
“Apa yang kau maksud?” tanya Clarissa pada anaknya dengan mata membulat terkejut.
“Jadi begini.” Reino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dengan gugup.
Ya. Reino sudah menceritakan semuanya sesuai permintaan sang istri, namun kini dia harus mengulanginya lagi. Baru Clarissa yang mendengar, tapi itu sudah cukup membuat Reino babak belur.
“Dasar anak brengsek,” maki Clarissa sambil melayangkan tas tangan mahalnya ke tubuh sang putra.
“Auw, Ma. Sakit.” Reino memekik karena itu memang cukup sakit, apalagi dia terkena bagian yang terbuat dari besi.
“Dasar anak tidak berguna. Itu akibatnya kalau kau mendengar orang tuamu.”
Clarissa terus memukul tanpa ampun. Dia masih tak puas memarahi anaknya, sampai keributan itu didengar keluar.
“Permisi, saya mau cek infusnya.” Seorang perawat masuk dengan wajah meringis.
Sesungguhnya tak ada yang perlu dicek, tapi perawat itu perlu masuk untuk melerai pertengkaran. Untung saja tanpa diberi teguran, Clarissa berhenti memukuli anaknya. Tapi itu tidak berarti dia akan berhenti mengomel.
“Mau berapa kali Mama katakan padamu,” desis Clarissa benar-benar marah. “Berhenti main-main dengan perempuan tidak jelas.”
“Aku sudah berhenti.” Reino menjawab dengan santainya.
“Kau sudah berhenti, tapi tetap membawa masalah. Terutama dalam rumah tanggamu.”
Untuk yang satu itu, Reino tak punya pembelaan. Sang mama benar. Andaikata dulu dia benar-benar menikah saja dengan Lydia dan berhenti main-main, mungkin kini pernikahannya tidak akan terancam.
__ADS_1
Walau sudah melakukan yang dikatakan sang istri (setelah diancam cerai), Reino tetap tidak dibela ketika dia dipukuli. Sebaliknya, Lydia malah senang melihat pria itu dipukuli mertuanya.
“Kau senang sekarang?” tanya Reino terlihat kesal.
“Tentu saja.”
Jawaban sang istri itu membuat Reino berang. Namun itu hanya sebentar saja karena Mama Clarissa memelototinya. Lagi pula dia juga sadar diri.
“Panggil perempuan itu sekarang juga,” hardik Clarissa kesal. “Selesaikan secepat mungkin, sebelum papamu dan ibu mertuamu tahu. Kau jelas akan langsung bercerai kalau mereka tahu.”
Dengan wajah pucat pasi, Reino segera pergi untuk mengurus ini. Tentu saja bukan mengurus sendiri, tapi meminta Hadi yang mengurus. Nanti malah jadi masalah pagi kalau dia pergi sendiri.
“Maafin Mama ya, Lyd.” Tiba-tiba saja Clarissa berucap setelah putranya pergi.
“Kenapa Mama yang minta maaf?” Lydia tentu saja bingung.
Lydia tersenyum tipis. Inilah yang dulu sangat dia takutkan ketika pertama kali dinyatakan hamil. Dia takut tak bisa mendidik anaknya menjadi orang-orang baik dan bertanggung jawab. Rasanya berat.
“Bukan Mama yang salah, jadi tidak perlu minta maaf.” Hanya itu yang bisa Lydia berikan sebagai jawaban.
“Walau kamu bilang begitu, Mama tetap saja merasa bersalah. Harusnya dulu Mama lebih tegas lagi dalam menghadapi Reino,” jelas Clarissa disertai dengan ******* pelan.
“Kalau Mama terlalu keras, Reino malah bisa jadi makin memberontak.”
“Ah, iya juga ya.” Clarissa ikut tersenyum bersama menantunya.
__ADS_1
Lydia kini merasa lega. Ternyata memang lebih mudah menghadapi ini, setelah menceritakan pada seseorang. Bebannya jadi sedikit lebih berkurang.
“Tapi omong-omong, Reino lama juga ya.” Clarissa menoleh ke arah pintu untuk mencari putranya. “Jangan bilang dia pergi sendiri?”
“Tadi Rei gak ngomong apa-apa sih,” gumam Lydia ikut khawatir.
Jujur saja, walau Lydia yakin itu bukan anak Reino, tapi tetap saja dia khawatir. Biar bagaimana, Mary itu mantan suaminya. Perempuan itu juga cantik dan dengan punya tubuh semampai, dia takut kalau Reino tertarik lagi pada perempuan itu. Sekalipun anak Mary terbukti bukan anak Reino, rasanya Lydia masih akan khawatir.
“Apa aku telepon saja dia ya?” Lydia terburu-buru mengambil ponselnya.
“Coba biar Mama lihat ke ruangan Hadi.” Clarissa bangkit dari tempatnya duduk, di kursi tepat di samping ranjang.
Langkah Clarissa cenderung santai. Dia tak teburu-buru seperti Lydia. Namun ketika dirinya membuka pintu kamar, dial langsung terkejut.
“Astaga!”
“Kenapa, Ma?” Lydia yang khawatir, langsung turun dari ranjangnya.
“Tidak ada apa-apa, Nak. Kamu tidak usah turun.” Clarissa yang menjawab dengan terburu-buru, membuat Lydia curiga.
Penasaran dengan apa yang membuat mertuanya terkejut, Lydia segera mendekat. Membawa serta tiang infus dengan cairan yang sudah tinggal sedikit.
Di depan pintu yang terbuka lebar, tepat di depan sang mertua, Lydia bisa melihat apa yang membuat Clarissa terkejut. Di sana ada Mary dan juga Reino yang saling berhadapan.
“Kalian berdua kenapa bisa ada di depan sini?” tanya Lydia dengan lirih.
__ADS_1
***To Be Continued***