
“WHAT?” suara teriakan Kenzo terdengar sampai ke penjuru rumah.
“Nikah? Sama si brengsek itu? Kak Lydia gila ya?”
“Aku gak gila Ken. Aku seratus persen waras dan sangat sadar,” jawab Lydia tanpa berkedip.
Reino yang hari ini sengaja mengantar kekasihnya pulang ke rumah dan mengatakan niat baiknya pun bergeming. Wajahnya tetap datar, tegas dan memandang lurus ke depan.
Mungkin tak banyak yang menyadari, tapi sebenarnya Reino sedikit gugup. Dia merasa sedikit lebih gugup dibanding saat berurusan dengan saat memikirkan investasi berharga milyaran.
“Hei, ngomong sesuatu dong,” Kenzo kembali menghardik. Kali ini menghardik Reino.
“Saya akan menikahi Lydia,” jawab Reino bak robot.
Lydia nyaris saja tertawa karena dia menyadari kegugupan kekasihnya. Tapi karena ini adalah pembicaraan serius, Lydia mencoba menahan diri.
“Kamu pikir aku akan setuju?” Kenzo masih saja betah berteriak.
“Tentu saja harus setuju. Lydia sedang hamil,” Reino menjawab dengan nada suara tegas.
Tatapan mata Reino pada Kenzo terlihat serius. Adik Lydia itu tidak bisa menemukan sedikit pun keraguan, tapi dia tidak bisa menerima begitu saja. Semua karena apa yang terjadi di masa lalu.
“Pokoknya aku gak setuju. Lagian juga belum diperiksa kan?” balas Kenzo dan kemudian langsung pergi begitu saja dari ruang tamu rumah mungil itu.
“Kenzo,” Liani memanggil anak bungsunya itu, tapi tidak diindahkan.
Liani sampai menghela napas karena entah kenapa Kenzo berulah. Liani mengerti kalau Kenzo masih tidak terima kenyataan kalau kakaknya sampai harus kawin kontrak demi melunasi utang, tapi tetap saja. Ini sudah sedikit keterlaluan.
“Reino pulang saja dulu ya. Nanti biar Tante ngobrol dengan Kenzo,” pinta Liani lebih lembut.
“Boleh saya coba bicara dengan Kenzo?”
Diluar dugaan, Reino yang ingin bicara dengan si bungsu itu. Awalnya Liani dan Lydia agak ragu. Tapi setelah diyakinkan Reino, mereka pun setuju membiarkan dua lelaki itu bicara.
Reino mengetuk kamar Kenzo, tapi tak ada jawaban dari dalam. Mencoba peruntungannya, Reino langsung saja menekan kenop pintu.
Dan pintunya tidak terkunci atau lebih tepatnya belum sempat dikunci. Kenzo baru mau beranjak mengunci pintu kamarnya, tapi Reino sudah duluan membukanya.
“Oh, ****,” geram Kenzo kesal.
“Mari kita bicara sebentar.” Reino masuk ke dalam kamar, bahkan tanpa dipersilakan.
“Untuk apa kau mengunci pintu?” Kenzo terdengar panik ketika melihat Reino melakukan itu.
“Kita perlu bicara tanpa gangguan.” Reino mengedikkan kedua bahunya dengan santai.
Setelah bermenit-menit merasakan kegugupan, Reino akhirnya bisa merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya dia masih bicara santai pada adik kekasihnya ini. Atau mungkin dengan sedikit kekerasan.
__ADS_1
“Bicara tidak perlu mengunci pintu,” hardik Kenzo sedikit panik. Bisa saja kan pria tinggi besar di depannya ini punya sedikit kelainan.
“Perlu. Karena aku tidak mau tiba-tiba Lydia atau ibumu masuk mengganggu,” Reino menjawab seraya mendekat ke arah Kenzo.
Adik semata wayang Lydia itu ikut melangkah mundur tiap Reino mendekat. Dia sudah memantapkan hati akan berteriak jika pria blasteran di depannya ini macam-macam. Demi apa pun Kenzo masih perjaka.
Reino tiba-tiba menarik satu-satunya kursi yang ada di kamar itu dan duduk dengan santainya. Itu sedikit membuat Kenzo bernapa lega, tapi tidak menurunkan kewaspadaannya.
“Jadi kenapa aku ditolak?” Reino mulai bicara dengan gaya bicaranya yang biasa. Dingin dan mengintimidasi, disertai tatapan tajam yang menusuk.
“Masih bertanya lagi. Itu karena kau memanfaatkan kakakku. Kau menipunya ke dalam pernikahan kontrak tidak masuk akal itu.”
“Aku tidak memanfaatkan Lydia, tapi kami saling memanfaatkan.”
“What?”
“Lydia mengambil uangku dan aku ti... menikah dengannya demi mendapat jabatan di perusahaan.” Reino nyaris saja mengatakan tidur dengan Lydia.
“Tapi kau menidurinya,” hardik Kenzo masih belum terima penjelasan Reino.
“Aku tidak memaksa. Lagi pula itu kegiatan yang menguntungkan dan menyenangkan kedua belah pihak.”
Kedikan bahu Reino, membuat Kenzo makin kesal saja. Dia masih tidak percaya kalau kakaknya tiidur dengan pria di depannya ini secara sukarela.
