Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Kepergok


__ADS_3

Reino tersenyum puas menatap kertas yang dia terima pada keesokan paginya. Lelaki itu bersedia membayar mahal, hanya untuk mempercepat proses tes DNA yang diminta sang istri dan hasilnya sesuai harapan.


Anak Mary bukanlah anak Reino. Itu sangat melegakan, tapi tentu tidak untuk perempuan itu. Dia kini bingung dengan identitas ayah dari anaknya, sayangnya Reino tak peduli.


“I ... ini pasti salah,” Mary tergagap saat menyanggah.


“Maaf, Bu. Hasil tes ini akurat dan hasilnya negatif.” Seorang pria berjas lab menjelaskan. Entah dia dokter atau hanya petugas medis saja.


“Kau.” Tiba-tiba saja Mary menunjuk Lydia. “Kau pasti membayar rumah sakit ini untuk memalsukan ini kan.”


“Perlu kau ketahui, bukan aku yang membayar, tapi Reino.” Tentu saja Lydia akan balas menghardik. Dia pemenangnya di sini.


Mary kemudian menatap Reino. Pria itu jelas tidak mau lagi berurusan dengan perempuan seperti mantannya itu. Perempuan yang dengan mudahnya berselingkuh ketika masih berstatus pacar. Reino yang tukang main perempuans aja tidak pernah begitu.


“Usir dia.” Reino memberi perintah pada Hadi yang juga ada di sana, sebelum merangkul istrinya untuk dibawa pergi.


Lydia sempat menoleh ke belakang, melihat bagaimana Mary terlihat histeris sendiri. Dia merasa kasihan juga ketika anak buah Hadi mulai menyeretnya keluar dari area dekat laboratorium.


“Tidak usah melihat ke belakang,” gumam Reino yang rupanya telah berhenti melangkah.


“Kenapa?”


“Masa lalu, terutama yang tidak benar tempatnya di belakang. Sementara kita harus terus maju menatap masa depan.”


Lydia mendengus mendengar kata mutiara dari suaminya itu. Rasanya baru sekali ini dia mendengar Reino mengucapkan kata mutiara yang cukup bagus. Masih terdengar gombal, tapi ada benarnya.

__ADS_1


“Sejak kapan kau jadi sok putis dan sok jadi motivator begitu?” tanya Lydia kembali melangkah.


“Aku selalu puitis sejak dulu. Itu juga yang membuatku terkenal di antara para wanita.” Reino tentu saja mengejar sang istri dan merangkul pinggang ramping perempuan itu.


“Katanya masa lalu tempatnya di belakang.” Lydia yang mood-nya sudah membaik, kini sudah bisa mengejek.


“Tapi juga bisa menjadi pembelajaran untuk menata masa depan yang lebih baik.”


Lydia tak bisa menahan tawanya ketika mendengar kalimat motivasi lain dari bibir sang suami. Sungguh, itu sangat tidak cocok denga Reino dan itu membuat Lydia tertawa. Cukup keras, sampai perutnya sakit.


“Pelan-pelan, Sayang. Nanti baby terguncang.” Reino mengingatkan.


“Okay. Terima kasih karena sudah mengingatkan, tapi bisa tolong menjauh sedikit? Kau terlalu dekat.”


“Loh? Kenapa? Bukannya kita sudah baikan?” tanya Reino terlihat bingung.


Reino memang sudah pernah meminta maaf, tapi suaranya kala itu terlalu kecil. Lydia bisa mendengarnya, tapi memilih untuk pura-pura tidak mendengar apa pun.


“Aku sudah meminta maaf, lagi pula ini kan bukan sepenuhnya salahku. Perempuan gila itu saja yang terlalu percaya diri dan ingin memisahkan kita.” Reino mulai panik ketika melihat wajah ketus sang istri.


Demi apa pun juga, kini Reino merasa tak bisa dipisahkan dari istrinya. Lydia serupa obat penenang baginya. Ketika Reino marah, dia akan luluh jika melihat sang istri. Lagi pula, dia rasanya tak bisa tidur tanpa sang istri.


Beberapa hari Lydia di rumah sakit dan marah padanya, Reino merasa tersiksa. Walau tak pernah menunjukkannya secara terang-terangan, dia sama sekali tidak senang dengan keadaan itu. Reino tak bisa tidur.


Pria itu bahkan pernah menyelinap untuk tidur di ranjang pasien. Untungnya Lydia adalah tipe perempuan yang sulit dibangunkan, jadi Reino baru akan ketahuan esok paginya. Reino tak masalah dimarahi keesokannya yang penting bisa tidur. Jadi kalau sekarang Lydia menjauh lagi, Reino mungkin akan menangis.

__ADS_1


“Sayang, jangan begitu dong.” Reino mulai memelas. “Aku akan meminta maaf berkali-kali, asal kau tidak marah lagi.”


“Hmm. Gimana ya?” Lydia pura-pura sedang berpikir.


“Aku minta maaf, atas kelakuanku dulu yang malah menyakitimu di saat ini.” Reino memelas.


Kedua alis Lydia terjungkit naik. Dia agak terkejut juga melihat Reino yang memelas. Itu terlihat lucu sekali, Lydia jadi tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Awalnya sih Reino bingung, tapi kemudian sadar dengan cepat.


“Kau mengerjaiku?” tanya pria itu dengan mata membulat. “Kau berani mengerjaiku?”


“Ya. Memang kenapa? Tidak boleh?” tanya Lydia berusaha keras menahan tawa.


“Ya. Karena itu membuatku cemas.” Reino sebenarnya kesal, tapi sudahlah. Lebih baik dia dikerjai, dari pada lydia marah-marah tidak jelas.


“Jadi kau sudah tidak marah?” Reino kembali bertanya setelah mereka sudah berada di area parkiran rumah sakit. Kebetulan hari ini Lydia sudah diizinkan pulang.


Sebenarnya Lydia sudah bisa pulang sejak kemarin, tapi Reino menahan. Dia ingin istrinya istirahat sehari lagi di rumah sakit.


“Tidak sebelum kau membelikanku es krim yang selalu ramai itu. Kalau tidak salah ada di sekitar sini deh.” Lydia terlihat mencebik memikirkan rasa es krim yang manis. Dia sudah ngiler.


Untung saja, Reino segera mengiyakan. Dia yang hari ini sudah mengajukan cuti, segera mencari tahu apa yang istrinya inginkan. Hari ini dia juga ditemani sopir dan pengawal lain karena Hadi tentu masih harus istirahat.


Namun siapa sangka, Reino dan Lydia malah bertemu dengan Hadi yang sedang asyik berkencan dengan seseorang. Terlebih di gerai es krim yang didatangi mereka.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Reino dengan tatapan horor.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2