
“Ha ... ha ... ha ... Jangan bicara sembarangan.” Liani langsung melotot.
Liani sih tidak keberatan menjaga cucu, tapi punya anak lagi? Itu jelas hal yang terlalu riskan. Liani tak mungkin sanggup, jika harus punya anak di usia setua itu. Selain melelahkan, itu juga memalukan.
“Jadi sejak kapan kalian pacaran?” Lydia kembali bertanya dengan terus terang.
“Oh, tidak kami ....”
“Jangan mengelak, Pak Hadi.” Lydia segera memotong kalimat yang ingin diucapkan pria denga tangan yang dibebat itu. “Kalian sudah tertangkap basah.”
Baik Liani maupun Hadi menunduk malu. Malu karena tertangkap tangan tengah berkencan oleh anak, menantu, sekaligus atasan.
“Maaf,” gumam Hadi dengan lirih.
“Yang benar saja.” Reino memukul meja dengan suara yang cukup keras. “Kalian berdua sungguh berpacaran?”
Bayangkan saja. Ayah mertuamu bekerja sebagai pengawal pribadimu. Tidakkah itu aneh dan akan canggung?
“Mama pacaran sama siapa rasanya itu bukan urusanmu. Kenapa kau yang menentang, padahal Lydia saja tidak.” Liani melotot pada menantunya itu.
Omongan Liani sudah lebih dari cukup untuk membuat Lydia yakin kalau sang mama dan Hadi memang berpacaran. Hal yang tentunya sangat bagus, tapi dia juga bisa mengerti kekhawatiran Reino.
“Tidak perlu marah, Ma.” Lydia menenangkan sang ibu. “Reino mungkin hanya khawatir kalau nanti dia akan bekerja dengan ayah mertuanya.”
“Ayah mertua?” Liani dan Hadi kompak bertanya.
“Oh, apakah kalian tidak berniat untuk menikah?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Lydia, pasangan yang baru terciduk itu kembali menunduk malu. Sepertinya mereka belum sampai di tahap untuk membicarakan pernikahan, sehingga mereka menjadi malu. Hal yang terlihat sangat lucu di mata Lydia.
“Bu ... bukannya tidak memikirkan sampai ke sana, tapi ...”
“Kalian sungguh akan menikah?” Lagi-lagi Reino memekik dengan wajah yang makin terlihat horor.
“Rei, bisa tolong jangan menyela?” Lydia tentu saja menegur sang suami. “Aku ingin mendengarkan penjelasan Mama dan Pak Hadi.”
Mendapat perintah ddari sang istri, mau tidak mau Reino menutup mulut. Itu pun dia lakukan sambil melirik kesal kepada penngawal pribadinya. Membuat Hadi jadi makin canggung saja.
“Sekarang aku ingin mendengar penjelasan. Mau Mama atau Pak Hadi yang menjelaskan?” Lydia kembali bertanya. Kali ini dia ingin tahu dengan lebih detil.
“Mama gak tahu mau cerita dari mana.” Liani menjawab masih merasa malu-malu.
“Baiklah kalau begitu aku saja yang bertanya. Sejak kapan kalian pacaran?”
“Tidak lama setelah Liani operasi kepala.” Hadi yang menjawab, kali ini dengan suara yang lebih tegas. Pertanda dia sudah tidak begitu gugup lagi. Hadi bahkan tak canggung lagi memanggil nama Liani, tanpa embel-embal ‘bu’.
“Wow. Itu sudah sangat lama. Sudah lebih dari 6 bulan.” Lydia cukup terkejut dengan fakta itu. “Lalu kenapa dirahasiakan.”
“Itu karena Mama yang minta.” Kali ini Liani yang menjawab. “Soalnya awalnya Mama tidak begitu yakin. Setelah Mama yakin pun, rasanya aneh memberitahu kalian.”
“Soalnya kan Hadi kerjanya sama Reino. Nanti malah canggung.” Liani melanjutkan setelah menjeda dengan menatap kekasihnya selama beberapa detik.
“Nah, itu Mama juga sadar.” Reino segera menimpali ibu mertuanya.
“Tapi apa kalian berniat untuk menikah?” Lydia kembali bertanya, tanpa peduli dengan protes suaminya.
Hadi maupun Liani tidak langsung menjawab. Mereka saling menatap selama beberapa saat, sebelum akhirnya Hadi yang memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
“Kalau tidak ada yang keberatan, tentu saya akan dengan senang hati menikahi perempuan hebat seperti Liani.” Ucapan itu membuat Reino seperti kehilangan jiwanya.
***To Be Continued***