Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Viral


__ADS_3

Lydia menghela napas panjang. Cacing di perutnya yang sedari tadi meronta-ronta kini sudah terdiam, walau nasi gorengnya belum tersentuh. Rasa syoknya jauh lebih mendominasi ketika melihat wajah pucat ibunya.


“Sekali lagi makasih, Pak ya.” Lydia menunduk pada pria yang tadi menyelamatkan ibunya.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya kebetulan saja menjalankan tugas dari Pak Reino untuk menjenguk keluarga karyawan yang sedang sakit. Kebetulan beliau sibuk dan saya yang diutus untuk menjenguk.”


“Aduh, rupanya Pak Reino itu baik banget ya,” seru Liani yang kini sudah cerah ceria.


Ya. Tadi Liani terlihat pucat hanya karena syok dan karena kejadian tadi. Ditambah dengan perempuan yang menyamar sebagai perawat tadi rupanya mencabut infus dari tangan Liani dengan kasar sampai berdarah. Untung jarumnya tidak sampai tertinggal di dalam.


“Jangan berlebihan deh, Ma. Pak Reino seperti itu pasti karena kewalahan gak ada aku di kantor. Belum juga ditinggal cuti,” gerutu Lydia malas sekali mendengar pujian dari ibunya itu.


“Itu hal wajar, Lyd. Dia kan bos, pasti banyak yang perlu dikerjakan. Karena itu dia butuh bantuan orang sepertimu dan Pak Hadi,” tegur Liani dengan senyum terpahat.


Yes. Yang datang menyelamatkan Liani dengan dalih menjenguk memang kepala pengawal Reino, Hadi Widjaja. Lelaki yang sudah berumur akhir 40 itu memang kepala pengawal, tapi dia lebih banyak bekerja di balik layar. Atau ditugaskan hal ringan seperti mengawasi seseorang. Seperti sekarang.


“Karena hadiahnya juga sudah saya sampaikan, saya pamit dulu.”


“Eh, Pak Hadi udah mau pulang saja? Gak ikutan makan malam dengan Lydia saja? Dia habis beli banyak makanan,” pinta Liani ingin menahan Hadi lebih lama.


“Tidak perlu, Bu. Saya masih ada yang harus dikerjakan,” tolak Hadi halus, tapi tegas.


“Kalau gitu biar saya antar Pak Hadi dulu ya, Ma.” Lydia segera mengajak pria besar itu keluar dari kamar rawat inap Liani, tidak mempedulikan wajah memelas ibunya.


“Pak Hadi mengawasi kami ya? Memantau perkembangan Mama untuk dilaporkan pada Pak Reino kan?” tanya Lydia begitu mereka cukup jauh dari kamar Liani.


“Maaf. Saya hanya menjalankan perintah,” jawab Hadi dengan meringis.


“Gak apa-apa, Pak. Justru saya terima kasih karena tadi sudah menolong Mama,” balas Lydia dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Ah, masalah tadi. Pihak kami akan mencoba untuk mencari tahu siapa yang melakukan hal itu.”


“Makasih sekali lagi ya, Pak, tapi apa Pak Reino gak akan marah kalau seperti itu?” Lydia bertanya karena merasa tidak enak hati.


“Saya rasa tidak akan ada masalah kok, Bu. Pak Reino itu orang yang baik.”


Lydia hanya memberikan senyum pada pria tinggi besar itu. Mereka kemudian berpisah di depan lift. Hadi juga sempat memberitahu kalau akan ada yang menggantikannya untuk berjaga.


Rasa lega menyusup di hati Lydia mendengar akan ada yang menjaga ibunya 24 jam. Dia tidak perlu lagi khawatir akan terjadi penyerangan lainnya jika seperti itu.


Masalahnya sekarang, siapa yang menyerang ibunya. Dan yang lebih penting kenapa? Apa para rentenir itu berulah lagi?


“Mama punya musuh gak sih?” tanya Lydia yang sudah bersih dan wangi sehabis mandi. Dia sedang duduk menikmati nasi goreng jumbo yang dibelinya.


“Seharusnya sih gak ada. Makanya Mama juga agak syok soal kejadian tadi. Tapi hati orang siapa yang tahu kan?”


