
“Will you mary me?” Hadi bertanya sambil berlutut dengan satu kaki dan cincin di tangannya yang tak terluka.
Pria itu langsung melakukannya ketika balapan sudah selesai, dengan dirinya sebagai pemenang. Hal yang sudah dipersiapkan sejak lama, namun baru bisa terlaksana sekarang.
“Oh, yang benar saja.” Kenzo mengeluh setelah sang ibu menjawab ‘yes’ dan memeluk Hadi.
“Ya. Ini sama sekali tidak lucu,” gumam Reino jelas ikut merasa kesal.
“Kenapa kau ikut kesal? Padahal bukan ibumu yang dilamar pria tak dikenal.”
“Karena yang melamar itu karyawanku. Bayangkan bagaimana kau bekerja dengan ayah mertuamu.”
Kenzo melebarkan bibirnya karena terkejut baru mengingat hal itu. Rasanya itu akan sangat canggung.
“Kau sendiri? Kenapa tak suka pada Hadi?” tanya Reino menyaksikan semua orang berbahagia atas lamaran itu. Rasanya hanya dia dan Kenzo yang tidak.
“Karena aku tidak ingin Mama kecewa lagi. Aku tidak ingin lelaki yang Mama nikahi sama bodohnya dengan almarhum papaku.”
“Wah, durhaka sekali ya.” Reino jelas akan mengejek.
“Memang. Soalnya hidup kami jadi berantakan ya karena Papa.” Kenzo mengedikkan bahu dengan santainya. “Tapi kalau begini aku bisa apa?”
“Ya. Kita tak bisa apa-apa dan hanya bisa mengharapkan yang terbaik.”
Kalimat dari Reino mengakhiri obrolan itu karena Lydia menarik suaminya untuk merayakan kebahagiaan sang ibu. Sebagai suami dan mantu yang baik, tentu saja Reino ikut bergabung. Itu membuat Kenzo juga terpaksa ikut bergabung. Dia tak ingin terlihat menggenaskan seorang diri.
***
“Pak Hadi romantis banget ya, Kak.” Lydia berbaring di pangkuan suaminya, sedang ingin bermanja. Mereka sekarang sedang ada di dalam kamar.
__ADS_1
“Oh, ya? Perasaanku biasa saja.” Reino mengedikkan bahu, tanpa melihat sang istri. Dia sedang sibuk melihat email yang masuk lewat tabletnya.
“Ck. Ini nih yang paling aku tidak suka darimu. Sama sekali tidak romantis dan tidak peka.”
“Tapi setidaknya aku hebat di ranjang kan?” tanya Reino yang membuatnya langsung mendapat pukulan di perut.
“Why?” Reino bingung karena dia dipukul.
“Apa otakmu hanya ada di ************ saja?” Lydia mendesis kesal dan bangun dari posisinya. “Tidakkah kau merasa dirimu mesum?”
“Sama sekali tidak.” Reino memandang istrinya dengan senyum mengejek.
“Oh, dasar tidak tahu malu.” Lydia beranjak dari atas ranjang. “Tiba-tiba saja aku merasa malu menjadi istrimu.”
“Kenapa seperti itu?” Reino meletakkan tabletnya di atas nakas. “Aku kan hanya memikirkan ************ milikmu, bukan orang lain.”
“Stop it, Rei. Kau membuatku merasa seperti perempuan murahan yang dinikahi hanya untuk kepuasannmu.”
“Lepasin, Rei. Aku sedang marah padamu.” Lydia menggeliat, tapi pelukan suaminya malah mengerat.
“Kenapa panggilnya Rei lagi sih?” Lelaki itu berbisik di telinga sang istri. “Aku suka ketika kau memanggilku ‘Kak.’”
“Karena aku sedang kesal padamu. Sekarang menjauhlah. Aku tidak ingin dekat-dekat denganmu.” Lydia kembali menggeliat, tapi tetap tidak berhasil.
“Jangan terlalu banyak bergerak, Sayang. Nanti bayi kita bisa sesak napas.” Reino masih terus berbisik.
Jujur saja, Lydia merinding. Bibir Reino yang berada di telinganya, menyentuh daun telinganya sekilas. Belum lagi dengan hembusan napas Reino yang terasa hangat. Itu bisa membuat Lydia kehilangan akal sehat.
“Menjauhlah, Rei.” Lydia jadi ikut-ikutan berbisik. Itu terjadi secara spontan dan tanpa direncanakan.
__ADS_1
“Kenapa harus menjauh? Aku suka posisi seperti ini.” Reino tetap menggoda istrinya.
“Tapi aku merasa sesak dan geli.” Lydia mencoba menggerakkan bahunya, agas sang suami menjauh.
Namun bukannya menjauh, Reino malah beralih mengecup pundak istrinya. Dia melakukan itu dengan pelan dan khidmat.
“Rei.” Lydia jelas menegur, apalagi ketika tangan suaminya sudah mulai mengelus perutnya. “Aku sedang tidak ingin.”
“Hm? Kau tidak ingin apa?” tanya Reino terus menggoda.
“Berhentilah pura-pura bodoh dan lepaskan aku. Aku akan marah kalau kau memaksa.”
Reino langsung melepas pelukannya dab mengangkat tangan ke udara, begitu mendengar ancaman itu. Untuk saat ini dia tak ingin membuat istrinya itu mengamuk.
“Maaf.” Hanya itu yang Reino bisa katakan.
Lydia yang masih kesal berdecak dan memilih untuk naik ke atas ranjang. Dia lelah menghadapi suaminya yang menyebalkan itu.
“Aku berharap suamiku seromantis Pak Hadi.” Lydia masih sempat mengatakan itu, sebelum menarik selimut.
“Sayang, jangan begitu dong.” Merasa istrinya ngambek, Reino menyusuk masuk dalam selimut. Sayangnya dia malah diberi punggung oleh Lydia.
“Kau ingin aku berbuat apa?” Reino berusaha mencari tahu. “Apa kau ingin bunga atau cincin lagi?”
“Sayang?” Reino memanggil karena tak ada jawaban.
“Oh, ya Tuhan! Dia malah tidur.” Reino menggerutu melihat sang istri yang sudah lelap.
Tidak punya pilihan lain, Reino akhinya memutuskan untuk tidur juga. Hari memang sudah cukup malam dan memeluk Lydia saat tidur adalah hal yang paling menyenangkan.
__ADS_1
Namun siapa yang sangka. Baru juga sebentar tertidur, Reino sudah dibangunkan oleh sang istri dengan cara yang paling sensual. Entah karena hormon atau apa, tapi perempuan itu tiba-tiba ingin bercinta. Tentu saja Reino tak akan menyia-nyiakan kesempatan.
***To Be Continued***