“Lagi pula uang dua milyar itu bukan uang sedikit. Kalau hanya menikah di atas kertas saja tentu itu jumlah yang sangat banyak kan?”
“Dua milyar. Bslum termasuk perhiasan yang kuberikan padanya untuk menunjang akting kami.”
Napas Kenzo tertahan mendengar penjelasan Reino. Dia tahu kalau utang keluarga mereka ada milyaran, tapi tidak menyangka kalau Reino yang membayar semuanya. Dan apa yang tadi dikatakannya? Perhiasan?
Kenzo memang memperhatikan kakaknya memakai perhiasan belakangan ini. Tapi dia pikir itu milik pribadi Lydia atau ibunya yang sudah lama disimpan.
“Tunggu dulu. Utang keluarga kami tidak sampai dua milyar,” seru Kenzo ketika mengingat nominal utang keluarga mereka.
“Memangnya operasi ibumu waktu itu gratis? Kalau tidak salah ingat rumah ini juga hasil kredit kan?”
Kenzo menghembuskan napas sepelan mungkin. Dia merasa sangat kesal sekali mendengar kalau Reino bisa dibilang membiayai banyak hal dalam hidup keluarganya.
“Aku tetap tidak mau. Aku...”
“Sebagai lelaki kau merasa kesal karena kakakmu yang harus menanggung semua utang sendiri? Merasa tidak berdaya karena kehidupan kalian bisa dibilang ditanggung orang lain? Dengan dua orang perempuan yang menyumbang keuangan?”
Kenzo mendelik marah mendengar ucapan Reino itu. Dia marah karena semua itu benar adanya, tapi bukan itu alasannya tidak setuju dengan Reino.
“Mungkin semua itu benar,” desisan marah terdengar dari bibir Kenzo. “Tapi aku tidak terima harus merelakan Kak Lydia menikah, padahal aku belum membalas semua jasanya.”
Reino tersenyum ketika mendengar pengakuan itu. Sudah dia duga, anak ini tidak benar-benar membenci dirinya. Dia hanya bocah keras kepala yang terlalu sayang pada keluarganya.
__ADS_1
“Memangnya setelah menikah kau tidak bisa membalas budi? Masih bisa kok,” balasan dari Reino itu membuat Kenzo yang menunduk menahan tangis, kini mendonggak.
“Memangnya dia masih mau terima uangku kalau menikah dengan orang kaya sepertimu?”
“Balas budi itu tidak harus dengan materi. Banyak hal yang bisa kau berikan padanya. Misalnya jadi pria sukses dan membanggakan dalam lima tahun kedepan."
Kedikan bahu Reino sekali lagi membuat Kenzo jadi kesal setengah mati. Pria itu bicara seolah hal seperti itu sangat mudah dilakukan. Padahal dia saja belum lulus kuliah, bagaimana bisa sukses dalam lima tahun ke depan?
“Atau kalau kau merasa agak sulit, mungkin kau bisa mulai dengan mengasuh anak kami nantinya,” tambah Reino yang membuat Kenzo makin kesal saja.
“Kalian bahkan belum pergi cek ke dokter lagi. Bagaimana kau bisa seyakin itu?” hardikan Kenzo membuat Reino mendengus geli.
“Cepat atau lambat kami akan punya bayi. Percayalah bung. Kalau kau sudah menemukan wanita yang tepat, rasanya kau ingin menidurinya setiap hari.”
“Sialan.”
Lemparan bantal dari Kenzo berhasil ditangkap oleh Reino dengan sempurna. Dan ekspresi adik Lydia itu malah membuat Reino tertawa terbahak-bahak. Ekspresinya mengingatkan Reino pada wajah cemberut kekasihnya.
“Kau sangat mirip dengan Lydia. Aku langsung jadi merindukannya dan ingin menidu...”
“Berhenti mengucapkan kata-kata vulgar tentang kakakku.”
Lemparan bantal menyertai suara teriakan Kenzo. Kali ini Reino tidak berhasil menangkapnya, tapi ini cukup menyenangkan dan membuatnya tertawa. Rasanya dia jadi punya orang yang akan dia kerjai seumur hidup.
“Kau tahu, Lydia sangat suka kalau aku...”
“Berhenti brengsek.”
Kini bukan lagi bantal yang melayang, tapi pukulan. Reino yang bisa bela diri, tentu bisa menghindar dengan baik. Tapi tetap saja keributan tak terhindarkan dan itu membuat Lydia dan Liani mengetuk pintu.
“Hei, apa yang kalian lakukan di dalam?” teriak Lydia panik.
“Tenang saja. Aku hanya sedikit mengajari adikmu teknik...”
“Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak.”
Reino mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Untuk sementara dia sudah cukup mengerjai calon adik iparnya itu. Sekarang saatnya dia mengambil hati calon ibu mertua yang sepertinya akan lebih mudah karena wanita itu sangat pengertian.
“Aku heran kenapa kakakku bisa suka dengan orang aneh sepertimu,” gerutu Kenzo sebelum Reino membuka pintu kamar.
“Karena aku tampan, kaya dan hebat di atas ranjang.”
“Sialan.”
Reino masih terkekeh ketika keluar dari kamar. Dan ketika dua wanita di keluarga itu menatapnya, dia memberi tanda oke. Membuat Lydia langsung bernapas lega.
“Jadi kapan orang tuamu mau datang?”
__ADS_1
***To Be Continued***