“Maksudnya?” Lydia yang sedang lemot tidak bisa mencerna perkataan ibunya.


Lydia mengangguk setuju dengan kalimat Liani. Kita gak pernah tahu dalamnya hati seseorang. Bisa saja justru dirinya yang punya banyak musuh dan kekesalan orang itu justru dilampiaskan kepada ibunya kan? Tapi siapa?


Masa si tua mesum yang beberapa hari lalu (dan baru viral) melecehkannya? Harusnya dia marah sama Reino dong. Kan pria itu yang memukulnya. Eh, tapi kan dirinya yang jadi penyebab semua itu. Entahlah Lydia tidak mau tahu lagi.


Sudah ada Pak Hadi dan kawan-kawan yang mengurusi itu. Lydia harusnya tidak perlu terlalu memikirkannya untuk saat ini. Mari fokus saja pada proses penyembuhan ibunya.


“Eh, tapi Pak Reino baik dan romantis banget ya. Selain dia tolongin kamu, dia juga kirimin buket bunga buat Mama,” seru Liani tersipu melihat buket bunga yang dikirimkan Reino lewat Pak Hadi.


“Ma please deh. Dia lebih muda belasan tahun dari Mama ya,” hardik Lydia dengan gemas.


***

__ADS_1


Rupanya kejadian Reino yang menolong karyawannya itu benar-benar jadi viral. Bukan hanya sekali masuk ke acara gosip, tapi berhari-hari. Dan dalam waktu singkat itu, fan base Reino Andersen terbentuk.


Ya. Pria yang jarang masuk tv walau kaya dan tampan itu, kini sudah seperti artis K-Pop. Para wanita yang tergila-gila dengan tampangnya, langsung bersatu mengeluk-elukan sikap gentlemannya.


“Gentleman my ***,” bisik Lydia pelan. Dia tidak ingin Liani mendengar umpatannya.


“Astaga. Selain baik dan romantis, Pak Reino ini ganteng banget ya,” seru Liani dengan wajah tersenyum. Dia sudah seperti gadis remaja yang melihat pria yang ditaksirnya.


“Yeah, dia memang ganteng,” balas Lydia tidak bisa memungkiri hal itu. “Tapi bisa gak usah ngelihatin gitu amat?”


Liani langsung mendengkus kesal mendengar keluhan anaknya. Wanita pertengahan 40 yang duduk bersandar di ranjang pasien, mencibir ke arah putrinya. Masih ada labu dan selang yang terhubung ke kepala Liani. Dan untuk mencegah benda itu tidak sampai jatuh, Liani atau Lydia perlu ekstra hati-hati.


“Blasteran ya, Lyd?”


“Katanya sih papanya orang Denmark. Mamanya keturunan Tionghoa Manado gitu.”


“Oalah pantas putih banget. Lebih keliatan muka bulenya ya,” seru Liani mengangguk pelan.


Ya, Reino emang putih banget. Bahkan lebih putih dari Lydia dan itu membuat Lydia kesal. Makin kesal lagi dengan semua pemujaan yang pria itu terima. Apalagi Liani ikut-ikutan terkesima.


“Heran deh, kenapa semua orang mengeluk-elukan dia. Padahal cuma nolong orang saja. Coba giliran aku yang nolong orang, pasti gak akan seheboh itu.”


“Orang kaya dan ganteng emang pasti viral,” balas Liani membuat anaknya mencebik.


“Sekarang tiba-tiba viral karena perbuatan baik. Besok mana kita tahu, Ma. Bisa aja justru dia dituduh yang bukan-bukan.” Lydia kembali mengomel.


“Hush, kamu ini. Doain bosnya yang baik-baik dong, Nak. Biar gimana kamu kerja di perusahaan dia. Kalau dia kenapa-kenapa kamu juga yang rugi,” hardik Liani yang membuat Lydia berdecak kesal.


Namun Lydia jelas akan menyesali apa yang dikatakannya hari ini. Kalimat Lydia yang serupa doa itu, justru akan membuatnya tercengang saat masuk kerja nanti. Apa yang barusan dia katakan pada akhirnya menjadi kenyataan dan mungkin merugikan dirinya sendiri.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2